Sabtu, 13 Februari 2016

Wak Geng and The Geng 7 - Bermalam di rumah Ayu

Wak Geng and The Geng

Bermalam di rumah Ayu


“Loh! Ini kan simpang yang tadi, kok bisa jumpa lagi? Jangan-jangan aku salah arah? Tapi, kayaknya gak salah kok, aku yakin banget kalo tadi aku jumpa simpang yang ini, buktinya tiang listriknya masih ada di sini, berarti aku gak salah jalan dong. Baiklah, aku gak boleh menyerah, mungkin kafenya ada di depan sana, aku tinggal jalan beberapa puluh meter lagi dan aku pasti akan sampai di kafe. Semangat Nang, sebentar lagi kau akan sampai”.


Taunang mencoba menyemangati dirinya sendiri meskipun sebenarnya ia sudah tahu kalau ia sedang tersasar, ia tetap bersikeras untuk melanjutkan perjalanan ke arah yang menurutnya benar.
Akan tetapi, setelah mencoba melanjutkan perjalanannya kembali sejauh ratusan meter, Taunangpun akhirnya mulai merasa putus asa juga. Meskipun Taunang orang yang sangat keras kepala dan sangat bersemangat, namun ia tidak dapat memaksa tubuhnya untuk bergerak lebih jauh lagi, iapun kemudian berhenti di sebuah komplek pertokoan untuk beristirahat.


“Heran, udah sejauh ini aku jalan kok kafe Wak Geng gak kelihatan juga ya? Dan anehnya lagi, di daerah sini kenapa setiap simpang ada tiang listriknya ya? Kayaknya aku beneran nyasar nih. Gawat, bisa tidur di luar lagi aku malam ini. Tapi, ya sudahlah, gak ada gunanya juga aku mengeluh, lebih baik aku istirahat dan tidur di teras toko itu aja, kayaknya di sana lumayan bersih, tinggal nyari alasnya doang nih”


Taunang kemudian berjalan mengitari sekitar daerah tersebut untuk mencari kardus yang akan dijadikannya alas tidur, setelah beberapa saat iapun berhasil menemukan sebuah kardus di dalam keranjang sampah.


“Ada kardus nih, masih bersih lagi. Syukurlah! Lumayan buat dijadiin alas tidur, ya biarpun sedikit bau tapi gak masalah, yang penting masih bisa dipakai. Oke, tinggal aku bentangin kayak gini, seeet, terus aku tidurin deh. Aaaahh!! Leganya!! Ahirnya aku bisa juga ngelurusin badan”.


Segera Taunang merebahkan tubuh lelahnya di depan teras toko tersebut, dengan hanya beralaskan selembar kardus Taunang mulai memejamkan kedua kelopak matanya sehingga tak berapa lama kemudian ia pun tertidur pulas. Taunang memang merasa sangat lelah, sebab selain banyaknya pelanggan kafe yang harus ia layani, ini juga merupakan hari pertamanya bekerja sehingga tubuhnya belum terbiasa untuk melakukan aktivitas sebanyak itu..

Meskipun udara terasa begitu dingin dan beberapa ekor nyamuk sedari tadi menggigitinya, namun Taunang nampak tak terganggu dengan keadaan di sekitarnya. Tubuhnya benar-benar lelah untuk terganggu akan hal-hal kecil seperti itu, bahkan ia malah terlihat terlelap di atas permadani kardusnya.


“Nang!! Nang!”.


Samar-samar telinga Taunang menangkap sebuah suara yang memanggil-manggil namanya. Ia mencoba untuk bangun dan membuka kedua matanya, namun hal tersebut urung dilakukan karena matanya masih terasa begitu berat untuk diangkat, Taunangpun memejamkan matanya kembali. Akan tetapi dengan ekspresi muka kaget, Taunang tiba-tiba langsung bangkit dan berdiri.


“Aku kan orang baru di sini, mana mungkin ada yang kenal samaku, apalagi tau namaku”. Ujar Taunang di dalam hati.


Dengan mata besarnya, Taunang mencoba memperhatikan keadaan di sekitarnya dengan seksama, matanya memang belum bisa menemukan pemilik suara yang memanggil-manggil namanya tersebut, namun tetap saja dengan cepat mata tersebut menelusuri dengan teliti setiap sudut yang ada di sekelilingnya guna mencari siapa orang yang memanggil namanya tadi. Tiga menit sudah ia mencoba melihat dan memperhatikan daerah sekelilingnya, namun juga ia berhasil menemukan dari mana suara itu berasal. Hingga pada akhirnya ia mengambil sebuah kesimpulan kalau itu hanyalah halusinasinya saja.


“Gak ada siapa-siapa. Ah! Mungkin cuma perasaanku aja, paling-paling juga suara kodok lagi minta hujan. Yosh! Waktunya ngelanjutin tidur di kasur terempuk sedunia, selamat malam!!”. Ujar Taunang


Taunang kembali merebahkan diri di atas kardusnya, namun belum sempat ia menutup kedua matanya kembali, tiba-tiba terdengar lagi suara yang memanggil namanya.  Ia sadar kalau kali ini ia tidak sedang berhalusinasi, sebab suara itu terdengar cukup jelas di kedua telinganya, dan kali ini ia juga bisa memastikan bahwa suara itu adalah suara seorang perempuan.


“Nang! Nang! Taunaaang!!”.

“Oi! Siapa itu? Hantu ya? Hantu dari jenis kuntilanak atau sundel bolong? Ada apa kok manggil-manggil nama saya? Dan dari mana kamu tahu nama saya sedangkan saya aja gak tahu nama kamu? Kalau mau kenalan besok siang aja ya, saya ngantuk nih, pengen tidur. Jangan ganggu dulu ya, mohon kerjasamanya, terima kasih. Oh iya, Kamu jangan pergi dulu ya Hantu, tolong jagain saya, saya paling takut sama hantu, jadi kalau ada hantu lain yang mendekati saya tolong bilangin saya lagi gak mau diganggu. Terima kasih”.

“Aku bukan hantu loh Nang, aku Ayu”.

“Bwahahaha! Dasar hantu goblok! Kamu fikir saya akan tertipu dan percaya kalau kamu itu kak Ayu dan bukan hantu? Udah deh, saya lagi gak pengen bercanda loh Hantu yang ngaku sebagai kak Ayu. Kalo Hantu yang ngaku sebagai kak Ayu mau kenalan sama saya, besok pagi aja ya sekalian saya juga mau minta tolong sama kamu buat nganterin saya ke kafe Wak Geng, saya lagi nyasar nih”.

“Nang, ini beneran aku. Ayu. Kau liat di depan kau ada patung kuda kan? Coba kau jalan ke arah sana, aku ada di balik patung kuda itu”. Ujar Ayu sambil setengah berbisik

“Apa? Agak kencengan dikit ngapa ngomongnya wahai hantu yang ngaku sebagai kak Ayu, gak kedengeran jelas nih”.

“BANYAK TANYA, CEPAT KE SINI!!”.

“I..iya, Saya akan segera ke sana. Kalo ini gak salah lagi, ini pasti suara kak Ayu”.


Taunang langsung buru-buru berjalan ke arah asal teriakan tadi karena memang ia yakin suara tersebut adalah suara Ayu, dan benar saja, setelah melewati patung kuda yang terletak di tengah-tengah sebuah simpang empat, ia menemukan Ayu sedang berdiri di sana sambil memegang sebuah bungkusan plastik berwarna hitam.


“Eh kak Ayu, haha. Maaf kak, tadi saya fikir yang manggil-manggil nama saya itu hantu yang menyamar jadi kakak, ternyata beneran kak Ayu”.

“Enak aja bilang aku hantu, ya cantikan aku lah. Aku ini Ayu beneran loh Nang, kalo gak percaya liat nih kakiku, masih nginjek tanah kan?”.

“Eh, iya juga sih, memang masih lebih cantik kak Ayu sedikit dari pada hantunya”.

“Sedikit? Maksudmu?. Ish..udah ah, ternyata kau itu ngeselin ya Nang”.

“Hehe, becanda loh kak. Oh iya, ngomong-ngomong kakak ngapain di sini sendirian, malam-malam lagi, apa kakak gak takut diculik sama penjahat?”.

“Eng, enggak, enggak ngapa-ngapain, cuma kebetuln lewat dari sini aja, eh kebetulan jumpa sama kau”.

“Beneran kak? Bohong berdosa loh”.

“Iya..iya. Aku ngaku deh. Jadi gini, aku kan biasanya pulang dari kafe tuh barengan sama Dwi. tapi berhubung aku masih segan sama Dwi karena udah marah-marahin dia tadi jadi aku gak berani ngajak dia pulang bareng. Aku sih sebenarnya pengen minta bang Nindrong buat nganterin aku pulang, tapi dia udah pergi duluan sama kak Molin. Jadi, mau gak mau terpaksa deh aku pulangnya ngikutin kalian berdua karena aku fikir kau akan nganterin Dwi ke rumahnya, eh gak taunya malah ke rumah sakit, dan setelah pulang dari sana kau malah jalan mutar-mutar gak tentu arah dan malah tiduran di depan teras toko”.

“Loh, jadi dari tadi kak Ayu ngikutin saya dan mbak Dwi ya? Hahaha. Kak Ayu sih gak ngomong ke saya kalau mau dianterin pulang, kalo tau gitu kan kami tadi jalan ke arah rumah kak Ayu dulu. Iya saya lupa jalan pulang kak, namanya juga orang baru di sini. Oh iya, kenapa kakak gak minta dianterin sama Bulwan kak? Dia kan gak nganterin siapa-siapa tuh jadi saya rasa kakak bisa minta tolong sama dia kak”.

“Ahahaha, Enggak deh, bang Bulwan kan orangnya sibuk banget, aku gak mau ngerepotin dia”.

“Oh gitu, emm, yaudah yuk saya anterin ke rumahnya kak Ayu. Tengah malam kayak gini biasanya banyak penjahat berkeliaran kak, bahaya loh, udara di luar juga dingin banget, gak baik buat kesehatan kakak, mari biar saya antar”.

“Emm, baiklah. Tapi kau jangan macam-macam sama aku ya, kalau kau berani macam-macam aku hajar kau sampai babak belur”.

“Widih, galak amat! Enggak kok kak, saya gak akan berani ngapa-ngapain kakak, tenang aja”.

“Yaudah, kalau gitu ayok kita jalan, Tapi ingat, aku jalan di depan dan kau harus selalu di belakang. Ikuti aku biar kau gak tersesat lagi, mengerti?”.

“Mengerti kak”.

“Yaudah, yok jalan!!”.


_____



“BESARNYAAA!!! I..i..ini rumah kakak? Widih, gede amat, kayak istana. Buseeet!! Berapa orang ya yang bisa tidur di dalamnya ini. Ckckck. Udah halamannya luas, rumahnya besar, kelihatan mewah lagi. Widih!! Ternyata kakak orang kaya toh? Hebat banget ya bisa punya rumah segede ini”.

“Ini bukan punya aku, tapi rumah orang tua aku, aku di sini cuma numpang. Yaudah yuk masuk, biar aku buatin minuman hangat supaya kau gak kedinginan”.

“Ma..masuk? Boleh nih kak? Anu, saya langsung pamit aja ya kak, saya gak enak nih sama orang tuanya kakak”.

“Boleh, udah masuk aja, gak usah sungkan. Orang tua saya juga lagi gak ada di rumah, mereka lagi keluar kota”.

“Lagi gak di rumah? Berarti kakak sendirian aja? Enggak kak, saya pulang aja. Maaf saya menolak kebaikan kakak tapi saya gak mau tetangga kakak menuduh yang enggak-enggak. Kalau gitu saya permisi balik ke kafe dulu ya kak, selamat malam!”.

“Eh Nang, tunggu...”.


Ayu menarik lengan Taunang tepat di saat Taunang akan pergi. Dipegangnya tangan Taunang dengan erat sehingga membuat langkah Taunang terhenti. Selama beberapa detik Taunang dan Ayu saling bertatap mata tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing,  sampai pada akhirnya Ayu mulai membuka pembicaraan.


“Nang! Tunggu dulu, aku..aku..Maafin aku ya Nang, gara-gara aku kau jadi dipukul ole bang Bulwan, aku lah yang harusnya kena marah bang Bulwan, bukan kau. Aku mohon kau jangan pergi dulu Nang, izinkan aku untuk mengobati luka di pipi kananmu itu Nang. Aku mohon kasih aku kesempatan untuk menebus kesalahanku sebelumnya. Ya, ya, plissss”.

“Duh, gimana ya kak. Saya sebenarnya bukannya gak mau main ke rumah kakak, tapi saya gak enak nih sama tetangga kakak, saya takut timbul fitnah. Kalo tetangga sekitar tau saya sedang ada di dalam rumah kakak jam segini, bisa-bisa kita dituduh yang enggak-enggak kak, apalagi di rumah juga gak ada siapa-siapa, kakak juga yang rugi nanti. Jadi saya balik ke kafe aja ya, saya udah maafin kakak kok, dari awal juga saya sama sekali gak marah dan nyalahin siapapun atas kejadian tadi. Jadi kakak gak perlu minta maaf sama saya”.

“Tapi Nang, aku tuh cuma mau menebus rasa bersalahku doang, gak lebih. Kalo gak gini aja, kita duduk sebentar di ayunan di taman rumahku ya, sambil kita minum minuman hangat dan mengobati lukamu, setelah itu kau boleh pulang, gimana? Mau kan?”.

“Tapi kak, ini udah larut malam loh, lebih bagus saya balik aja ya ke kafe kak, saya beneran gak enak nih kalo...”.

“Nang, aku memaksa!! Kau boleh kok langsung balik ke kafe, tapi setelah kau kubuatkan minuman untuk menghangatkan tubuhmu dan aku selesai mengobati lukamu”.

“I..iya..ya udah deh, terserah kak Ayu aja”.

“Kalo gitu, kau duduk dulu di ayunan itu ya, sambil menunggu aku buatin minum dan mengambil obat merah. Kalo gitu aku masuk dulu, ingat! Jangan pergi atau aku akan sangat marah samamu”.


Sementara Ayu masuk ke dalam rumahnya, Taunang segera berjalan ke arah taman yang ditumbuhi berbagai tanam hias berharga mahal nan cantik yang tertata rapi tersebut. Beberapa lampu taman juga sengaja diletakkan di beberapa titik strategis yang berguna menerangi pekarangan, menambah cantik pemandangan halaman rumah tersebut ketika malam hari. Di tengah-tengah taman, terdapat sebuah kolam berukuran 5x5 meter dengan sebuah patung putri duyung yang sedang membawa kendi yang terletak di tengah-tengah kolam. Sementara itu di dasar kolam terdapat puluhan ekor ikan mas yang sedari tadi terus berenang tak tentu arah, melenggak-lenggokkan ekor dan siripnya ke kiri dan ke kanan, seolah sama sekali tak mempedulikan kehadiran Taunang yang sedari tadi memperhatikan mereka dari pinggir kolam. Setelah cukup puas melihat-lihat keindahan halaman rumah tersebut, Taunangpun duduk di sebuah ayunan yang letaknya tepat berada di samping kolam.

Beberapa menit sudah berlalu, namun Ayu tak juga muncul dari dalam rumah sehingga membuat Taunang sedikit bosan, dengan sedikit menggerakkan ayunan tersebut ke depan dan ke belakang, ia kemudian menengadahkan kepalanya ke atas untuk melihat indahnya langit. Malam itu rembulan memang tak bersinar terlalu terang, akan tetapi jutaan bintang tetap setia menemani sang malam dengan keindahan kerlap=kerlip cahayanya. Keindahan tersebut nampaknya membuat Taunang larut dalam lamunan, diiringi dengan suara gemericik air yang berasal dari kolam Taunang mulai mengingat ulang apa saja yang telah dialaminya dalam dua hari ini. Mulai dari saat ia tersasar ke kota Siantar, menumpang dari satu kendaraan ke kendaraan lain untuk bisa sampai ke kota Medan, bertemu dan berkenalan dengan wak Geng dan pekerja-pekerja lainnya, diusilin oleh Nindrong dan Bulwan, berbelanja ke pasar, diajari cara melayani pelanggan dengan baik dan benar, dipukul oleh Bulwan, hingga akhirnya ia lagi-lagi tersasar dan dibawa oleh Ayu ke rumahnya. Taunang sedikit heran karena entah mengapa dua hari ini terasa begitu panjang untuknya, begitu banyak hal yang sudah ia lalui dalam rentang waktu dua hari ini. Tapi ya sudahlah, Taunang tidak ingin terlalu memikirkan hal tersebut, baginya kini yang terpenting adalah bagaimana caranya agar ia dapat terus bekerja sebaik mungkin di kafe wak Geng, ia ingin membayar kepercayaan yang telah diberikan oleh wak Geng dan Bulwan kepadanya. Ia ingin agar ia dapat selalu bekerja bersama dengan sahabat-saha.....


“Nang! Nang! Bangun Nang!”.

“Naaang!! Bangun!! Kok malah tidur di sini sih? Bangun dong! Nang!! Nang!! Naaang!!”.

“Eh!! Kak Ayu, maaf kak saya ketiduran, hehe”.

“Iya, gak apa-apa, pasti karena aku kelamaan ya buatin minuman hangatnya. Maaf juga ya”.

“Gak kok, kakak gak salah, sayanya aja yang tadi kecapekan, jadi pas ada waktu nyantai dikit langsung ketiduran deh”.

“Oh gitu, yaudah deh kalo gitu sekarang, nih! Ini minumannya, langsung diminum ya biar tubuhmu juga hangat, sekalian juga biar kau juga gak masuk angin”.

“Widih, wedang jahe!! Pas banget nih kalo diminum dingin-dingin kayak gini. Makasih ya kak, duh jadi ngerepotin kakak nih, maaf ya kak”.

“Apa sih Nang? Dari tadi minta maaf melulu, enggak kok, aku gak merasa direpotin. Yaudah diminum tuh minumannya, nanti keburu dingin loh”.

“Iya kak, kalau gitu saya minum ya, SLUUURRPPP!! Ah, enak kak, mantap belum pernah saya minum wedang jahe seenak ini sebelumnya!!”.

“Wah syukurlah kalo kau suka, biasanya sih gak ada yang pernah suka dengan minuman atau makanan yang aku bikin, bahkan kucing peliharaanku aja kemarin opname 3 bulan dan harus cangkok ginjal akibat makan makanan yang aku masak. Sebenarnya rencananya tadi tuh aku mau buat susu coklat panas, cuma aku berinovasi dan nambahin ekstrak jahe ke dalamnya biar lebih enak dan hangat, eh ternyata kau suka, haha, syukurlah”.

“Iya kak, haha, kok kebetulan banget ya bisa enak kayak gini, kakak memang hebat! Minuman buatan kakak memang mantap bange.......”.

“Loh, Nang! Nang!! Kok malah pingsan, Naaang!!”.


_____


KUKURUYUUUKKK!!! KUKURUYUUUKKK!!! KUKURUYUUUKKK!!!

Meski sang mentari masih belum mau menampakkan wujudnya secara utuh, namun kokok sang ayam jantan perlahan-lahan mulai terdengar menyeruak damainya pagi seolah menjadi alarm untuk membangunkan jiwa-jiwa yang masih terlelap dari mimpi panjangnya yang indah. Sementara itu kicau burung juga mulai terdengar, menambah ramai suasana pagi hari yang indah.
Gagahnya suara kokok ayam jantan dan ramainya bunyi kicauan burung-burung di pagi tersebut rupanya membuat Taunang terusik, dengan mata yang masih terpejam ia mengernyitkan dahinya dan berusaha untuk memulihkan kesadarannya. Perlahan namun pasti ia membuka kedua matanya dan samar-samar ia melihat sebuah patung putri duyung yang sedang membawa kendi berada tepat di depannya. Bahunya terasa sedikit berat, dialihkannya pandangannya ke sebelah kanan dan ia melihat seseorang berambut panjang berwarna hitam kecokelatan tengah menyenderkan kepala di pundaknya. Kesadaran Taunang belum sepenuhnya pulih dan suasana di luar ruangan juga saat itu masih cukup gelap sehingga Ia kemudian memutuskan untuk menarik selimut, memejamkan matanya kembali, dan mencoba untuk kembali tidur.

Namun, tak sampai semenit sejak Taunang mencoba memejamkan matanya kembali tiba-tiba ia langsung terbangun dengan mata yang terbuka lebar. Taunang mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi tadi malam hingga sampai-sampai ia bisa tidur di ayunan dan alangkah berdebarnya jantung Taunang ketika ia mulai menyadari bahwa orang yang tidur dengan menyenderkan kepala di pundaknya tersebut adalah Ayu. Ia langsung salah tingkah, keringatnya langsung mengucur deras dan jantungnya berdegup sangat kencang. Ia takut kalau-kalau ada orang yang melintas dan melihat mereka sedang berduaan seperti itu. Tak mau berlama-lama, Taunang kemudian bermaksud untuk membangunkan Ayu, namun melihat wajah polos gadis tersebut saat tengah tidur, tak tega rasanya jika ia harus berbuat demikian. Taunangpun kemudian mencoba untuk bangkit secara perlahan-lahan tanpa membuat gerakan atau suara yang dapat membuat gadis tersebut terbangun.


“Maaf ya kak, kalau harus pegang-pegang kepala kakak, bukan bermaksud enggak sopan, saya cuma mau ngelurusin kepala kakak doang, maaf banget!!”. Ujar Taunang sembari berbisik.


Dipegangnya kepala Ayu dengan kedua tangannya kemudian dengan hati-hati meluruskan posisi kepala Ayu ke sandaran yang ada di ayunan. Taunang bangkit dan kemudian merapikan selimut yang menutupi badan Ayu. Sama seperti Taunang, Ayu juga tidur dalam posisi duduk di ayunan, hanya saja kepala Ayu menyandar tepat di lengan bagian atas atau pundak dari Taunang. Taunang kembali merapikan selimut yang menutupi tubuh gadis tersebut, kali ini ia merapikan bagian kaki sehingga fokus pandangannya kali ini hanya pada kaki Ayu. Setelah selesai menutupi kaki Ayu dengan selimut Taunang kemudian menengadahkan kepalanya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat ternyata Ayu sudah menatapnya dengan tatapan yang tajam.


Senin, 01 Februari 2016

Wak Geng and The Geng 6 - Siapa yang bersalah dan siapa yang pura-pura bersalah

Wak Geng and The Geng

Siapa yang bersalah dan siapa yang pura-pura bersalah

“Sebenarnya Putri tau kronologi kejadian di kafe tadi, dan Putri juga tau siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa yang sebenarnya pura-pura bersalah”.


Sebenarnya Molin dan Nindrong sudah bisa menebak ke arah mana Putri akan melanjutkan kalimatnya, namun mereka sengaja berpura-pura tak tahu apa-apa agar Putri tak curiga dan mau menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada mereka berdua.


“Tunggu, tunggu, tunggu, yang sebenarnya bersalah dan yang sebenarnya pura=pura bersalah? Maksudnya gimana Put? kakak gak ngerti nih, Nindrong juga keliatannya bingung tuh, ya kan Ndrong?”.

“Iya nih Lin aku jadi bingung, maksudnya apa ya Put? Tolong jelasin dong ke kita biar kita lebih paham”.

“Maksudnya Putri gini loh, Putri tadi kan liat dengan mata kepala Putri sendiri keributan di kafe itu dari mulai Dwi masuk sampai bang Bulwan memukul Taunang, jadi Putri itu tau kalo Taunang sebenarnya bukanlah orang yang memarahi Dwi, jadi Taunang sama sekali gak bersalah. Pokoknya kejadian yang sebenarnya itu beda banget sama yang diceritain Taunang”.

“Duh, kakak jadi masih bingung nih Put. Bisa ceritain gak gimana kejadian yang Putri lihat tadi ke kakak dan Nindrong dari awal sampai akhir? Soalnya kalo Putri ceritanya sepotong-sepotong kayak gitu, kami berdua jadi makin bingung nih”. Tanya Molin penasaran.

“Emm..Boleh aja sih, cuma kakak dan abang janji ya untuk gak ceritain ini ke siapa-siapa, termasuk ke bang Bulwan. Putri takut bang Bulwan akan marah sama Putri karena Putri dianggap udah nyembunyiin fakta. Putri juga takut kak Ayu dan Dwi marah sama Putri, Jadi sebelum Putri ceritain, Putri mau bang Nindrong dan kak Molin janji dulu ke Putri untuk gak cerita atau ngasih tau apa yang akan Putri bilang ini ke bang Bulwan, gimana? Bisa?”.

“Iya iya, bisa..bisa..Kami janji deh. Yaudah cepat ceritain Put, soalnya kita udah deket tuh sama kost-kostan kita”. Kata Molin, sementara itu Nindrong hanya diam dan tak mengatakan sepatah katapun

“Jadi ceritanya gini...”.


Putri kemudian menceritakan tentang apa yang ia lihat di kafe tadi secara detail kepada Nindrong dan Molin, tanpa ia sadari ternyata sedari tadi Nindrong tengah merekam ceritanya tersebut melalui handphone yang disembunyikan di kantung celananya.


“Gitu ceritanya. Kak Molin, bang Nindrong. Maaf ya waktu kejadian tadi Putri tadi cerita, Putri sebenarnya gak tega lihat Taunang dipukul bang Bulwan, tapi Putri juga gak punya keberanian buat cerita ke bang Bulwan karena Putri...”.

“Udah..udah, gak usah dilanjutin lagi Put, abang ngerti kok, abang juga mungkin akan melakukan hal yang sama kalau sedang berada di posisi Putri. Oh iya, kita udah nyampe nih di dekat kost-an kalian, abang nganterinnya sampai sini aja ya, gak apa=apa kan?”.

“I..iya bang, sampai sini juga gak apa-apa kok, hehe. Makasih banyak ya bang udah mau nganterin Putri pulang. Oh iya, hampir aja lupa, Putri mohon kak Molin dan bang Nindrong, mau menjaga rahasia ini ya, jangan sampai cerita Putri ini terdengar oleh bang Bulwan. Tolong ya kak, bang”.

“Iya..iya. Tenang aja, kakak akan jamin kalo rahasia ini akan selalu aman di tangan kami”.

“Makasih banyak ya kak Molin. Emm..Kalau gitu Putri pamit duluan ya, sampai ketemu besok bang Nindrong dan kak Molin, Permisi!!”.


Dengan setengah berlari Putri pergi menuju ke tempat kostnya yang berjarak hanya beberapa puluh meter dari tempat kost Molin, meninggalkan Nindrong dan Molin yang masih berdiri di tengah gelapnya malam.


“Lin, kalo gitu aku juga pamit ya, aku ngantuk nih, lagian aku juga takut kalau si Bulwan udah tidur. Biasanya sih aku selalu bawa-bawa kunci serep kafe, tapi kali ini aku lupa karena tadi aku buru-buru mau nganterin kau. Aku segan kalo harus gedor-gedor dan teriak-teriak ngebangunin Bulwan, gak apa=apa kan?”.

“Yaudah, gak apa-apa, makasih ya udah mau nganterin. Emm, beneran nih mau cepat-cepat pulang? Gak mau digoyang dulu? Gak mau dengerin suara emas dari diva idolamu ini? Mumpung gratis loh, eksklusif lagi. Udah, gak usah nolak, aku rela deh show tengah malam cuma untukmu, karena kau tuh udah aku anggap sebagai fans sejati aku. Jadi, kau mau request lagu apa Ndrong? Bilang aja, jangan sungkan”.

“Wanjir, geli aku ngebayanginnya, coeg sekali tawaranmu Lin, bisa merinding disko aku kalo ngeliat kau joget sambil nyanyi-nyanyi tengah malam gini. Gak usah Lin, gak usah. MAKASSEH!!”.

“Yaudah deh kalo kau gak mau digoyang malam ini, aku yakin kau gak mau ngerequest lagu karena gak tega kan liat aku harus nyanyi dan joget-joget malam-malam gini? Udah deh ngaku aja, gak usah malu-malu gitu Ndrong. Segitu perhatiannya kau sama idolamu ini, hiks, jadi terharu aku”.

“Aku? Malu-malu? Aku itu bukan malu-malu, tapi memang beneran malu punya kawan kayak kau Lin. Duh! Kayaknya besok aku harus ke dokter THT nih Lin, kupingku harus diservis nih gara-gara tiap hari aku harus selalu dengarin nyanyianmu. Udah ah, aku pulang ya, bisa stres lama-lama aku kalo di sini terus”.

“Ett..tet..tet..tet..tet..tunggu dulu dong. Oke..oke, kali ini aku serius, ini berkaitan dengan apa yang dibilang Putri barusan. Aku melihatmu memasukkan tangan kananmu ke kantung celana di saat Putri mulai bercerita, jadi aku yakin kalau kau merekam apa yang disampaikan oleh Putri tadi. Aku juga tidak ingat kalau kau ikut berjanji ketika Putri meminta kita berdua untuk tidak memberitahukan cerita itu kepada Bulwan. Jadi apa kau akan memberitahu Bulwan tentang kejadian yang sebenarnya, Ndrong?”.

“Jadi kau melihatnya Lin? Tapi sudahlah, aku tidak terkejut kalau kau memperhatikan hal sedetail itu. Emm, entahlah Lin, aku juga bingung. Aku akan memutuskan akan kuapakan rekaman ini dalam beberapa hari ke depan, untuk saat ini aku akan tetap menyimpannya di handphoneku. Yaudah, udah hampir jam satu malam nih, aku pamit dulu ya. Selamat malam Lin”.
“Baiklah, tapi aku harap kau bisa mengambil keputusan yang terbaik. Selamat malam juga Ndrong”. Ujar Molin.

_____


“Nah, sekarang kita udah sampai Nang, di rumah sakit ini nih bapaknya saya dirawat”.

 “Oh, jadi ini toh rumah sakitnya, ternyata gak terlalu jauh ya dari kafenya Wak Geng, cuma jalan sekitar 20 menit udah nyampe”.

“Iya, lumayan dekat sih. Yaudah, kalo gitu sekarang kita masuk ke ruangannya bapak yuk!”.

“Masuk ke ruangannya bapak Mbak Dwi? Loh tapi kan, saya..anu..saya itu..nganu..emm, kayak mana ngomongnya ya? Saya itu kan..”.

“Gak apa-apa loh Nang, gak usah khawatir, masuk aja yuk, sekalian biar kamu bisa saya kenalin ke bapak dan ibu saya. Kamu tenang aja, saya akan bilang ke pihak rumah sakit kalo kamu itu keluarga saya yang baru datang dari kampung buat jenguk bapak, pasti diijinin tuh. Yaudah, masuk yuk, di luar dingin loh”.

“Anu..mbak Dwi, saya sebenarnya juga pengen ketemu dan kenalan sama orang tua mbak Dwi, tapi maaf nih mbak, saya kan niatnya memang cuma nganterin mbak Dwi sampai ke sini doang, jadi saya pulang aja ya mbak. Saya takut kalau saya masuk nanti saya malah ganggu istirahatnya bapak dan ibu mbak Dwi, lagian kan udah lewat dari jam besuk juga. Besok aja ya saya ke sininya sekalian bisa bareng sama Wak Geng dan yang lain”.

“Iya juga sih, janji ya  tapi bagaimana dengan luka kamu? Saya kan udah janji mau mengobatinya di sini”.

“Udah gak apa-apa kok mbak, gak usah diobatin, nanti juga sembuh sendiri”.

“Tapi Nang, saya kan udah janji untuk mengobati luka...”.


Belum sempat Dwi menyelesaikan kalimatnya, Tiba-tiba Taunang sudah berjalan mendekati dirinya dan kemudian memegang kedua pundak Dwi, membuat Dwi seketika terdiam dan tak mampu berkata apapun lagi.


“Mbak, sekarang mbak masuk ke dalam ya, istirahatin tuh tubuhnya mbak supaya besok bisa fit dan bisa beraktivitas seperti biasa lagi. Mbak Dwi tetap bisa kok ngobatin luka saya, kan besok saya datang lagi ke sini. Titip salam ya sama orang tua mbak Dwi”.

“I..i..iya, Tapi kamu harus janji lagi ya kalo kamu harus memperbolehkan saya mengobati luka kamu besok, oke?”

“Iya mbak, Saya janji akan datang lagi ke sini besok dan saya janji akan memberikan mbak wewenang untuk mengobok-ngobok luka saya”. Ucap Taunang sambil tersenyum.

“Hush! Mengobati, bukan mengobok-obok. Emang mau kalau lukanya kamu saya obok-obok?”.

“Enggak mau sih, hahaha”.

“Tuhkan, hahaha. Emm..Nang, makasih ya, makasih karena tadi udah mau ngebelain saya, makasih udah mau nganterin saya, dan makasih juga udah mau baik sama saya, pokoknya makasih ya buat semuanya”. Ujar Dwi sambil tersenyum.


Taunang yang awalnya bersikap biasa saja terhadap Dwi tiba-tiba terpaku setelah melihat senyuman Dwi. Ia sama sekali tak menyadari bahwa ternyata selama ini Dwi memiliki senyum yang sangat manis. Tanpa Taunang sadari, terjadi perubahan pada dirinya, tubuhnya seketika menjadi kaku dan tak bisa bergerak, pupil matanya membesar, wajahnya sedikit memerah, bibirnya sedikit terbuka, dan degup jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.


“Nang!”.
“Nang!”.
“Naaaaang!!!”.

“Eh..i..iya, ya mbak Dwi, ada apa?”.

“Ish ish ish, makanya jangan melamun aja, nanti kesambet baru tau. Kamu kenapa Nang? Muka kamu kok tiba-tiba berubah gitu? Kamu sakit? Atau ada yang sedang kamu fikirkan?”.

“Sa..sakit? Eh, eng..enggak..enggak kok mbak, saya gak kenapa-kenapa. Ini, tadi tiba-tiba saya kepikiran sama jemuran saya mbak. Tadi kan saya nyuci terus jemurin pakaian saya tuh di halaman belakang kafe, eh saya lupa kalau jemurannya belum saya angkat. hahaha”.

“Taunang, kamu bohong ya? Kafe tempat kita bekerja kan gak ada halaman belakangnya. Di belakang kafe itu kan empang, mana mungkin kamu bisa jemur di atas empang”.

“Wah iya ya, anu maksudnya di halaman belakangnya kafe sebelah, itu loh kafe yang jadi saingan kita, hehehe”.

“Halaman belakang kafe sebelah? Nang, kita kan gak punya saingan. Satu-satunya kafe di daerah sini itu ya kafe Wak Geng. Hahaha, udah ngaku aja kalo kamu lagi bohong, kamu itu gak berbakat bohong jadi jangan sok-sokan bohong deh. Emang lagi mikirin apa sih Nang?”.

”Ketahuan ya? Hehehe. Anu, saya gak lagi mikir apa-apa kok mbak. Anu..udah hampir jam satu malam nih mbak, saya balik ke kafe dulu ya mbak, takutnya saya gak dibukain pintu nanti. Kalo gitu, pamit dulu ya mbak Dwi, permisi!!”.

“Yaudah buruan balik ke kafe sana, terus istirahat. Jangan lupa baca doa ya, hati-hati di jalan, selamat malam!”.

“Selamat malam juga Mbak”.


_____


Krik krik....krik krik...Krik krik!

Masih terdengar alunan merdu hasil karya seni sang seniman malam memecah heningnya suasana dini hari, menemani ayunan langkah kaki seorang pemuda yang sedari tadi tampak berjalan dengan sangat tergesa-gesa seperti orang yang tengah mengejar sesuatu. Pemuda itu adalah Nindrong yang baru saja pulang mengantarkan Molin dan Putri ke tempat kost-an mereka masing-masing. Nindrong sengaja berjalan tergesa-gesa seperti itu agar ia bisa sampai di kafe secepat mungkin dan berharap pintu kafe masih belum dikunci oleh Bulwan.


“Bulwan udah tidur belum ya? mudah-mudahan belum, Gawat! Kalo dia udah tidur mampus aku, bisa-bisa aku tidur di teras nih. Aku juga sih yang ceroboh, kok bisa ya aku pergi tanpa bawa kunci? Ah sudahlah, sekarang aku harus berjalan lebih cepat lagi biar bisa segera sampai di kafe”.


Beberapa menit kemudian sampailah Nindrong di depan kafe. Wajah Nindrong yang awalnya cemas karena khawatir tidak akan bisa masuk ke dalam kafe langsung berubah menjadi sumringah manakala ia melihat lampu di dalam kafe masih menyala, itu artinya Bulwan belum tidur dan ia bisa masuk ke dalam dan tidur di atas ranjang empuknya.


“Syukurlah, si Bulwan belum tidur, hampir aja aku tidur di teras malam ini”.


Nindrong sangat bersyukur ketika tahu kalau Bulwan belum tidur. Sepanjang perjalanan pulang tadi, Nindrong memang selalu mencemaskan akan tidur di mana ia malam ini, Nindrong memang tak pernah berani untuk tidur di luar ruangan, bukan karena ia takut terhadap hantu, orang jahat, ataupun binatang buas, sebab sejatinya Nindrong adalah pemuda yang sangat pemberani, paling pemberani malah jika dibandingkan Bulwan dan Taunang. Alasan Nindrong takut tidur di luar ruangan adalah karena ia selama ini menderita Katsaridaphobia, yakni ketakutan atau fobia terhadap kecoa. Nindrong percaya jika ia kecoa adalah makhluk luar angkasa yang suka memakan otak manusia, kecoa adalah alien yang datang ke bumi untuk menginvasi manusia. Ia berkeyakinan jika ia tidur di luar ruangan, maka tubuhnya akan sangat rentan terhadap serangan bangsa kecoa, dan bukan tidak mungkin kecoa-kecoa tersebut akan memakan otaknya dan mengendalikan tubuhnya untuk menguasai dunia.


Tak tahan terus-terusan berada di luar, Nindrong buru-buru smasuk ke dalam kafe, sebab selain karena ia menderita Katsaridaphobia, ia juga tak tahan dengan hembusan angin malam yang dinginnya terasa hingga menembus tulang.

CEKLEK!!

Nindrong masuk ke dalam kafe yang ternyata tidak terkunci, tepat seperti dugaannya. Setelah mengunci pintu kafe dari dalam, Nindrong yang sudah sangat lelah memutuskan untuk segera tidur demi memulihkan staminanya dan bergegas naik ke kamar tidurnya di lantai dua, namun baru beberapa langkah ia berjalan, sayup-sayup terdengar suara-suara aneh yang sepertinya berasal dari arah dapur.

DUAK!! BUKK!! BUKK!! DUAK!! DUAK!!


“Suara apa itu? kok kayak suara orang yang sedang memukul sesuatu ya? Maling? Ya, mungkin saja ada maling yang masuk lewat pintu belakang dan kepergok oleh Bulwan, lalu Bulwan memukuli maling tersebut, Tapi tunggu, apa jangan-jangan Bulwan kembali ke kebiasaan buruk lamanya? Ah sudahlah, lebih baik aku melihatnya secara langsung saja”.


Dengan mengendap=endap Nindrong berjalan ke arah dapur untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Setelah ia sampai, suara aneh tersebutpun semakin terdengar jelas. Nindrong kemudian berinisiatif untuk mengintip dan melihat suatu pemandangan yang cukup mengerikan. Suara aneh yang didengar Nindrong sebelumnya, ternyata berasal dari bunyi dinding dapur yang sedang dipukuli oleh Bulwan. Meskipun tangan kanan Bulwan terlihat berlumuran darah, namun ia masih saja terus-terusan memukuli dinding tersebut.

Bukannya mencegah Bulwan, Nindrong malah beranjak pergi meninggalkan dapur menuju ke kamar tidurnya di lantai dua. Nindrong sama sekali tak berniat menghentikan apa yang sedang dilakukan Bulwan, sebab ia tahu betul jika tak ada seorangpun yang bisa mencegah Bulwan ketika sedang melukai dirinya sendiri, termasuk dirinya. Setelah sampai di kamar, Nindrong segera merebahkan badannya di atas kasur, menarik selimut, dan segera tidur.


_____


Usai mengantarkan Dwi tersebut ke rumah sakit tempat bapaknya dirawat. Taunangpun segera bergegas untuk kembali ke kafe. Hembusan dinginnya angin malam yang terasa menusuk-nusuk tubuh lelah Taunang, memaksa dirinya mempercepat langkah agar ia bisa cepat-cepat sampai di kafe Wak Geng.

Setelah berjalan selama setengah jam, Taunang mulai sedikit kebingungan karena ia tak kunjung menemukan kafe Wak Geng.


“Loh! Ini kan simpang yang tadi, kok bisa jumpa lagi? Jangan-jangan aku salah arah? Tapi kayaknya gak salah arah deh, aku yakin banget kalo tadi aku jumpa simpang yang ini, buktinya tiang listriknya masih ada di sini, berarti aku gak salah jalan dong, Oke mungkin kafenya ada di depan sana, oke kalo gitu aku akan jalan lagi, tinggal beberapa puluh meter doang kok. Semangat Nang, sebentar lagi kita akan sampai”. Ujar Taunang mencoba menyemangati dirinya sendiri.


Namun, meskipun sudah kembali berjalan beratus-ratus meter, Taunang tetap saja tak dapat menemukan kafe wak Geng, ia pun mulai merasa putus asa dan akhirnya berhenti di sebuah komplek pertokoan untuk beristirahat sejenak.