Rabu, 30 Desember 2015

Wak Geng and The Geng 3 - Hari Pertama Taunang (1)

Wak Geng and The Geng

Hari Pertama Taunang (1)

Bulwan beranjak pergi meninggalkan Nindrong dan Molin menuju ke ruangannya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, Molin tiba-tiba bertanya...


“Bul, apa Taunang sudah bisa mengingat semuanya?”


Mendengar pertanyaan Molin, sontak Bulwanpun berbalik dan berjalan menuju ke arah Molin, dan dengan raut wajah penuh kemarahan ia menjawab pertanyaan Molin dengan suara yang cukup keras...


“Aku ingatkan sekali lagi Lin, jangan pernah kau bahas masalah itu di sini. Kau bisa bertanya tentang masalah itu kapanpun dan di manapun kau mau, tapi tidak di sini, di kafe ini”

“Hei, kau gak perlu bentak dia juga kan Bul. Mungkin Molin khilaf. Toh, Taunang juga lagi di luar dan yang saat ini tau masalah ini cuma kita berempat plus Wak Geng. Jadi rileks ajalah, nyantai, ga usah terlalu dibawa emosimu”.

“Eh, enggak kok, apa yang dibilang Bulwan bener kok, memang aku yang salah, jadi wajar kalo Bulwan marah samaku. Maaf Bul, aku keceplosan, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi. Sekali lagi aku minta maaf Bul”.

“I..iya Lin, aku juga minta maaf karena barusan aku juga udah ngomong kasar samamu. Mungkin Nindrong benar, aku terlalu tegang. Aku hanya..aku hanya terlalu takut kalau Taunang bisa mengingat masa lalunya. Aku takut dia akan kembali seperti dulu atau bahkan lebih buruk lagi. Pokoknya kita berempat harus tetap menjaga rahasia ini, jangan sampai orang lain tau, dan juga jangan sampai salah satu di antara kita berempat membocorkan rahasia ini kepada Taunang. Mengerti?”.

“Siip!! Gitu dong, kan bagus. Seberat apapun masalah yang kita punya, cobalah menghadapinya dengan santai dan dibawa rileks aja brow”.


Bulwan tersenyum, ia bersyukur memiliki teman dan sekaligus bawahan yang bisa ia andalkan seperti Nindrong dan Molin. Nindrong, Molin, dan juga Taunang adalah teman dekatnya sejak ia duduk di bangku kuliah, dan kini takdir berhasil mempertemukan mereka kembali, berkumpul bersama ketiga sahabat terbaiknya dan sama-sama bekerja di tempat yang sama membuat Bulwan merasa sangat bersyukur. Bulwan kemudian kembali berjalan meninggalkan kedua sahabatnya di dapur dan masuk ke dalam ruangannya, ia tak sadar bahwa sedari tadi seseorang tengah menguping pembicaraan antara Nindrong, Molin, dan Bulwan.


_____


“Udah lama jadi tukang becak, Bang?”

“Udah Dek, udah 40 tahun Abang kerja ngebecak. Jadi Abang udah banyak makan asam garam di dunia perbecakan ini, Dek”.

“Widiiih, lama jugak ya Bang. Ngomong-ngomong Bang, apa Abang gak pernah coba cari profesi lain? atau ngelamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan gitu Bang? Kan gak mungkin selama 40 tahun ini Abang cuma bergelut di dunia perbecakan kan Bang?”

“Gak dek, Abang gak pernah coba cari profesi lain. Tukang Becak adalah profesi keluarga Abang yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kami. Jadi keluarga Abang itu udah jadi tukang becak jauh sebelum Belanda menjajah bangsa kita. Asal tau aja, Abang memiliki kerabat di berbagai belahan dunia ya gara gara becak. Mulai Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Timur Tengah, Asia Pasifik, Afrika, Australia, dan berbagai negara lainnya. Kami semua masih memiliki ikatan darah yang sama karena saat itu nenek moyang Abang gemar berpetualang keliling dunia dengan becaknya, dan tiap kali ia singgah di suatu negara, ia pasti menikah dan punya anak dari wanita di negara tersebut”.

“Warbyasaaaa!!! Hebaaatt!! Hebaaaatt!! Saya kagum sama nenek moyang Abang itu. Abang dan keluarga Abang yang lain memang Tukang Becak sejati. Oh iya Bang, beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang tukang becak di kota Siantar. Katanya dulu dia sering main ke daerah Jalan Bawa Perasaan Bang, apa dia masih saudaraan sama Abang?”.

“Iya Dek, Abang tau orang itu, dia itu anak paman Abang dari sepupunya keponakan kesayangan mendiang tetangga Abang yang udah dianggap seperti bukan keluarga sendiri. Kami dulu sering bermain bersama, ketika Abang bermain kelereng, ia pasti bermain lompat tali, ketika Abang bermain kejar-kejaran, ia tetap bermain lompat tali, dan ketika Abang bermain lompat tali pasti dia udah pulang karena disuruh mandi sama mamaknya. Sungguh masa-masa yang sangat indah, Abang sering meneteskan air mata kalau teringat akan hutang-hutang dia yang sampai sekarang belum juga dibayarnya. Sudahlah, Abang tidak ingin mengingatnya lagi, Abang sudah iklash dan berharap ia tenang di alam sana”.

“Loh, tapi kan dia masih hidup Bang? Kok Abang ngomongnya seolah-olah dia udah gak ada lagi Bang?”

“Ya juga sih. Hahaha. Yodahlah, tak usah kita bahaslah dia itu. Oh iya, ngomong-ngomong siapa adek cantik yang duduk di samping kau ini? Dari tadi Abang tengok senyum aja dia, gak ada suaranya, mahal kali suaranya Abang rasa. Istri kau ya dek?”

“Istri? Hahaha, bukan Bang. Ini Kak Ayu, teman kerja saya di kafe Wak Geng. Saya dan dia disuruh oleh atasan kami untuk berbelanja di pasar”.

“Oh, gitu. Abang pikir istri kau ini Dek, cantik kali kutengok. Oh iya, udah nyampek kita dek, di depan itu pasarnya. Abang turunkan di sini ajalah kalian ya dek. Payah, udah banyak kali becak masuk ke sana, padat kali, susah nantik becak Abang keluarnya”.

“Oke Bang, ini ongkosnya. Makasih banyak ya, Bang”.

“Sama-sama, Dek!!”.

_____


“Fiuh, akhirnya selesai juga buat laporan penjualan yang kemarin, tinggal dicetak dan dikasih liat sama Wak Geng. Sekarang waktunya buat aku ngobrol empat mata sama kamu”.


Bulwan mengeluarkan sebuah kunci dari kantung celananya, dengan kunci itu, Bulwan membuka laci meja kerjanya dan mengambil selembar foto yang terselip di antara beberapa buku. Bulwan menatap foto itu, kemudian ia tersenyum, didekatkannya foto tersebut ke dadanya sambil memejamkan mata seolah-olah ia tengah memeluk objek dari foto tersebut. Dipandanginya kembali foto tersebut, dan ia kembali tersenyum...


“Akhirnya, Aku punya waktu untuk bisa mengobrol lagi dengan kamu. Kamu apa kabar? Kalau aku sih baik-baik aja. Kamu malam minggu ini ada acara gak? Aku boleh ya main ke rumah kamu? Gak boleh? Emm, atau kita nonton aja ya, kebetulan lagi ada film seru nih di bioskop, filmnya romantis loh, judulnya Kutukan Rumah Jomblo. Mau ya, ya, ya”.


Diusapnya foto tersebut, dipandanginya kembali, dan Bulwanpun lagi-lagi tersenyum


“Nanti setelah nonton, kita makan malam ya, berdua. Tenang aja, aku yang traktir, kamu boleh makan apa aja yang kamu mau, kalau mau dibungkus juga gak apa-apa, sekalian belikkan papa dan mama kamu juga. Ya..ya, mau ya. Mau dong cantik. Ya..ya”.


Didekapnya kembali foto tersebut, kali ini lebih erat. Bulwan kembali tersenyum, dengan mata yang terpejam kemudian ia mulai berkhayal, fikirannya jauh melanglang buana ke dalam dimensi imajinasinya. Ia sangat menikmati khayalannya tersebut sampai tiba-tiba...


Tok..tok..tok

“Permisi”


Terdengar suara pintu ruangan Bulwan diketuk dari luar, membuat Bulwan yang masih sibuk dengan khayalannya sontak tersadar. Tak ingin ada orang lain yang tahu soal foto yang, ia langsung buru-buru menyembunyikan foto itu ke dalam laci meja kerjanya


Tok..Tok..Tok..

“Permisi Bang”.

“Yak, silahkan masuk”.


CEKLEK!!


“Oh, Dwi. Ya, silahkan! masuk..masuk”.

“Iya Bang, ngobrol sama siapa tadi Bang? Dwi dengar dari luar Abang kayak lagi ngomong gitu sama orang lain, lagi teleponan ya?”.

“Teleponan? Oh iya, hahaha. Iya..iya, tadi Abang teleponan sama temannya teman tetangga jauh Abang. Hehe. Oh iya, ada perlu apa Dek?”.

“Oh, lagi teleponan ya. Gini Bang. Dwi mau tanya, Dwi bisa gak ambil gaji Dwi bulan ini sekarang Bang? Dwi butuh uang itu buat biaya berobat Bapak, Bang”.

“Loh, Bapaknya Dwi kenapa, Dek?”.

“Bapak Dwi kan selama ini kerja sebagai supir pribadi Bang, nah tadi pagi waktu bapak lagi jalan mau berangkat ke tempat kerjanya, bapak kecelakaan Bang. Bapak jadi korban tabrak lari. Dwi ke sini, mau minta tolong sama Abang. Dwi bisa minta tolong kan Bang supaya Dwi bisa ambil gajinya Dwi sekarang, boleh ya Bang”.

“Emm, kalau masalah gaji, Abang harus ngelapor dulu lah sama Wak Geng, Dek. Abang gak punya wewenang untuk ngeluarin gaji sebelum tanggalnya, soalnya Abang kan cuma asisten di sini. Hari ini kayaknya Wak Geng gak datang ke kafe, mungkin besok lah baru Abang bisa bicarain masalah ini sama Wak...”.

“Bang, Dwi mohooon Bang. Dwi sangat butuh uang itu sekarang buat biaya berobat bapak Dwi Bang. Ibu Dwi udah gak punya uang tabungan lagi Bang, semuanya udah habis dicuri sama Abang Dwi. Dwi mohon Bang, Dwi mohon Abang bisa keluarin gaji Dwi itu sekarang Bang.”.


Setelah menyelesaikan kalimatnya, air mata Dwi kemudian mengalir deras membasahi kedua pipinya. Bulwan juga sebenarnya tidak tega melihat Dwi menangis, apalagi setelah mendengar apa yang telah disampaikan oleh Dwi, namun ia juga tak berhak membagikan gaji para pekerja di kafe tersebut sebelum waktunya, karena masalah itu sepenuhnya merupakan wewenang Wak Geng sebagai pemilik kafe

Bulwan memberikan kesempatan kepada Dwi untuk menyelesaikan tangisannya, ia tidak berusaha menghiburnya karena ia tahu Dwi sedang tidak butuh dihibur oleh siapapun. Setelah beberapa menit, tangisan Dwi mulai mereda, Bulwan tahu ini saat yang tepat untuk berbicara kepada Dwi, dan dengan penuh perhatian ia kemudian memberikan sapu tangannya kepada Dwi.


“Dek, Maaf ya Abang gak bisa bantu Dwi untuk mencairkan gaji Dwi sekarang. Tapi Abang tetap bisa bantu Dwi kok kalau berkaitan dengan masalah pembiayaan bapak Dwi. Kebetulan Abang ada uang nih, memang sih cuma setengah dari gaji Dwi, tapi mudah-mudahan cukuplah untuk dijadikan jaminan sampai nanti Dwi gajian”.

“Tapi Bang...”.

“Udah, gak usah pakek tapi-tapian. Dwi ambil uang ini sekarang, terus pergi sana ke rumah sakit. Pakai aja dulu uang Abang itu, kalau masalah gantinya nanti-nanti aja kalau bapak udah sembuh dan Dwi udah punya uang buat ganti. Yaudah, hapus tuh air matanya, Abang paling gak suka liat perempuan nangis, soalnya Abang takut ikutan nangis juga”.


Dwi menyeka air matanya dengan sapu tangan Bulwan, kemudian ia beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya


“Makasih..makasih banyak ya Bang, Dwi janji, Dwi pasti akan lunasin hutang Dwi ke Abang secepat mungkin, Dwi janji Bang, makasih banyak ya Bang Bul. Kalau begitu Dwi permisi dulu ya Bang, Dwi mau langsung ke rumah sakit”.

“E..e..eh!! tunggu dulu! Dwi nanti balik lagi buat masuk kerja atau gak? Kalau memang gak balik lagi biar Abang bikin izin nih di absen karyawan”.

“Dwi pasti balik lagi Bang, tapi mungkin agak telat. Nanti setelah ibunya Dwi balik ke rumah sakit buat gantiin Dwi jagain bapak, Dwi pasti balik lagi ke sini Bang”.

“Loh, Ibunya Dwi ke mana Dek?”

“Lagi di luar Bang, soalnya ibu Dwi juga lagi berusaha cari pinjaman ke tetangga tetangga sekitar rumah”.

“Oh gitu, oke, Nanti Abang juga akan telepon Wak Geng buat ngasih tau dia tentang masalah Dwi, siapa tau dia juga bisa kasih bantuan nanti”.

“Iya Bang, kalau gitu Dwi permisi dulu ya, sekali lagi makasih banyak ya Bang Bul”.

“Iya, titip salam ya sama bapaknya, semoga beliau cepat sembuh”

“Oke Bang, permisi”


_____


Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, waktunya kafe dibuka. Semua pekerja kecuali Dwi sudah siap di posisinya masing-masing. Nindrong dan Molin sudah selesai mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan yang mereka butuhkan untuk memasak pesanan pelanggan, Putri juga sudah selesai merapikan dan membersihkan meja dan kursi, Ayu dan Taunang juga sudah kembali dari pasar, sementara Bulwan juga sudah bersiap untuk membalik papan pemberitahuan yang tergantung di pintu depan kafe dari CLOSE menjadi OPEN.


“Semuanya, dengar!! Seperti biasa, hari ini adalah hari keberuntungan buat kita semua, Pelanggan bukanlah raja, mereka hanya manusia biasa. Tapi kita harus bekerja sebaik mungkin dan berusaha memberikan yang terbaik sehingga pelanggan merasa diperlakukan layaknya raja. Hari ini semangat bekerja kita tidak boleh kalah dari semangat kerja kemarin. Mengerti?”.

“Mengerti, Pak Asisten!!!”


Semua pekerja di kafe kompak menjawab pertanyaan Bulwan yang seperti biasa selalu memberikan arahan dan semangat kepada para bawahannya agar bekerja lebih giat dari hari-hari sebelumnya.

15 menitpun berlalu sejak kafe dibuka, tampak seorang calon pelanggan tengah berjalan menuju kafe. Setelah sejenak melihat-lihat interior kafe dari luar (Sebagian besar dinding kafe terbuat dari kaca yang tebal, sehingga bagian dalam kafe dapat terlihat dari luar, memudahkan calon pelanggan yang berada di luar untuk melihat ke dalam, dan pelanggan yang berada di dalam untuk melihat ke luar.
Bulwan berjalan ke arah Taunang, ia tahu kalau Taunang pasti sedikit gugup di hari pertamanya bekerja, dan sebagai atasan Taunang, Bulwan merasa wajib memotivasi Taunang agar bisa bekerja senyaman mungkin.


“Nang! Ingat, kau, Dwi, Ayu, dan Putri bertugas sebagai pramusaji di sini. Jadi berusahalah bekerja sebaik mungkin di hari pertamamu bekerja. Itu lihat, ada yang sedang menuju ke sini. Layani dia dengan baik, tanyakan apa yang dia inginkan, dan bersikaplah ramah kepada semua pelanggan. Kalau ada masalah, aku ada di ruanganku. Ngerti kau kan?”.

“Siap Pak Asisten”.


Bulwan kemudian masuk ke ruangannya, sementara Taunang bersiap menyambut pelanggan pertamanya. Jantung Taunang berdegup kencang, ia tidak menyangka kalau ia akan segugup ini. Tapi ia mencoba untuk mengendalikan keadaan. Ia memejamkan matanya, menarik nafas panjang, lalu pelan-pelan menghembuskannya kembali melalui mulut...


“Fiiiuuuuuhhhh....!!!”

“Kyaaaa!!!”.


Alangkah terkejutnya Taunang ketika mendengar suara teriakan tersebut. Ia kemudian membuka matanya dan melihat Ayu tengah berdiri di depannya dengan wajah jengkel


“Eh, Kak Ayu, Ada apa Kak?”.

“Ngapain sih kamu ngembus-ngembus ke muka aku? Bauk tau!!”.

“Anu, saya tadi sedang gugup jadi saya berusaha untuk menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata dan menghembuskannya kembali secara perlahan. Saya tau cara itu dari dari artikel yang saya baca di internet Kak. Maaf Kak saya gak tau. Kakak juga sih gak bilang-bilang kalau lagi di depan saya, kalo saya tau kan nafasnya saya bisa saya telan lagi”.

“Malah ngeles lagi, yaudah deh lupain aja. Sekarang ayo ikut aku, ada hal penting yang mau kujarkan sama kamu. Ayo ikut dan perhatikan baik-baik”.


“I..iya Kak...”

Rabu, 23 Desember 2015

Wak Geng and The Geng 2 - Bulwan, Asisten Wak Geng

Wak Geng and The Geng

Bulwan, Asisten Wak Geng

Tok..tok..tok..

“Permisi!”

Tok..tok..tok..tok..

“Permisi!!!”


“CEKLEK”

Terdengar suara pintu yang terbuka. Lalu seiring dengan terbukanya pintu, tampaklah sesosok pemuda yang bertelanjang dada dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya


“Ya, ada apa ya? Maaf agak lama buka pintunya, tadi saya sedang... ”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”

“Ada apa? Kenapa?”

“Han..han,,duk..itu, han..handuk kamu melorot”.

“Wah, hahaha iya melorot. Loh, kenapa? Kan saya pakai celana ponggol, bahkan dengkul saya juga gak keliatan, kenapa harus teriak-teriak?”.

“E..eh..I..iya juga ya. Haha..hahahaha..Maaf, saya fikir kamu tadi, anu..hehe. maaf-maaf. Anu, nama saya Dwi, saya salah satu karyawati yang bekerja di sini. Tadi Wak Geng menyuruh saya untuk membawakan makanan dan teh hangat ini ke sini, salam kenal dan maaf atas kejadian tadi”.

“Oh..I..iya. Saya juga minta maaf karena sudah mengejutkan Mbak. Saya fikir yang mengetuk pintu tadi adalah Nindrong atau Bulwan, ternyata Mbak. Maaf juga ya, saya tadi belum sempat pakai baju. Oh iya, Saya Taunang, salam kenal. Mulai besok saya juga akan bekerja di sini sebagai pramusaji. Mohon kerjasamanya ya Mbak. Hehe. Oh ya Mbak, terima kasih ya sudah membawakan saya makanan dan teh ini, sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih banyak, Mbak Dwi”.


Dipanggil dengan sebutan Mbak oleh pemuda yang baru saja dikenalnya, Entah mengapa wajah Dwi langsung memerah. Detak jantungnya berdegup kencang, tak beraturan. Ia tak tahu mengapa ia bisa segugup ini, dan ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada pemuda itu, sesuatu yang membuat Dwi senang melihatnya. Wajahnya, sikapnya yang sopan, senyumnya, tatapannya. Tetapi, Dwi merasa perasaannya telah membawanya terlalu jauh, ia berusaha untuk mengatur ritme nafasnya agar tetap tenang, Ya, ia tidak ingin terlihat salah tingkah di depan pemuda itu. Dwi yakin kalau satu-satunya cara agar ia dapat terlepas dari kegugupan ini adalah dengan menjauh, dan sepersekian detik kemudian ia mendapatkan ide agar ia dapat melepaskan diri dari tatapan Taunang.


“Eh, anu..saya masih banyak pekerjaan nih, sa..saya ke bawah dulu ya, emm..permisi”


Dengan setengah berlari, Dwi pergi meninggalkan Taunang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya sembari menatap Dwi dengan penuh keheranan.

_____


“Woi Vangke! Bangun! Itu tempat tidurku, pindah-pindah”.

“Apa sih Bul? Biar aja lah dia tidur di tempat tidurmu. Kasian loh, pasti dia kelelahan. Biar ajalah malam ini dia tidur di tempat tidurmu, Kasih dia kesempatan untuk istirahat”.

“Enak aja, Bukan gitu Ndrong, ini tempat tidurku, salah satu tempat paling pribadi yang kumiliki dan udah kuanggap seperti istriku sendiri, jadi aku gak akan rela istriku ditiduri lelaki lain. Badanku juga capek, aku juga perlu istirahat. Kalo dia memang mau istirahat, jangan di tempat tidurku. Woi, Nang! Sana-sana, pindah kau!!”.

Mendengar teriakan Bulwan, Taunang pun terbangun dari tidurnya, dalam keadaan setengah sadar dan dengan mata masih setengah terbuka ia pun bangkit dari tempat tidur Bulwan menuju ke tempat tidur yang lainnya.


“Woi Vangke! Bangun! Itu tempat tidurku, pindah-pindah”.

“Apa sih Ndrong? Biar aja lah dia tidur di tempat tidurmu. Kasian loh dia, pasti dia kelelahan. Biar ajalah malam ini dia tidur di tempat tidurmu, Kasih dia kesempatan untuk istirahat. Toh tadi kau juga ngomong kayak gitu kan samaku”.

“Berisik! Badanku juga capek, aku juga perlu istirahat. Kalo dia memang mau istirahat, jangan di tempat tidurku juga dong”.

“Ya trus, dia tidur di mana Ndrong?”.

“Aku juga gak tau, aku pun gak tega liat si kuvret ini tidur di lantai, tapi aku juga gak suka ada orang lain yang tidur di tempat tidurku. Gini aja, aku ada ide...”

_____


“Huaaahmm...nyam..nyam..nyam..Udah pagi rupanya. Nyenyak juga aku tidur tadi malam. Tapi, syukurlah, badanku kembali terasa segar. Yosh! Aku harus mandi dan siap-siap untuk kerja. Ini adalah hari pertamaku bekerja, jadi aku harus menunjukkan ke Wak Geng kalau dia ga salah udah merekrutku karena aku adalah orang yang disiplin, pekerja keras, rajin menabung, patuh dan taat terhadap nasehat guru dan orang tua, peraturan dan tata tertib sekolah. Oh iya, udah jam berapa ini ya?”.

“Jam setengah enam pagi Mas”.

“Oh, iya. Makasih ya mas. Maaf ngerepotin, soalnya jam tangan saya kemarin ketinggalan di kampung. Ah sial, udah hape saya rusak, jam tangan juga gak ada. Kalau kayak gini bisa-bisa saya selalu terlam... WHAAAAAAAAA!!! SES..SES..SIAPA KAU? KENAPA KAU TIDUR DI SAMPINGKU? BUKAN, KENAPA AKU BISA TIDUR DI SINI? DI MANA INI? DAN WHAAAAAAAA!!! KENAPA AKU CUMA PAKAI CELANA PONGGOL DAN GAK PAKAI BAJU? APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADAKU, BAPAK TUA?”.

“Tenang, tenang..saya bisa jelasin semuanya Mas. Ini tidak seperti yang Mas bayangkan, ini Cuma salah faham, Mas”.

“DIAAAM!!! DASAR KAU BAPAK TUA SIALAN!!”.


DUAK!!!

Dengan sekuat tenaga, Taunang memukul si Bapak Tua tepat di bagian wajahnya sehingga si Bapak Tua terpental dari gubuknya dan tercebur ke dalam empang. Bukannya meminta maaf, Taunang yang masih dalam bingung dan juga emosi malah pergi meninggalkan si Bapak Tua begitu saja.

_____


“Brow, Brow, liat tuh, liat tuh!”.

“Apa? Ada apa?”.

“Itu tuh di depan sana, liat tuh si kentut bauk itu lagi jalan ke sini. Aku berani bertaruh kalau dia pasti sangat marah sama kita berdua. Nanti kalau dia nyampek sini, kita pura-pura gak tau aja ya”.

“Hihihi, Oke-oke. Tapi ini semua idemu loh Ndrong. Aku cuma ikut-ikutan aja ya”.

“Enak aja, aku kan tadi malam nyaranin supaya mindahin dia ke teras kafe doang, sedangkan yang punya ide untuk mindahin dia ke gubuknya pemilik empang kan kau Buls”.

“Iya deh, resiko kita tanggung bersama. Eh, eh, dia udah mau nyampek tuh, cepat, cepat, atur ekspresimu, biar dia gak curiga”.

“Oke”.


Semenit kemudian Taunangpun sampai di depan kafe Wak Geng, Dengan wajah yang merah padam karena  menahan emosi dan rasa malu ia bergegas masuk ke dalam kafe. Ia tahu kalau Bulwan dan Nindrong adalah dalang dari peristiwa yang barusan di alaminya.


Ceklek...


“BULWAAAAANNN!! NINDROOOONGGG!!!”

“Eh, Nang. Ada apa nih, kok teriak-teriak? Dari mana brow? Kok cuma pake celana ponggol doang? Abis lari pagi ya?”.

“Iya, dari mana Nang? mukamu juga keliatan bahagia banget. Pasti kau ketemu cewek cakep waktu lari pagi tadi, trus diajakin kenalan, tukeran nomor sepatu, dan nanti malam kau dan cewek itu akan janjian kencan”.

“Aseek, baru juga sehari di sini, eh udah dapat cewek aja dia brow. Tapi memang pantas lah, waktu kuliah dulu kan dia disebut VLAYVOY VENEVAR VESONA. Jadi wajar kalau biarpun masih sehari di sini, dia udah berhasil menggaet cewek-cewek sini. Duh, aku dan Bulwan jadi iri nih, Nang”.

“Eh, Kamvrhed, yang lari pagi tu siapa? Yang mukanya bahagia juga siapa? Aku nih lagi marah, marrraaaah, marrraaaaaahh!!! Seingatku tadi malam aku tidur di kamar di atas, trus tiba-tiba pas aku bangun, aku udah ada di gubuk, gak pake baju, dan di sampingku ada bapak-bapak udah tua, mukanya mesum, dan pake sarung”.

“Hahahaha, Trus? Kenapa kau marah?”. Tanya Bulwan

“Kalian kan yang udah mindahin aku ke sana, ya kan? Kalian bercandanya jelek, ya jelaslah aku marah. Kenapa kalian memindahkan aku tepat di samping bapak tua bermuka mesum itu? Aku gak tau apa yang udah bapak tua mesum itu lakukan padaku, tapi ketika aku terbangun, aku tak lagi memakai baju dan hanya celana ponggol inilah yang melekat di tubuhku. Kenapa kalian tidak memindahkan aku supaya aku bisa tertidur di samping cewek cakep? Kenapa? Kenapa harus bapak tua bermuka mesum itu? Aku rela kok kalau kalian jahilin aku dan memindahkan aku di samping cewek cakep, aku rela kalau pada akhirnya cewek cakep itu khilaf, dan kalau memang dia tidak juga khilaf, aku yang akan berusaha untuk khilaf. Tapi kenapa kalian kejam sekali meletakkanku di samping Bapak tua bermuka mesum itu? Aku bahkan lebih rela kalau kalian bisa memindahkan aku supaya bisa tidur di antara dua cewek ca..”.


BLETAK!!

Belum sempat Taunang menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kepalanya dipukul oleh Nindrong dari belakang


“Eh, Kuvret. Kalau itu kami juga mau. Kami akui, memang kami yang memindahkan kau ke sana, tapi bapak tua itu adalah orang yang kami kenal baik, dan dia tidak mesum. Kau lah yang sebenarnya mesum, bukan, tapi kita bertigalah yang mesum. Eh? Aduh, kenapa ngomongku jadi ngelantur ya?”.

“Udah, udah Ndrong, gak usah dilanjutin lagi pembahasan ini, makin aneh aja kutengok arah pembicaraannya. Biar kuperjelas, bapak tua itu adalah pemilik empang, dia itu cari duit dari hasil empangnya, dia juga hidup dan tinggal di gubuk di samping empangnya itu. Bapak pemilik empang itu udah kami anggap seperti orang lain. Maksudnya seperti orang lain yang udah kami anggap seperti keluarga orang lain. Maksudnya seperti keluarga orang lain yang udah kami anggap seperti bukan keluarga sendiri”.

“Eh, Nindrong, Bulwan. Kebetulan aku masih emosi nih, ada golok gak? Lagi pengen ngebacok orang nih. Dari tadi gak ada yang jelas omongan kalian berdua, bikin makin emosi Aliando aja”.

“Aliandooo? Aliando dari Hongkong? Udah-udah, cukup bercandanya, sekarang kita harus siap-siap. Taunang, sekarang kau mandi, trus sarapan, abis itu siap-siap pergi belanja ke pasar buat nemenin salah satu pekerja perempuan di kafe ini untuk berbelanja. Nah, kalo Nindrong, sebagai koki di kafe ini, kau harus menyiapkan sarapan buat kita bertiga. Aku mau liat stok barang, trus buat list apa-apa aja yang akan dibeli nanti, sekalian buat laporan pernjualan kemarin buat dikasih ke Wak Geng”.

“Oke, siap Pak Asisten”. Jawab Taunang dan Nindrong.

_____


“Nang, ini namanya Ayu, dia yang akan ngawanin kau ke pasar. Dia juga pramusaji di kafe ini, tapi tugas tambahannya adalah membeli bahan-bahan baku di pasar”.

“Saya Ayu, salam kenal”.

“Saya Taunang, salam kenal juga kak”.

“Oh iya Nang, aku udah kasih list barang yang mau dibeli plus uangnya sama si Ayu. Nah!, kalau tugasmu Nang, kau harus ngangkatin belanjaan yang udah dibeli nanti, kan kasian kalau cewek yang harus angkat dan bawa-bawa barang-barang belanjaannya. Selain itu kau juga harus jagain dia, jangan sampai digangguin sama para preman-preman di pasar. Ingat!, jangan sampai dia disentuh sedikitpun oleh berandalan-berandalan itu. Mengerti?”

“Iya..iya. Siap Pak Asisten, tenang aja, kakak cantik ini akan kujaga baik-baik kok, aman tuh”.

“Yaudah, udah hampir siang nih, cepetan gih berangkatnya. Ingat Nang, jaga Ayu ya, dan kau juga jangan gangguin dia, aku serius”.

“Iya loh Bulwan, tenang aja lah kau. Yaudah berangkat dulu kami ya”.

“Oke, hati-hati kau ya Nang, Ayu juga, hati-hati ya. Nanti kalau si Taunang ganggu-ganggu Ayu, kasih tau abang, biar abang tumbokkan dia”.

“I..iya Bang, Ayu akan hati-hati kok. Yaudah Ayu berangkat dulu ya bang, permisi”.


Ayu dan Taunang pun kemudian pergi ke pasar dengan menaiki becak. Sementara itu Bulwan terus memandang ke arah becak yang ditumpangi Taunang dan Ayu hingga becak tersebut menghilang di kejauhan. Dada Bulwan berdesir, ada sesuatu yang membuatnya gusar melihat kebersamaan Ayu dan Taunang.


“Mikirin apa sih bang Bul? Kok melamun? Awas kesambet setan loh”.

“Eh, Putri. Gak ah, gak ada apa-apa. Abang cuma lagi menikmati udara aja tadi. Oh iya, yok masuk yok, di luar panas loh. Oh iya, nanti mejanya dilap sampai bersih ya dek, trus letak kursi dan mejanya dirapiin lagi. Abang mau buat laporan penjualan yang kemarin nih buat dilaporin ke Wak Geng. Abang ke ruangan abang dulu ya”.

“I..iya Bang Bul, Putri akan bersihin mejanya sampai sekinclong-kinclongnya. Semangat ya bang ngerjain laporannya”.

“Semangat? Oh iya, haha..semangat, pasti abang semangat. Putri juga semangat ya dek kerjanya”.

“I..iya. Semangat!!” Jawab Putri dengan wajah memerah

_____


“Ke mana..ke mana..ke maaanaaa. Ku harus mencari ke manaaa...Kekasih tercinta..assekk asseekk jos!! Tak tau..”.

“Woi, Woooi, wooooiii!!! Lin, bagusan diam deh. Sakit kupingku dengarnya”.

“Apa sih Ndrong? Kau ga suka ya sama lagu itu? Yaudah, Oke..oke.Kalo gitu aku nyanyi lagu lain aja. Iwak peyeeek..iwak peyeeekk..iwak peyek nasi jagoong..Asseekk asseekkk Jos!! Sampek tuweeeeekk! Sampek..”.

“MAULIIIN!!! WOOI MAULIIIN!! DIAAAMM!!! BERISIIKKK TAU!! BUKAN LAGUNYA YANG GAK ENAK, TAPI SUARAMUUU. Kenapa kita bekerja berdekatan? Kenapa setiap hari aku harus mendengar kau bernyanyi? dan kenapa juga setiap hari kau harus bernyanyi? Kau tuh udah tau kalau suaramu jelek, tapi kenapa kau tetap juga bernyanyi?”.

“Nindrong, bernyanyi itu adalah hasrat jiwaku. Kalau aku tidak bernyanyi, aku bisa meriang seharian. Lagian suaraku gak jelek-jelek amat, cuma mungkin hanya orang-orang yang memiliki selera musik yang tinggi yang bisa menikmatinya. Oh, aku tau, kau pasti tidak bisa menikmatinya karena aku bernyanyi tanpa goyangan kan? Bilang aja kau pengen liat aku bergoyang, kan? kan? Hahaha, Oke, aku akan turutin permintaanmu wahai fans sejatiku. Nih lihat nih goyangan idolamu. Bang Thoyib..bang Thoyib....kenapa tak pulang pulaaaang...Yiihaaa...Anakmuu..anakmu...assek..asseekk..jos! panggil..panggil namamu”.

“Tidaaaaaaaaakkkkk!!! Siapa saja, tolong selamatkan akuuuuu....”


“Ada apa nih Ndrong, Lin, kok ribut-ribut? Suara kalian sampai kedengaran ke depan loh”. Tanya Bulwan yang datang menghampiri Nindrong dan Molin di dapur.

“Ini nih Bul, si Nindrong ngefans sama suara dan goyanganku. Ya sebagai idola yang baik, aku tuh pengen selalu menyenangkan fans aku, aku sadar kalau tanpa fans, aku ih bukan siapa-siapa, yaudah deh, untuk memenuhi keinginan dari fansku tadi, aku langsung nyanyi dan bergoyang. Makanya Nindrong teriak-teriak kegirangan”.

“Oh gitu, pantesan mukanya bahagia banget. Ternyata kau ngidolain Molin ya Ndrong? Wah, gak nyangka, ternyata Molin juga punya fans di kafe ini”.

“Fans gundulmu!!, suaranya Molin tu jelek, apanya yang mau kuidolain coba? Tiap hari dia selalu bernyanyi, dan setiap hari juga rasanya kupingku ini mau pecah. Ini juga bukan muka bahagia, somplaq. Ini ekspresi penderitaan. Lagian kenapa sih kau menempatkanku sama si Molin di dapur? Kau mau membunuhku ya Bul?”

“Hahahaha, maaf..maaf..Soalnya ekspresi mukakmu pas bahagia dan mukakmu pas menderita sama aja, jadi aku gak bisa bedain Ndrong. Bwahahaha. Sabar aja lah Ndrong, ya siapa tau dengan pertengkaran-pertengkaran kecil seperti ini kalian bisa lebih mengenal karakter satu sama lain, dan tiba-tiba nyaman, trus nikah. Kan siapa jodoh kita kan gak ada yang tau. Hahahahaha. Udah..udah, udahan dulu becandanya, sekarang kalian lanjutin lagi kerjaan kalian ya, aku juga mau ke ruanganku”.


Mendengar ucapan Bulwan, Nindrong terlihat semakin kesal, namun Nindrong tak berniat membalas kata-kata Bulwan karena Bulwan sudah memerintahkan ia dan Molin untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Biarpun Bulwan terlihat sama seperti pekerja lainnya, namun ia adalah orang yang diberi tanggung jawab secara langsung oleh Wak Geng untuk mengelola kafe ini, dan semua pekerja di kafe menghormatinya layaknya mereka menghormati Wak Geng. Di tempat lain mungkin orang akan menyebut Bulwan sebagai manajer kafe, tapi atas permintaan Bulwan sendiri, ia lebih senang dipanggil sebagai asisten Wak Geng saja.

Bulwan kemudian beranjak pergi meninggalkan Nindrong dan Molin menuju ke ruangannya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba Molin bertanya...


“Bul, apa Taunang sudah bisa mengingat semuanya?”

Mendengar pertanyaan Molin, sontak Bulwanpun berbalik dan berjalan menuju ke arah Molin, dan dengan raut wajah penuh kemarahan ia menjawab pertanyaan Molin dengan suara yang cukup keras...


“Aku ingatkan sekali lagi Lin, jangan pernah kau bahas masalah itu di sini. Kau bisa bertanya tentang masalah itu kapanpun dan di manapun kau mau, tapi tidak di sini, di kafe ini”

Jumat, 18 Desember 2015

Wak Geng and The Geng 1 - Selamat Datang

Wak Geng and The Geng

Selamat Datang

“Maaf, ganggu sebentar, saya mau numpang tanya ni Bu. Kafe Wak Geng itu di mana ya? Saya sudah seharian mutar-mutar keliling kota, tapi kok gak ketemu-ketemu juga ya tempatnya. Bu. Apa Ibu tau di mana Kafe Wak Geng itu, Bu?”

“Kafe Wak Geng? Duh! Gak tau pulak Ibuk, Dek. Cak ko tanyakkan sama tukang becak di depan situ, mungkin taunya dia itu”.

“oh iya, baik Bu. Terima kasih banyak ya, Bu!”

“Sama-sama Dek”


Kuikuti saran dari Ibu tadi, dan segera aku berjalan menuju ke tempat abang tukang becak yang sedang duduk santai di atas becaknya sembari menghisap sebatang rokok


“Permisi, Bang. Maaf nih klo mengganggu.  Mau numpang tanya ni, Abang tau alamatnya Kafe Wak Geng, Bang?”

“Kafe Wak Geng? Apapulak itu? Kurang tau pulak aku dek. Mo ngapain ko ke sana dek?”

“Mau kerja bang, kemarin kan ada kawan saya yang nelepon dan nawarin saya pekerjaan di kafe itu. Berhubung saya masih pengangguran, jadi saya terima aja. Gitu Bang”

“Bah, cemananya kau ini dek? Ko terima pekerjaannya, tapi gak ko tanyak di mana alamat kafenya, ada bodok-bodoknya memang ko ni lah dek”

“Bukan gitu Bang, kawan saya kemarin udah ngasih alamat, tapi saya lupa mencatatnya, yang saya cuma ingat, kafenya itu di Jl. Bawa Perasaan Timur No. 777, Tapi saya lupa nama kotanya”.

“Oh, di sana. Tau aku itu, dulu sering maen di sana aku waktu masih lajang, sekarang aja udah gak pernah lagi. Berarti Kafe Wak Geng itu baru buka lima atau empat tahun ini dek, soalnya waktu aku lajang, gak ada kafe di situ”

“Wah, Abang tau Bang? Tolong antarkan saya ke sana sekarang Bang, ya ya ya”

“Tapi jauh kali itu dek, agak mahal lah ya kubikin ongkosnya, mau kau?”

“Gak masalah Bang, yang penting saya bisa sampai ke sana secepat mungkin. Kalau masalah ongkos, Abang ga usah khawatir, selagi masih di bawah Rp. 5.000. saya sanggup kok Bang”.

“Janganlah segitu dek, naek lah lagi ya. Rp. 85.000. lah ya, biar berangkat kita ni”.

“Buset, mahal amat Bang? Rp. 4.500 lah ya. Cuma bersisa Lima Ribu perak uang saya Bang, tolong lah Bang”

“Gak mahal itu dek, standarnya memang segitu dek, yaudah 80ribu aja lah, Abang korting goceng, biar cepat berangkat kita, Ya dek ya”

“BANGKE!!, MAHAL BANGET. JAHAT BANGET ABANG YA, APA MENTANG-MENTANG SAYA BUKAN ORANG SINI? APA MENTANG-MENTANG SAYA LAGI KESASAR LANTAS ABANG DENGAN SEENAKNYA MEMBUAT HARGA SENDIRI? SAYA INI ORANG MISKIN BANG, SAYA KE SINI UNTUK MENCARI PEKERJAAN, JADI RASANYA TIDAK ETIS KALAU ABANG MEMERAS WONG CILIK SEPERTI SAYA”

“KAULAH YANG BANGKE, MALAH KAU ITU BANGKE YANG SEBANGKE-BANGKENYA BANGKE, INI BUKAN MASALAH ETIS ATAU TIDAK, TAPI MEMANG BIASANYA HARGANYA SEGITU, BODOK! ALAMAT YANG KAU CARI ITU ADANYA DI MEDAN, KAU SEKARANG ADA DI SIANTAR, JAUH KALI KAU KESASARNYA. SEHARUSNYA AKU YANG MARAH, KENAPA KAU PULAK YANG MARAH DULUAN? UDAH CEPAT PIGI KAU DARI SINI, SEBELUM KUPIJAK BATANG LEHER KAU, MENDIDIH DARAHKU KAU BUAT, GERAM AKU BAH. PIGI KAU, PIGI SEBELUM KUCAMPAKKAN BECAK INI KE MUKAK KAU”.

“Ehehe, jadi saya kesasar ya Bang? Anu, kalo gitu saya minta maaf ya, sekalian kalo ada saya mau minta rokok abang sebat...”

“PIGI KAUUUUUU!!!!”

_____


“Mananya kawan kelen itu, Bul, Ndrong? kok gak datang-datang dia udah jam segini. Apa mungkin gak niat kerja di sini dia?”

“Sabar wak Geng, datangnya dia tu bentar lagi. Memang kek gitu dia tu”

“Memang kek gitu? Maksudmu Bul?”

“Iya, anak itu memang sering nyasar Wak. Agak susah dia kalo disuruh ngingat alamat. Dulu aja waktu masih kuliah, dia itu sering salah kampus, dan kalo pulang dia juga sering nyasar ke kos-kosan orang lain, malah yang lebih parah, pas waktu wisuda dia kesasar ke acara wisudanya anak TK”

“Betul tu wak, anak itu dari dulu memang ngerepotin kami berdua aja. Sejak peristiwa itu, gak ilang-ilang penyakit kesasarnya itu wak. Sabar aja lah wak, mungkin bentar lagi dia nyampek, yakin ajalah sama kata-kataku dan Bulwan wak”.

“Oke, kalok memang kalian ngomong gitu, wak akan coba yakin. Tapi kalo sampek besok pagi dia ga datang jugak, Berarti anak itu memang gak niat kerja di sini, dan Wak akan isi posisi yang akan kawan kelen tempati itu dengan orang lain. Yaudah, lanjutkan beres-beresnya lagi, udah hampir sore nih, bentar lagi kafe kita akan bukak. Kita harus siap-siap. Jangan lupa ingatkan Dwi, Putri, Molin, dan Ayu untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing ya Bul, karena kau itu asisten uwak di kafe ini, mengerti?”

“Oke Wak Geng, siap laksanakan! Hahaha, amaaaan!”.


_____


“Bang, mau ke Medan ya, saya boleh ikut menampung?”

“Menampung? Maksudmu menumpang? Enggak dek, kami mau ke Tebing Tinggi. Sepertinya adek gak bisa kami kasih tumpangan, soalnya di depan udah ada saya dan teman saya ini, Masih ada sih tempat kosong di gerobak belakang, tapi bau loh dek, karena barusan kami mengantar ayam potong dari Tebing Tinggi ke Siantar. Lagian saya juga takut kalau nanti di tengah jalan ada razia, kan gak boleh bawa penumpang manusia di mobil bak terbuka seperti ini”.

“Gak apa-apa itu Bang, Saya bisa tahan baunya kok. Ntar kalo emang ada razia, saya akan pura-pura jadi ayam, saya akan menirukan suara ayam. Abang tutupi aja gerobak belakang dengan terpal. Tolong lah Bang, saya udah gak punya uang lagi untuk ongkos ke Medan, Bang. Saya Mohon!!”

“i..i..ya deh iya. Yaudah naiklah dek, biar berangkat kita”

“Asek, Terima kasih banyak ya Bang”


_____


 “Selamat Siang Pak, Maaf mengganggu perjalanan Anda sebentar, bisa tolong tunjukkan SIM dan surat-surat kelengkapan kendaraan Anda?”

“Oh iya Pak, ini, silahkan diperiksa”.

“Oke, Lengkap. Emm..apa yang sedang Bapak bawa ini? Mengapa ditutupi terpal seperti ini?”

“O..oh i..i..ini Pak, saya sedang membawa ayam Pak”

“Oh begitu, kalau begitu bisa saya lihat isi di dalam terpal ini Pak?”

“Ja..ja..jangan Pak, ini Ayamnya sensitif Pak, gak bisa terkena sinar matahari, apalagi sinar matahari di iklim tropis seperti Indonesia ini Pak. Tolong jangan Pak, kasian Ayamnya, bisa gosong nanti kulitnya Pak. Ayam ini masih keturunan dari Ayamnya para bangsawan di zaman Mesir kuno Pak, jadi ini ayam langka Pak, Cuma ada satu-satunya di Indonesia Pak, Tolong Pak, jangan sakiti ayam ini Pak, sudah terlalu banyak penderitaan yang dia alami Pak, Dia Ayam yatim piatu Pak, Ayahnya tewas terpanggang oven, Ibunya tewas setelah disembelih dan dikuliti oleh tukang ayam, dan saudara-saudaranya, saudara-saudaranya harus tewas bahkan sebelum mereka menetas ke dunia ini Pak, tolong Pak, jangan sakiti ayam ini Pak, saya mohon!”.

“Njirr..Coeg sekali nasib ayam ini, semoga arwah keluarga ayam ini tenang di alam sana, Syedih saya mendengarnya. Yaudah hati-hati ya Pak supir, pelan-pelan bawa mobilnya, biar ayamnya juga nyaman di belakang. Sampaikan salam saya pada si ayam malang ini ya Pak supir”

“Baik Pak, Terima kasih banyak Pak, selamat bertugas kembali Pak Pol”


_____


“Dek..dek..udah sampai nih kita di Tebing Tinggi, kami tidak bisa mengantar adek lebih jauh lagi. Nanti adek cari tumpangan yang lain aja ya. Banyak kok kendaraan lain yang menuju ke Medan. Ini ada sedikit gorengan untuk adek, lumayanlah buat mengganjal lapar di perjalanan nanti. Kebetulan tadi saya nemu gorengan ini di dashboard mobil, tenang aja, masih bisa dimakan kok, saya yakin ini belum ekspayet, wong baru dibeli seminggu yang lalu kok. Maaf ya gak bisa bantu adek lebih banyak”

“Waduh, yang harusnya minta maaf itu ya saya Bang, Abang udah baik sekali memberikan saya tumpangan. Ngasih saya gorengan sisa minggu kemarin, dan udah ngelindungi saya waktu razia tadi. Sekali lagi saya mohon maaf udah ngerepotin Abang ya, dan terima kasih banyak untuk semuanya. Saya pamit dulu ya Bang, saya mau nyari mobil lain yang menuju ke Medan. Saya buru-buru nih, soalnya saya takut lowongan saya nanti bakalan diisi orang lain. Terima kasih banyak Bang, sampai jumpa”

“Sampai jumpa dek, hati-hati ya”.


_____


“Bau apa ini? Bau ini sepertinya tidak asing di hidungku, aku yakin aku pernah mencium bau ini sebelumnya, tapi apa? Dan di mana? Entahlah, aku sedang enggan untuk berfikir terlalu jauh. Lalu apa ini? Pipiku terasa hangat dan basah. Mataku terlalu berat untuk bisa kubuka, akh, sensasi apa ini? Lagi-lagi benda hangat dan basah itu menyentuh pipi kananku, telinga kananku, dan juga sebagian rambutku. Aku akan berusaha membuka mataku lagi, kelopak mataku masih terasa sangat berat untuk kuangkat. Ahh, biarlah, biarlah kubiarkan kedua mataku kembali terpejam. Mungkin aku terlalu lelah, aku harus mengizinkan tubuhku untuk beristirahat sejenak, mungkin tubuh ini terlalu lelah karena sudah kugunakan sejak tadi pagi berkeliling mencari alamat yang diberikan oleh Bulwan. Berjalan ke sana ke mari mencari Kafe Wak Geng, tersasar ke kota Siantar, menumpang di mobil bak terbuka yang baru selesai mengangkut ayam hingga ke Tebing Tinggi. Menumpang lagi di truk yang berisi Sapi hingga ke kota Medan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Semua ini demi mendapatkan pekerjaan. Semua ini demi sesuap nasi. Ahh, hidup ini tak semudah membalikkan telapak tangan ternyata. Tapi tunggu, Menumpang di truk sapi? Sesuatu yang hangat dan basah? Dan bau yang tidak asing? Jangan-jangan....”

“HUAAAAAAA!!!!”


Sapi yang terkejut juga berteriak tak kalah keras..


“MOOOOOOOO!!!”


Sementara itu di luar truk


“Suara apa itu Pak Supir? Kok sapi yang Bapak bawa suaranya aneh?”

“Anu, itu suara salah satu sapi yang saya bawa Pak. Kata dokter dia menderita sindrom HULKSAPITERIAKTERIAKISME, jadi sapi yang saya bawa itu terkadang merasa bahwa dia adalah Hulk, sehingga sapi tersebut sering berteriak-teriak apabila dia merasa tidak nyaman atau marah. Karena Bapak memberhentikan saya, mungkin sapi itu merasa gerah dan kepanasan di dalam sehingga dia merasa tidak nyaman dan marah, gitu Pak”

“Oh begitu, kalau begitu saya pengen liat gimana sih bentuk sapinya itu, saya akan masuk ke dalam”

“Jangaaaaaan pak, jangaan..Nanti sapinya ngamuk bahaya Pak, bahaya. Bapak pernah liat pelem Hulk? Yang dia ngamuk? Yang ngerusak kota? Bapak mau kota kita ancur gara-gara Sapi Hulk ini? Bapak mau disalahin karena jadi penyebab hancurnya kota? Mau Bapak? Mau?”

“Asem..Serem banget Coeg. Ga jadi ah. Udah jalan gih sono Pak. Pelan-pelan ya, jangan sampai bikin sapinya ga nyaman, dan kalo dia udah nyaman juga jangan ditinggalin gitu aja, karena saya juga pernah nyaman sama seseorang, tapi tiba-tiba ditinggalin, itu rasanya sakit Pak, sakiiitt”

“Eh..iya..anu..Sebenarnya saya masih pengen dengerin curhatan Pak Pol, tapi saya jalan dulu ya Pak, soalnya perjalanan saya masih jauh. Selamat bertugas Pak”

“Yoo..Hati-hati yaaa, jangan lupa pasang Set Beltnya dan patuhi rambu-rambu lalu lintas”


Kembali ke dalam gerobak...


“Fiuuh..Gara-gara jilatan sapi Amsyong ini, hampir aja ketahuan kalau aku lagi ada di dalam, Syukurlah Pak Supir berhasil mencegah Pak Pol masuk ke sini, Kalau tidak, Pak supir bisa ditilang dan aku harus mencari kendaraan lain yang bisa kutumpangi gratis untuk bisa sampai ke Medan. Nasib baik masih berpihak kepadaku ternyata”.


_____



“Sudah jam 8 malam nih Bul, kok kawan kelen itu belum datang juga ya? Apa memang dia gak niat kerja di sini?”.

“Mungkinlah Wak, Tapi kita coba tunggu aja lah sampai Besok Wak, kalo memang dia gak datang berarti memang udah jelas gak mau kerja di sini dia Wak”.

“Loh, truk siapa itu berhenti di depan kafe? Loh..loh..loh, kok di dalam truk ada sapi? Emang Wak Geng mau Qurban ya? Kan Idul Adha masih jauh Wak, kok cepat amat beliknya Wak?”
.
“Entah, Wak juga gak tau Bul. Coba kau tanyakkan dulu sama supirnya, ngapain dia parkir di situ. Kalok memang gak penting-penting kali, kau suruh aja dia maju lagi, biar parkirnya agak ke depan sikit, jangan di situlah, bauk nantik kafe kita, gak ada yang mau datang ke sini”.

“Oke Wak, Siap Laksanakan!”


Bulwan bergegas keluar dari kafe dan berjalan menghampiri sang supir truk yang sudah turun dari truknya dan kini berada di belakang truk


“Maaf Bang, ada perlu apa ya kok Abang memarkirkan truk Abang di sini? Bukan bermaksud kurang ajar ya Bang, tapi kalau bisa tolong truk Abang majuin dikit Bang, Abang parkir truknya di depan sana aja. Ini kan kafe Bang, takutnya ntar orang-orang gak mau masuk ke sini karena terganggu dengan bau truk Abang”

“Oh, iya Mas. Maaf ya, saya Cuma sebentar aja kok parkir di sini. Saya mau nurunkan penumpang Mas,  Katanya dia adalah calon pekerja di kafe ini Mas, tapi dia nyasar, dan tadi saya dan dia ketemu di Tebing Tinggi. Karena dia gak punya uang lagi dan saya juga kasian sama dia. Yaudah deh saya naikin aja dia ke truk saya. Sebentar biar saya panggilkan dia. Dek!, Dek!, kita udah sampai nih. Ayo buruan turun. Saya juga mau langsung ngantar sapinya nih. Ayo Dek, cepat!”


Lalu tiba-tiba sesosok pemuda berlari dan melompat dari dalam truk, lompatannya cukup tinggi hingga melewati Bulwan dan Pak Supir yang berada tepat di belakang truk.


“Alhamdulillah, akhirnya nyampek juga. Eh, Bulwan? Ngapain di sini? Katanya udah jadi asisten di Kafe Wak Geng, kok malah keluyuran gak jelas di luar gini? Nanti dimarahin bos loh, sana-sana masuk sana, kerja-kerja”

“Berisik! Aku tuh keluar bukan keluyuran, tapi disuruh Wak Geng karena truk ini parkir di sini, Aku pikir isi truknya cuma sapi doang, eh ternyata di dalamnya juga ada Raja Kerbo”

“Sembarangan aja kalo ngomong, aku tuh bukan raja kerbo, tapi putra mahkotanya. Oh iya, Terima kasih ya Pak Supir, Bapak udah memperbolehkan saya menumpang dan malah mengantarkan saya sampai ke tempat. Terima kasih banyak Pak, sekali lagi terima kasih banyak Pak”

“Iya Dek, sama-sama. Kalau gitu saya pamit dulu ya, saya mau ngantar sapi-sapi ini lagi, takut kemalaman, kasian sapinya, hehe”.

“Iya Pak, hati-hati di jalan Pak! Sampai ketemu lagi”


_____


“Jadi ini kawan kelen itu? Kok baru nyampek jam segini kau Dek?”

“I..iya Pak, Ma..ma..af Pak. Anu, saya tadi kesasar Pak, makanya saya terlamb..”

“Udah..udah. Gak usah ko jelasin lagi, Wak ngerti kok, Bulwan dan Nindrong udah cerita sedikit banyak tentangmu kok. Wak percaya kalok kau adalah orang yang jujur dan pekerja keras. Jadi, selamat datang di keluarga kafe Wak Geng, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Mulai besok kau udah bisa bekerja di sini sebagai pramusaji. Wak sebenarnya kepengen tau lebih banyak tentang kau, dan Wak juga pengen ngenalkan kau sama pekerja Wak yang lainnya, tapi keknya lebih bagus kalok kau sekarang naik ke atas, dan bersihkan badanmu, soalnya dari kau masuk tadi, Wak kecium bauk taik ayam dan bauk taik lembu di kafe kita ini. Abis kau mandi, istirahat aja kau dulu, nantik Wak suruh salah satu pekerja Wak ngantarkan makan malam dan teh hangat ke depan pintu kamarmu. Oh iya, hampir lupa Wak, mulai detik ini jangan panggil aku dengan sebutan Pak atau Bapak ya, panggil aja aku Wak Geng. Gak suka aku dipanggil Bapak, macam formal kali kurasa. Jadi panggil aja aku Wak atau Wak Geng, mengerti?”

“Ba..baik Wak, saya mengerti. Kalau begitu saya pamit ke atas dulu ya Wak”.

“Iya iya, naeklah kau dek. Istirahatkanlah badan kau itu, biar besok gak lesu kau kutengok. Dah, mandi lah mandi sana!”.


_____


Tok..tok..tok..


“Permisi!”


Tok..tok..tok..tok..


“Permisi!!!”


“CEKLEK”

Terdengar suara pintu yang terbuka. Lalu seiring dengan terbukanya pintu, tampaklah sesosok pemuda yang bertelanjang dada dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya

“Ya, ada apa ya? Maaf agak lama buka pintunya, tadi saya sedang... ”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”

“Ada apa? Kenapa?”


“Han..han,,duk..itu, han..handuk kamu melorot”