Sabtu, 23 Januari 2016

Wak Geng and The Geng 5 - Kemarahan Bulwan

Wak Geng and The Geng

Kemarahan Bulwan

Mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang utama kafe, Bulwan langsung keluar dari ruangannya, sementara beberapa detik kemudian Nindrong dan Molin juga muncul dari arah dapur.


“Ada apa ini kok pada ribut?” Tanya Bulwan penasaran.


Melihat Bulwan keluar dari ruangannya, Taunang, Dwi, Putri, dan Ayu sontak terdiam. Mereka saling memandang satu sama lain, namun tak satupun yang berani menjawab pertanyaan Bulwan. Bulwan sadar jika sesuatu telah terjadi di antara mereka berempat.


“Sekali lagi aku tanya, apa yang sudah terjadi di sini sehingga KALIAN RIBUT-RIBUT SEPERTI TADI?”.


Bulwan mulai emosi, raut wajah Bulwan terlihat mulai berubah, nada bicaranya juga sudah meninggi, namun keempat pramusaji masih saja saling pandang dan tetap diam membisu. Tak juga mendapatkan jawaban, Bulwan akhirnya naik pitam.

BRAAAAKKK!!!

Digebraknya meja kafe yang terbuat dari kayu tersebut sekuat tenaga, membuat seluruh orang yang berada di kafe, termasuk Nindrong dan Molin terkejut


“SIAPA SAJA, TOLONG JELASKAN PADAKU APA YANG SUDAH TERJADI DI KAFE INI BARUSAN? KALAU KALIAN MEMANG TIDAK ADA YANG MAU MENJAWAB, MAKA AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN BEREMPAT DAN AKAN KUBERITAHUKAN TENTANG MASALAH INI KEPADA WAK GENG”.


Bukannya mendapat jawaban, Teriakan Bulwan barusan malah membuat suasana semakin hening. Nindrong menatap Molin dengan alis terangkat, seolah ingin bertanya kepada Molin apa yang sebenarnya terjadi, namun Molin menjawabnya dengan mengernyitkan dahinya sambil mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa tak seharusnya Nindrong bertanya kepadanya sebab ia juga tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.

3 menit sudah berlalu dan masih saja tak terdengar jawaban dari pertanyaan Bulwan tadi dari mulut para pramusaji. Bulwanpun sudah kehilangan kesabarannya, ia kemudian memasukkan tangan kanannya ke saku celana untuk mengambil handphone yang akan digunakannya untuk menelepon dan menceritakan masalah yang tengah terjadi di kafe kepada Wak Geng, namun belum sempat Bulwan mengeluarkan handphonenya, lengannya tiba-tiba ditahan oleh Taunang


“Wan, udah, kau gak perlu nelpon dan ngasih tau Wak Geng tentang masalah ini. Sebelumnya aku minta maaf samamu Wan, aku terlalu takut untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku akui, aku lah yang membuat suasana menjadi seperti ini. Keributan ini berawal dari aku yang marah-marah sama Mbak Dwi. Aku marah karena di saat kita semua lagi sibuk-sibuknya ngelayanin pelanggan, Mbak Dwi malah menghilang dan baru datang setelah kafe tutup. Aku juga jadi tambah kesal karena Kak Ayu tiba-tiba sok jadi pahlawan dengan ngebelain Mbak Dwi. Tapi sekarang aku tahu aku salah, gak seharusnya aku marah-marah, apalagi aku pekerja baru di sini. Maafin aku, Wan. Maafin saya juga, Mbak Dwi, Kak Ayu. Tolong, jangan sampai Wak Geng tau tentang masalah ini, aku takut dia akan memecatku. Semuanya, maafin aku. maafin aku. Aku berjanji gak akan mengulanginya lagi”.


DUAK!!!


Sebuah pukulan dari Bulwan mendarat tepat di pipi kiri Taunang sehingga membuat Taunang jatuh tersungkur. Pukulan tersebut cukup keras hingga menyebabkan pipi Taunang merah dan dinding mulut bagian dalamnya pecah. Darah segar nan kentalpun mengalir dari sela-sela bibirnya hingga jatuh membasahi bagian depan kemeja yang dikenakan Taunang.

Melihat kedua sahabatnya bersitegang sampai sejauh itu, Nindrong tentu saja tak tinggal diam, ia segera memegang kedua lengan Bulwan dari depan dan mencoba menahan Bulwan agar tak lagi memukul Taunang.


“Wan, sudah Wan, sudah!! itu Taunang loh, kawan kau, kawan aku juga. Kita udah berkawan sejak bertahun-tahun yang lalu, masak cuma gara-gara masalah kecil kayak gini aja kau tega memukul dia, apa kau udah gila Wan? Kalau kau marah ya marah aja, tapi gak usah pake fisik juga dong”. Ujar Nindrong sembari berusaha menenangkan Bulwan.

“Ya, aku tau, aku tau dia memang kawan kita Ndrong, tapi dia juga udah bertindak sangat kurang ajar. Dia itu masih sehari bekerja di sini, dan dia udah lancang memarah-marahi Ayu dan Dwi yang jelas-jelas udah bekerja jauh lebih lama di kafe ini dibanding dia. Dia itu gak punya hak untuk marah pada siapapun di kafe ini. Akulah pemimpin di sini, jadi yang punya hak untuk menegur atau memarahi pekerja itu aku, bukan dia”.

Bulwan kemudian melanjutkan...

“Biar aku kasih tau samamu ya Nang, alasan Dwi terlambat dan gak masuk kerja hari ini adalah karena tadi pagi bapaknya Dwi tuh kecelakaan, jadi Dwi harus bergantian dengan ibunya jagain bapaknya yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Dwi juga tadi pagi udah minta izin samaku untuk datang terlambat, dan aku juga udah izinin dia untuk gak masuk hari ini meskipun Dwi gak meminta izin untuk itu”.

“Iya mungkin Taunang salah karena dia udah memarah-marahi Ayu dan Dwi. Tapi kan dia gak tau kalo Dwi berhalangan hadir itu karena ada sebabnya kan Wan? Udahlah, gak usah diperpanjang, sabar Wan sabar, tahan emosimu”. Ujar Nindrong mencoba menenangkan Bulwan

“Apapun alasannya, tetap aja dia udah kurang ajar Ndrong. Udahlah, kau gak usah ngebelain dia, ini urusanku sebagai pemimpin di sini. Nang, kau ingat kalimatku ini baik-baik ya, tujuan utama kafe ini didirikan bukanlah untuk mencari profit, profit memang penting, tapi bekerja sama dan sama-sama bekerja dalam ikatan persahabatan dan kekeluargaan jauh lebih penting. Itulah alasan mengapa Wak Geng mendirikan kafe ini. Aku itu marah karena tindakanmu yang memarahi Ayu dan Dwi barusan bisa merusak ikatan persahabatan dan kekeluargaan yang sudah kami jalin selama ini di sini. Kau tahu, akibat dari perbuatanmu itu, Wak Geng bisa saja memecatmu sekarang juga”.


Sementara itu, Dwi yang merasa kalau dirinyalah penyebab keributan tersebut semakin merasa bersalah ketika Taunang dipukul oleh Bulwan. Dwi tahu kalau Taunang sengaja melakukan itu untuk melindungi dirinya dan juga Ayu dari kemarahan Bulwan, akan tetapi tetap saja ia merasa tak tega melihat Taunang mendapat perlakuan seperti itu dari Bulwan. Setelah berfikir sejenak, Dwi akhirnya membulatkan tekadnya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bulwan meskipun ia tahu resiko dari perbuatan yang akan ia lakukan.


“Bang Bulwan, ini bukan kesalahan Taunang bang, jadi tolong jangan hukum dia. Kasih Dwi kesempatan untuk menjelaskan semuanya bang,”, Ucap Dwi yang akhirnya buka suara.

“Menjelaskan? Maksudnya kamu mau menjelaskan apa Dwi? Abang gak ngerti?”.

“Sebenarnya Taunang itu....”.


Belum sempat Dwi menyelesaikan kalimatnya, Taunang langsung bangkit berdiri dan memegang lengan Dwi yang kontan saja membuatnya langsung berhenti berbicara.


“Gak ada yang harus dijelasin, akulah yang bersalah dan jadi penyebab keributan ini. Wan, kalau memang kau mau ngelaporin, laporin aja aku ke Wak Geng. Aku siap kalau memang aku harus dipecat”.


Bulwan terdiam, ia tak menyangka kalau Taunang akan berani menantangnya seperti itu. Sebenarnya Bulwanpun tak yakin kalau Taunang bersalah, karena ia mengenal betul siapa Taunang dan bagaimana sifat dan sikapnya, akan tetapi Taunang sendiri tadi mengatakan hal yang malah memojokkan dirinya sendiri sehingga Bulwanpun menjadi kalut dan lepas kendali.


“Ah sudah.sudah. Aku pusing denger penjelasan kalian berdua. Yaudah, kalau gitu aku akan melupakan kejadian ini dan merahasiakannya dari Wak Geng, tapi ingat, aku gak mau kejadian ini terulang kembali. Oh iya, besok jam 9 pagi, aku dan Wak Geng akan menjenguk bapaknya Dwi di rumah sakit. Kalau kalian ingin pergi bersama-sama, kumpul di kafe jam 8.50, tapi kalau memang kalian ingin pergi sendiri-sendiri juga silahkan, asalkan tidak di jam kerja atau mengganggu waktu istirahat bapaknya Dwi. Wak Geng tadi menghimbau kepada kita semua untuk bisa datang dan memberikan doa serta semangat ke bapak dan ibu Dwi, kita tunjukkan rasa solidaritas dan simpati kita ke keluarga Dwi. Kalau begitu seperti biasa, aku sangat berterima kasih atas kerja keras kalian hari ini dan mari berharap semoga esok akan lebih baik lagi. Baiklah, Silahkan kalian kembali ke rumah kalian masing-masing”. Ujar Bulwan.


_____


“Nang, kenapa kamu melakukan itu Nang? Kenapa kamu gak mengatakan yang sebenarnya aja? Coba nih liat, kamu jadi memar gini dan mulut kamu juga ngeluarin darah terus. Aku..aku minta maaf ya, semuanya gara-gara aku, aku memang pembawa sial”.

“Husssh!! Ngomong apa sih Mbak? Gak baik ngomong kayak gitu, Mbak Dwi itu pembawa keberuntungan loh, bukan pembawa sial. Buat saya mbak Dwi itu adalah lucky starnya saya, jadi saya gak mau Mbak ngomong kayak gitu lagi, janji?”.

“He..em!!”. Jawab Dwi sambil tersenyum, air matanya kembali menetes karena terharu melihat kebaikan Taunang.

“Gitu dong, Mbak lebih keliatan manis kalo lagi senyum, hehe. Loh kok Mbak nangis lagi? Bentar, maaf ya Mbak, tapi saya bukan bermaksud lancang loh, beneran”. Ujar Taunang sambil lagi-lagi menghapus lagi air mata Dwi dengan sapu tangannya.

“Nang, makasih ya udah baik banget sama saya. Sebagai gantinya boleh ya saya ngobatin luka di pipi kamu, sebenarnya gak sebanding sih sama kebaikan kamu ke saya, tapi saya gak tau mau kayak mana lagi ngebalasnya, boleh ya”.

“Kebaikan? Hahaha, Mbak Dwi kadang-kadang suka melebih-lebihkan nih, cuma gitu doang kok. Gak usah pake dibalas-balas segala deh Mbak. Saya cuma gak mau Mbak Dwi dimarahi Kak Ayu, dan Kak Ayu juga dimarahi Bulwan, itu aja kok. Emm, boleh aja sih, tapi kayaknya Mbak Dwi lebih bagus pulang aja deh. Kasian ibunya Mbak Dwi nungguin Mbak Dwi di rumah, udah larut malam juga, besok-besok aja lah Mbak”.

“Memang seperti itulah kenyataannya, kamu itu baik banget orangnya. Terima kasih banyak ya. Iya sih, udah lewat tengah malam juga, tapi tenang aja, malam ini saya dan ibu saya tidurnya di rumah sakit, jadi ibu gak akan terganggu kalau saya pulangnya telat. Emm, oh iya, kalau gitu saya ngobatin luka kamu di rumah sakit aja ya, sekalian kamu ngantarin saya ke sana, saya agak takut nih kalau harus jalan sendirian ke sana. Ya ya”.

“I..iya deh, yaudah kalo gitu kita jalan sekarang yuk Mbak, udah makin larut malam nih”.

“Oke”.

_____


Ayu tengah mengambil barang-barangnya di dalam loker dan bersiap-siap untuk pulang, namun alangkah terkejutnya ia ketika tiba-tiba Bulwan sudah ada di sampingnya..


“Yu, abang boleh ya nganterin kamu pulang? Udah lewat jam dua belas malam nih, bahaya loh kalau cewek secantik kamu jalan sendirian di tengah malam seperti ini”.

“Eh, bang Bulwan, bikin kaget aja. Emm, Makasih ya bang, tapi Ayu jalan sendiri aja. Rumah Ayu kan gak terlalu jauh dari sini, dan Ayu juga gak sendirian, Ayu bisa bareng sama Dwi karena rumah kami kan searah”.

“Iya, abang tau. Tapi kan tetap aja bahaya kalau gak ada cowok yang nemenin, di depan situ banyak preman-preman yang suka godain cewek-cewek loh. Gak takut?”.

“Ayu tau kok kalo maksud abang baik, makasih ya buat perhatiannya, tapi Ayu rasa gak usah Bang. Tenang aja, Ayu gak takut kok, Ayu bisa urus diri Ayu sendiri. Yaudah Ayu pamit dulu ya, permisi”. Jawab Ayu sambil tersenyum.


Ayu berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan Bulwan yang masih menatapnya dari belakang. Wajah Bulwan tampak kecewa, sebab, ini bukan kali pertama Bulwan medapatkan penolakan dari Ayu, beratus-ratus kali sudah ia mencoba menawarkan diri untuk menemani Ayu pulang, namun beratus kali pula Ayu menolaknya.

Meskipun ia sudah sangat sering mendapat penolakan, namun ia tak kunjung menyerah. Bulwan adalah pria yang sangat ambisius, ia akan berjuang keras demi mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Ia selalu yakin kalau suatu hari nanti, Ayu akan mau ditemani pulang oleh dirinya, dan Ia tak akan pernah mundur sebelum berhasil merebut simpati dan perhatian Ayu. Lagi-lagi Bulwan kembali berkhayal dan lagi-lagi ia disadarkan oleh suara dari orang yang sama


“Bang Bulwan! Bang Bulwaaan!!”.

“Eh! Iya maaf, loh Putri, ada apa dek?”.

“Tuh kan, makanya jangan melamun aja kerjanya. Bang, Anterin Putri Pulang dong. Putri takut nih lewat perempatan di depan situ, banyak premannya Bang. Putri takut digodain sama mereka”.

“Sama Bang Nindrong aja ya Put, Abang capek banget nih, gak apa-apa kan?”.

“Loh, kok sama Bang Nindrong sih? Putri maunya Bang Bulwan aja yang nganterin Putri”.

“Duh! Beneran dek, Abang capek banget. Sama Bang Nindrong aja ya Put, sekalian kan dia juga mau nganter Molin. Tenang aja, Bang Nindrong juga jago bela diri kok. Jadi biarpun dia sendiri, gak akan ada yang berani ganggu kalian, aman lah pokoknya”.

“Yaudah deh, Bang Bulwan selalu kayak gitu sama Putri, gak pernah mau nganterin Putri. Kalo gitu Putri pamit dulu ya Bang, permisi”.

“Eh, i..iya dek. Hati-hati di jalan ya”.


_____


“Lin, menurutmu apa yang dibilang Taunang tadi bener gak? Ituloh yang dia ngaku-ngaku sebagai penyebab keributan tadi. Kok aku sama sekali gak yakin ya kalau dia itu berani ngomong kasar sama orang, apalagi sama cewek?”.

“Entahlah, aku kurang yakin juga sih Ndrong, menurutmu kayak mana? Apa iya Taunang tega berbuat kayak gitu sama Dwi?”.

“Aku gak yakin juga sih, tapi aku yakin Taunang tidak bersalah Lin, aku kenal betul siapa dia. Dia pasti melakukan ini untuk melindungi...tunggu dulu, jangan-jangan...ah! Akan kupastikan hal ini besok, akan kutanyakan langsung kepada dia”.

“Dia? Maksudmu yang sedari tadi berada di tempat namun tak mengatakan sepatah katapun? ya aku juga merasa dia tau peristiwa itu sejak awal, tapi kenapa dia tidak cerita dan mengatakan hal yang sebenarnya ya sama Bulwan?”.

“Entahlah Lin, itu cuma asumsi kita aja. Untuk lebih jelasnya aku akan tanyakan langsung besok ke dia, tapi aku ragu dia mau menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena mungkin dia segan atau takut dengan seseorang”.

“Bisa aja sih, tapi ada kemungkinan juga kan kalo Taunang memang berubah sejak kejadian itu, tapi yaudahlah, besok-besok aja kita bahas itu. Sekarang anterin aku pulang yok! Udah larut malam nih, kalo gak aku bakalan nyanyi nih”.

“Eh..iya-iya, aku anterin kok, tapi pliss jangan nyanyi ya, pliss! Aku mohon”.

“Iya..iya, yaudah yuk jalan”.


Nindrong dan Molin kemudian bergegas pergi meninggalkan kafe. Namun belum lama mereka berjalan tiba-tiba seseorang memanggil mereka dari belakang.


“Kak Molin! Bang Nindrong! Tungguin Putri dong”.

“Eh, Putri. Mau pulang bareng juga? Bulwan mana”.

“Iya Bang, hehe. Bang Bulwan gak bisa nganterin Putri bang, katanya dia lagi capek, jadi Putri minta dianterin sama bang Nindrong aja ya, kan kostnya Putri dan kost kak Molin deketan, jadi boleh ya bang, soalnya Putri takut pulang sendirian nih”.

“Iya boleh, yaudah yuk jalan”.


Nindrong, Molin, dan Putri kemudian berjalan bersama-sama. Sama seperti Molin, Putri juga memilih untuk ngekost di sekitar kafe Wak Geng. Kost-kostan mereka terbilang cukup dekat karena dapat ditempuh sekitar 10 menit jika berjalan kaki. Putri dan Molin memang bukan penduduk asli kota Medan, mereka berdua datang dari daerah mereka masing-masing ke kota Medan untuk mengais rezeki dan pada akhirnya takdir mempertemukan mereka berdua sebagai rekan kerja di kafe Wak Geng.

Walau jarak dari kafe ke kost-kostan Putri dan Molin cukup dekat, namun perjalanan tersebut terasa sangat panjang, sebab meskipun sudah hampir separuh perjalanan mereka lalui, mereka hanya berjalan dan terus berjalan dalam hening malam. Tak satupun dari mereka bertiga yang mencoba untuk berinteraksi satu sama lainnya. Putri merasa bahwa hal itu ada kaitannya dengan peristiwa sebelumnya yang terjadi di kafe. Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hati Putri sedari tadi, akan tetapi ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan hal tersebut, namun ia juga merasa tak enak jika terus-menerus memendam hal tersebut di dalam hatinya. Dengan ragu-ragu akhirnya Putripun buka suara.


“Bang Nindrong, Kak Molin, sebelumnya Putri minta maaf ya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Putri ceritain ke kalian, tapi janji ya abang dan kakak gak akan marah sama Putri”.


Sontak Nindrong dan Molin langsung mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Nindrong sebenarnya sudah sedari tadi ingin menanyakan sesuatu kepada Putri, namun ia mengurungkan niatnya karena sepertinya tanpa diminta, Putri juga akan segera memberikan jawaban dari pertanyaan Nindrong.



“Sebenarnya Putri tau kronologis kejadian di kafe tadi, dan Putri juga tau siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa yang sebenarnya pura-pura bersalah”.

Kamis, 21 Januari 2016

Wak Geng and The Geng 4 - Hari Pertama Taunang (2)

Wak Geng and The Geng

Hari Pertama Taunang (2)

“Malah ngeles lagi, yaudah deh lupain aja. Sekarang ayo ikut aku, ada hal penting yang mau kujarkan sama kamu. Biar aku yang melayani pelanggan pertama itu, kamu cukup berdiri di sampingku dan perhatikan baik-baik caraku melayani pelanggan”
.
“I..iya Kak..”


Taunang mengikuti langkah Ayu dari belakang menuju ke sebuah meja yang kini sudah diduduki oleh seorang pelanggan



“Permisi Bang, Selamat sore! Saya Ayu, salah satu pramusaji di sini. Abang mau pesan apa? Ini menunya Bang, ini daftar menu makanannya dan ini daftar menu minumannya, silahkan dipilih”.

“Aku mau pesan Nasi Goreng Rebusnya satu, Jus Terong Belanjanya satu, sama air mineralnya satu botol. Itu aja Dek”.

“Air mineralnya yang ada manis-manisnya atau yang bikin konsentrasi nambah Bang?”

“Yang ada manis-manisnya aja Dek”.

“Oke, terima kasih. Pesanan Abang akan kami sediakan dalam beberapa menit lagi, mohon menunggu sebentar”.



Setelah mencatat pesanan pelanggan kafe ke dalam secarik kertas, Ayu segera mengantarkan kertas tersebut kepada Nindrong dan Molin yang berada di dapur. Sembari menunggu pesanan dimasak oleh Nindrong dan Molin, Ayu kembali ke depan untuk menemui Taunang.



“Nah, gitu caranya, awali dengan senyuman, beri salam, kemudian tanyakan menu makanan dan minuman apa yang diinginkan oleh pelanggan. Bila memang diperlukan, tanyakan juga secara detail tentang menu pesanannya agar kita tidak salah memberi pesanan pada mereka dan mereka juga tidak kecewa. Ngerti? Oh iya, jangan lupa juga untuk mencatat pesanan dan nomor meja mereka, dan ingat, selalu layani pelanggan dengan ramah dan senyum”.

“Udah, gitu aja Kak? Baiklah, saya udah ngerti kok”.

“Ada lagi nih, hampir aja aku lupa ngasih tau kamu. Catatan pesanannya kasih ke bagian dapur, terus tinggal aja sebentar ke depan, siapa tau ada pelanggan lagi yang masuk. Nah nanti kalau memang pesanan yang ada dicatatan yang kamu bawa tadi udah selesai, Kak Molin atau Bang Nindrong akan manggil salah satu di antara kita untuk ngambil pesanan itu dan mengantarkannya ke meja pelanggan. Pastikan pesanan sampai ke meja pelanggan dengan baik, jadi jangan terburu-buru membawanya karena nanti hidangannya bisa berantakan, ada pertanyaan lagi?”.

“Saya rasa saya gak ada kak, udah ngerti kok, tinggal praktek aja nih”.

“Oke, kalau gitu sekarang waktu yang tepat buat kamu praktek. Liat tuh, ada pelanggan lagi yang menuju ke sini, kamu layani dia dengan baik dan jangan lupa beri salam dan selalu bersikap ramah. Oke, selamat berjuang”.

“Siap Kak, saya yakin saya pasti bisa”



Dengan buku menu yang diapit di tangan kanan, Taunang berjalan penuh percaya diri menuju meja pelanggan pertamanya. Jantungnya masih berdegup kencang, namun tak sekencang sebelumnya, sebab ia telah diajari oleh Ayu, dan Taunang sangat yakin bisa mempraktekkan pelajaran yang diterimanya barusan dengan baik.



“Permisi Mas, Selamat sore! Saya Taunang, salah satu pramusaji di sini. Mas mau pesan apa? Ini menunya Mas, ini daftar menu makanannya dan ini daftar menu minumannya, silahkan dipilih”.

“Saya pesan Nasi Soto Profil satu dan Jus Vengkoang juga satu. Itu aja Bang”.

“Oke, terima kasih. Pesanan Mas akan kami sediakan dalam beberapa menit lagi, mohon menunggu sebentar ya Mas”.



Setelah selesai mencatat pesanan pelanggan pertamanya, Taunang kemudian berjalan menuju dapur untuk memberikan catatan tersebut kepada Molin dan Nindrong dan kembali lagi ke depan. Beberapa menit kemudian...



“Pesanan meja nomor 7 siap!!”



Mendengar suara teriakan dari arah dapur, dengan sigap Taunang langsung bergegas ke dapur dan mengambil pesanan yang disiapkan untuk meja nomor tujuh. Oleh Nindrong dan Molin, pesanan tersebut diletakkan di atas sebuah nampan. Taunang tahu kalau ia tidak boleh gagal, Dibawanya nampan berisi semangkuk Soto Profil dan segelas jus Vengkoang tersebut dengan sangat hati-hati. Setibanya Taunang di meja nomor tujuh, seluruh hidangan di atas nampan segera disajikannya ke atas meja.



“Ini pesanannya Mas, Soto Profil dan Jus Vengkoang. Sudah cukup atau ada menu yang mau dipesan lagi, Mas?”.

“Oh, enggak Bang, cukup ini aja”.

“Oke, Silahkan dinikmati hidangannya Mas. Kalau begitu saya tinggal dulu ya Mas, saya mau ngelayani pelanggan yang lain lagi. Permisi Mas!”

“Iya Bang, silahkan”.



Dari kejauhan tampak Ayu tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya kepada Taunang, Taunang membalasnya dengan sebuah senyum sambil berjalan mendekati Ayu dan kemudian memegang pundaknya.



“Makasih banyak ya Kak, Makasih udah ngajarin saya. Kalau Kakak enggak ngajarin saya tadi, mungkin yang bisa saya lakukan di hari pertama saya bekerja cuma bikin kacau dan saya pasti akan bikin banyak kesalahan dalam melayani pelanggan. Sekali lagi terima kasih banyak Kak”.

“I..iya, sama-sama. Tapi tolong ini tangan kamu lepasin dari pundakku, gak enak nanti diliat sama yang lain”.

“Oh iya Kak, maaf..maaf, Saya gak sadar, mungkin saya terbawa suasana soalnya ini hari pertama saya bekerja. Hehehe. Sekali lagi makasih ya Kak”.



Ayu tak menjawab, ia hanya tersenyum. Untuk beberapa detik ia merasa tarikan nafasnya sedikit berat. Ia merasa Taunang sedikit tidak sopan karena sudah lancang memegang bahunya, akan tetapi ia juga heran pada dirinya sendiri karena sedikitpun ia tak ingin marah ketika disentuh oleh pemuda yang baru dikenalnya itu.


_____


“Pesanan meja nomor 9, siap!!”


Kembali terdengar sebuah teriakan dari arah dapur, memberi tahu para pramusaji jika menu yang dipesan oleh pelanggan telah selesai dibuat dan siap untuk dihidangkan di meja pelanggan


“Nang, kamu yang ambil pesanan di dapur ya, terus nanti antar ke meja nomor sembilan. Putri mau ke toilet sebentar. Tadinya Putri mau minta tolong ke Kak Ayu, tapi Kak Ayunya juga lagi sibuk ngelayani pelanggan tuh, jadinya Putri minta tolong sama kamu aja ya. Tolong ya Nang ya, Putri udah kebelet pipis nih”.

“Oh, iya siap Put, tenang aja, ntar aku antarin kok”.

“Oke, Makasih Nang, Putri tinggal dulu ya, udah gak tahan nih”.

“Iya..iya. Yaudah cepetan sana”.



Taunang bergegas ke dapur untu mengambil hidangan dan kemudian mengantarkannya ke meja nomor sembilan. Tak lama, pelanggan-pelanggan baru kembali berdatangan sehingga membuat Taunang cukup kerepotan, Ayupun demikian. Hari ini pengunjung kafe cukup banyak sehingga semua pekerjanya tampak sangat sibuk melayani para pelanggan yang datang silih berganti.

Kafe Wak Geng memang cukup terkenal di kota Medan, sebab selain rasa masakan dan minumannya yang enak, harga yang relatif terjangkau, dan pelayanannya yang ramah dan sopan, Kafe Wak Geng juga menyediakan berbagai makanan dan minuman unik yang tidak bisa dijumpai di tempat lain. Selain itu, Wak Geng juga menyediakan dua buah televisi layar lebar untuk memanjakan para pelanggan yang ingin menonton pertandingan-pertandingan olahraga seperti sepak bola dalam dan luar negeri, moto gp, bulutangkis, atau kejuaraan olahraga lainnya. Tempat yang nyaman ditambah fasilitas WiFi dan colokan listrik gratis bagi para pelanggan juga turut andil membuat kafe ini tak pernah sepi peminat, sehingga tak heran jika kafe ini selalu penuh meskipun kapasitasnya cukup besar, yaitu 40 meja dan 160 kursi.

Wak Geng sendiri adalah seorang pengusaha sukses dan kaya raya. Ia memiliki beberapa perusahaan yang cukup besar yang memproduksi berbagai macam barang kebutuhan seperti tusuk gigi, batu nisan, kain kafan bermotif, korek kuping, hingga karet gelang yang biasanya diekspor ke Eropa, Asia Pasifik, Australia, Amerika Serikat, Amerika Selatan, dan beberapa negara di Afrika. Meskipun ia sangat berhasil dalam bisnis, kehidupan pribadinya cukup mengenaskan. Sudah sepuluh tahun ia hidup sendirian, Dua belas tahun yang lalu sang istri pergi meninggalkan Wak Geng dan anak perempuannya untuk selama-lamanya karena keselek tusuk gigi. Dua tahun setelah kepergian istrinya, anak semata wayangnya juga meninggal dunia akibat kebanyakan ngemil anti nyamuk bakar. Wak Geng sangat terpukul karena kejadian tersebut. Ia tidak dapat menerima bahwa kini ia tidak lagi memiliki keluarga. Setiap hari ia mabuk-mabukan dengan naik bus antar provinsi, acap kali ia juga terlihat meratapi nasibnya dengan duduk termenung di WC umum, bahkan yang lebih parah, ia juga pernah memiliki keinginan untuk pergi meninggalkan seluruh harta dan bisnisnya untuk membantu Naruto mencari Sasuke. Harapannya untuk hidup sempat sirna sampai pada suatu hari ia bertemu dengan Bulwan yang saat itu juga tengah mabuk-mabukan di dalam bus antar kota antar provinsi.



“Hueek!! Mabuk lu bro?” Tanya Wak Geng pada Bulwan

“Hueeek!! Iya, Gue lagi mabuk berat nih bro”. Jawab Bulwan.

“Gue juga bro, ajib banget nih supir bus, jago banget bikin gue mabuk, Hueek!!”.

“Hueek!! Iya bro, memang sakti nih supir. Gue aja sampe teler begini. Mantap!!. Gara-gara dia nih, gue bisa mabuk dan berhasil melupakan semua masalah yang ada di kepala gue. Huahahahueeek!!”.

“Hueek! Masalah lu apa bro? Cerita aja ke gue, siapa tau gue bisa bantu lu”.

“Jadi gini bro, pada zaman dahuluuuuuu....”



Bulwan menceritakan semua masalah yang sedang dialaminya saat itu kepada Wak Geng, begitu pula dengan Wak Geng yang menceritakan semua kesedihan yang dideritanya kepada Bulwan. Singkat kata, setelah sama-sama saling mencurahkan keluh kesah masing-masing, Wak Geng merasa ada kontak batin dengan Bulwan. Wak Geng pun menawari Bulwan untuk menjadi anak angkatnya, dan Bulwanpun menerima. Namun Bulwan tak ingin memanggil Wak Geng dengan sebutan Ayah, sebab ia hanya ingin memanggil Ayah kepada Ayah biologisnya saja. Wak Geng memaklumi hal tersebut, ia juga tidak memaksa Bulwan untuk memanggilnya Ayah meskipun Bulwan sudah menerimanya sebagai ayahnya. Wak Geng mempersilahkan Bulwan untuk memanggilnya dengan sebutan yang disukai oleh Bulwan, dan Wak Geng adalah panggilan yang dipilih Bulwan untuk menyebut ayah angkatnya tersebut.

Wak Geng yang sudah menjadi ayah angkat Bulwan, menawari Bulwan untuk bekerja di salah satu perusahaan miliknya. Meskipun saat itu Bulwan sedang menganggur, akan tetapi dengan halus bulwan menolak permintaan tersebut sebab ia lebih suka menjadi seorang pengusaha dan ia sama sekali tidak ingin memanfaatkan kedekatannya dengan Wak Geng menjadi sebab mengapa ia mendapatkan pekerjaan. Mendapat penolakan dari Bulwan, Wak Geng sama sekali tidak tersinggung, ia bahkan bangga bisa bertemu pemuda seperti Bulwan. Wak Geng sadar betul kalau sifat Bulwan memiliki kesamaan dengan dirinya ketika muda yang keras kepala dan tidak ingin merepotkan orang lain.



“Yaudah, kalo emang keputusan lu untuk gak mau bekerja di perusahaan gue udah bulat, gue bisa nerima. Tapi lu kan sekarang nganggur Wan, sebagai orang yang udah nganggap lu sebagai anak sendiri, gue gak tega kalo ngebiarin lu tetap nganggur Wan. Emang lu mau bangun usaha apa sih?”.

“Gue mau bangun usaha kafe Wak. Sejak awal kuliah dulu, gue udah bercita-cita ingin bangun suatu usaha di mana gue dan teman-teman gue bisa bekerja bareng. Tapi gue sadar kalau buat kafe itu butuh biaya besar, gue gak ada modal Wak. Oh satu lagi Wak, hubungan kita kan udah seperti bapak dan anak, kayaknya gak etis kalau kita pakai lu dan gue, dan juga kita kayak orang yang salah gaul kalo kita pakai lu dan gue di Medan”.

”Oke..oke. Mulai sekarang gue akan pake logat Medan, biar senang hatimu. Oh jadi udah ada rencana bisnismu, cemmana kalo Wak jadi investormu aja, mau kau kan?”.

“Mmm..mm..maksudnya Wak?”

“Iya, investor. Bah! Gak ngerti kau apa itu investor? Investor itu yang polisi-polisi itu loh, yang ada dibikin film sama orang bule, kalo ga salah judulnya Investor Gadget”.

“WOOII ITU INSPEKTUR WOOOIII!!! Kalau Investor aku ngerti kok Wak”.

“Nah! Ngertinya kau. Jadi kok purak-purak bodoh kau? Lagian gak perlu kau teriak-teriak samaku, aku ini ayah angkatmu. Yaudahlah, lupakan aja. Jadi gini, Wak akan investasikan uang Wak agar bisa kau membangun kafe supaya kau bisa mewujudkan cita-citamu membangun usaha dan bekerja bersama dengan kawan-kawanmu itu. Nantik kau yang ngelola dan buat laporan keuangannya, terus kau kasihkan ke Wak. Buat laporan penjualannya juga, laporan penjualan perhari, perminggu, dan perbulan. Jangan nolak kau ya, ini Wak yang meminta, jadi jangan kau harus mau ngikutin rencana Wak”.



Bulwan terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa, bahkan menahan air matanya saja ia tidak bisa. Bulwan langsung memeluk Wak Geng dengan erat. Air matanya terus mengalir dengan deras, membasahi pipi dan juga pundak Wak Geng. Di dalam hatinya, Bulwan sangat bersyukur takdir mempertemukan dirinya dengan Wak Geng, orang kaya dan baik hati yang kini telah menjadi ayah angkatnya.



“Sudah..sudah..Bulwan, mulai besok kita akan mulai membangun kafe impianmu itu. Jadi persiapkan dirimu untuk menjadi seorang pengusaha. Perbanyak belajar dari pengalaman-pengalaman para pengusaha sukses. Ada banyak tuh artikel-artikelnya di majalah dan internet. Tunjukkan kepada Wak kalau kau mampu, tunjukkan pada ayahmu ini, Nak!”.

“Baik Wak, Terima kasih, terima kasih banyak, Wak”.


_____


Waktu sudah menunjukkan jam 10.45 malam, dan 15 menit lagi kafe akan segera tutup. Ayu bergegas berjalan ke arah pintu dan mengubah tulisan di pintu masuk dari OPEN menjadi CLOSE Hal itu sengaja dilakukan agar tidak ada lagi pelanggan baru yang datang sehingga kafe bisa tutup tepat jam 11 malam.

15 menitpun berlalu, satu persatu pelanggan pergi meninggalkan kafe hingga tak satupun dari mereka yang masih tersisa di dalam. Taunang, Putri, dan Ayu segera merapikan letak meja dan kursi serta membawa gelas-gelas dan piring-piring kotor yang berada di atasnya ke dapur. Sampai tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kafe

 CEKLEK!!


“Maaf, kafenya sudah tutup. Gak liat tulisan di depan ya?” Ujar Ayu yang sedang membersihkan meja tanpa melihat ke arah pintu

“Iya, aku tau kok Yu. Hai semuanya! Maaf ya aku terlambat, tadi aku gak bisa masuk karena...”

“Loh, Dwi!! Kemana aja kau? Kenapa gak sekalian besok aja kau datangnya? Kami dari tadi kewalahan melayani pelanggan tapi kau malah gak datang-datang. Kalau kerja jangan suka-sukanya aja dong”.

“Eh, Bukan gitu Yu. Anu, aku tadi..ayahku..”.

“Udah, gak usah banyak alasan. Bulan ini aja kau udah dua kali  gak masuk, lima kali terlambat, dan dua kali pulang cepat. Ingat ya Dwi, kau itu masih baru di sini, sebelum Taunang datang kemarin, kau itu pekerja paling junior di sini, dan juga yang ngerekomendasiin kau ke Bang Bulwan itu aku. Jadi kau jangan buat aku malu”.



Dibentak oleh Ayu seperti itu membuat Dwi sangat sedih. Air matanya perlahan mengalir di kedua pipinya. Namun ia tak berani membantah perkataan Ayu karena memang Ayulah yang merekomendasikan dirinya kepada Bulwan sehingga Dwi bisa bekerja di kafe Wak Geng. Dwi juga merasa berhutang budi kepada Ayu karena selama ini keluarga Ayu telah banyak membantu Dwi dan keluarganya.

Dwi adalah tetangga Ayu, berbeda dengan Dwi yang berasal dari keluarga sederhana, Ayu adalah anak orang kaya. Papa Ayu dan Bapak Dwi adalah teman akrab semasa kecil sehingga tak heran jika keluarga Ayu sering memberikan bantuan kepada Dwi dan keluarganya. Meskipun Ayu adalah anak orang kaya, namun ia tak malu untuk bekerja hanya sebagai pramusaji di sebuah kafe, meskipun ia sedikit keras kepala, pemarah, dan kasar. Namun ia adalah anak yang perempuan yang mandiri, yang tidak ingin selalu bergantung kepada orang tuanya.



“Maaf Mbak Dwi kalau saya dianggap lancang, tapi saya tidak tahan melihat perempuan menangis di depan saya”



Segera Taunang mengeluarkan sehelai sapu tangan dari kantungnya dan menghapus air mata Dwi dengan sapu tangan tersebut. Mendapat perlakuan seperti itu, seketika Dwi terpaku, pupil matanya membesar, pipinya memerah, degup jantungnya berdegup kencang, dan air matanya seketika terhenti. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Taunang, pria yang baru dikenalnya kemarin malam akan melakukan hal tersebut.



“Saya juga minta maaf sebelumnya, tapi saya rasa Kak Ayu udah keterlaluan. Saya tahu kalau Kakak dan Putri pasti lelah, saya juga merasakan hal yang sama. Tapi rasa lelah Kakak itu gak bisa dijadikan alasan untuk bisa membentak dan berkata kasar kepada Mbak Dwi. Saya yakin kalau Mbak Dwi pasti punya alasan kuat kenapa ia tidak masuk hari ini. Biarkan Mbak Dwi menjelaskannya kepada kita semua terlebih dahulu sebelum Kakak berkata kasar ke Mbak Dwi. Saya gak bermaksud membela Mbak Dwi, tapi Ucapan Kak Ayu barusan benar-benar sangat kasar. Maaf kalau Kak Ayu menganggap saya lancang”.

“Oh, jadi selain Bang Bulwan, Bang Nindrong, dan Kak Molin, sekarang kau punya pembela yang baru ya Dwi, selamat deh kalau gitu, selamat!!”.



Ceklek!!

Mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang utama kafe, Bulwan langsung keluar dari ruangannya, sementara beberapa detik kemudian Nindrong dan Molin juga muncul dari arah dapur.




“Ada apa ini kok pada ribut?” Tanya Bulwan penasaran.