Kamis, 05 Juni 2014

Mas Boy Before Mblewer Part VIII

Di hari pertandingan, para siswa dan siswi berkumpul di empang untuk memberikan dukungan kepada peserta lomba. Mereka penasaran apakah Romlah mampu menandingi Bulqha dalam adu renang. Namun ternyata, yang menjadi peserta bukanlah hanya Romlah dan Bulqha saja, Maknang dan Jambang juga akan bertanding sebagai rival. Sebelumnya, Maknang bersikeras untuk tetap ikut bertanding karena ia merasa tidak fair rasanya jika ia mewakilkan dirinya pada Romlah. Sementara itu, Jambang yang tahu kalau Lisgon memiliki fobia akut pada ikan Lele tak berkumis mengajukan diri sebagai lawan tanding Maknang. Delfi Yono Rapopo sebagai pencetus ide pun kemudian mengizinkan hal tersebut..

Sementara Lisgon? Lisgon sampai sekarang tak kelihatan batang hidungnya..

#Jangan tanya penulis di mana ia berada, karena penulis juga tak tahu. Coba kalian SMS atau BBM aja dia. Penulis juga kesel nih sama dia, seharusnya sebagai salah satu karakter dalam cerita ini, dia harus selalu ada, gak ngilang-ngilang gini..

Pertandinganpun dimulai..

Di pertandingan pertama antara Maknang dan Jambang, Maknang berhasil keluar sebagai pemenang. Maknang yang merupakan atlet lempar cakram antarkampung, berhasil unggul jauh dari Jambang. Atas kemenangannya tersebut, Maknangpun berhasil mendapatkan satu poin..

Kemudian berlanjut ke pertandingan ke dua, Pertandingan yang paling ditunggu-tunggu itupun dimulai. Romlah melawan Bulqha. Penontonpun berteriak riuh rendah memanggil kedua nama mereka..

"Maknang! Maknang! Maknang!"

"Lisgon! Lisgon! Lisgon!"

#Sebentar. Kan yang tanding Romlah sama Bulqha, ngapa penonton pada nyebut nama Maknang dan Lisgon? Penulis bisa memaklumi kalau nama Maknang yang disebut, karena memang dia yang menang barusan, tapi kalo Lisgon? Lah kan dia gak ikut lomba? Ini baru awal cerita ya, jangan buat penulis emosi, soalnya kalo penulis lagi emosi bahaya, darah mudanya bisa kambuh..

"DARAH TINGGI WOI DARAH TINGGI!!!!!!!!
BLETAK! BLETAK! BLETAK!! Teriak penonton sambil melemparkan penulis dengan bunga mawar merah beserta pot-potnya

Kembali ke cerita..

Romlah dan Bulqha bersiap di garis start, mereka berdua bersiap untuk melompat sembari mendengarkan aba-aba dari Yono Rapopo 

"Siap!! Mulai"
Priiiiiiiiitttt!!!!

Romlah dengan kecepatan kilat melompat ke dalam empang dan kemudian berenang sekuat tenaga. Romlahpun unggul cukup jauh dari Bulqha. Penonton semakin semangat dan semakin lantang memberikan dukungan sembari berteriak..

"Delfi Yono! Delfi Yono! Delfi Yono!!

#WOI PENONTON!!!

"Woooiiii!!"

#Gak usah dijawab, -_-!! ini bukan acara lenong. Penonton, yang tanding kan Romlah dan Bulqha. Ngapa malah dukung Delfi Yono? Dia itu kan gak ikut tanding, dia itu wasitnya loh, WASSSIIIITTTT!!!!

BLETAK! Pada akhirnya, karena emosi yang tak terkendali. Penulispun balas melempar penonton dengan bunga mawar beserta pot-potnya.

#Yuhu! Bullseye! Tepat sasaran..

Penonton tidak terima dengan apa yang barusan penulisa lakukan..

"Woi!!, berani lu ama kita-kita. Teman-teman, serang!!!"

Sedetik kemudian ratusan, puluhan, dan bahkan satuan (?) penonton melemparkan bunga mawar kepada penulis beserta potnya, pupuknya, dan juga penjualnya...

BLETAK, BADUNGBANG PLAK TIMPLUNG TIMPLANG!!!!

#AMPUN!!, Gak lagi-lagi deh nyerang orang banyak...

Mari kita lanjut lagi :'(

Romlah berhasil unggul jauh dari Bulqha, namun Bulqha tak mau menyerah begitu saja, ia kemudian mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa mendahului Romlah. Penontonpun semakin bersemangat memberikan dukungan. Bulqha kini sudah sangat dekat dengan Romlah, sementara Romlah mulai kehabisan tenaga, ayunan tangannya mulai melemah. Ia sadar ia akan kalah, sampai tiba-tiba di hadapan mereka berdua muncul keponakan jauh Lele tak Berkumis yang bernama Lele Berambut Mohawk. Kehadiran Lele Berambut Mohawk yang saat itu tengah melintas membuat keduanya kaget, terlebih lagi Bulqha. Bulqha Syok, jantungnya hampir copot melihat kehadiran makhluk seabsurd itu. Ia berusaha menenangkan diri, namun ia tak bisa membohongi fobianya. Ya, ia menderita LELEMOHAWKISFOBIA. Seketika pandangannya gelap, ia mulai kehilangan arah dan tujuan, tak tahu hendak ke mana melangkah. Ia bagai musafir yang ditinggalkan oleh rombongan kafilahnya, ia bagai cicak yang tak memiliki bulu (?), dan ia bagaikan burung beo yang tak bisa berenang. Bulqha kemudian pingsan tak sadarkan diri, sementara Maknang yang menyadari hal tersebut, langsung melompat ke arah empang dan berusaha menyelamatkan si Lele Berambut Mohawk. Ia berfikiran jika ia berhasil menyingkirkan penyebab ketakutan Bulqha, Bulqha dapat melanjutkan pertandingan. Ternyata benar, Bulqhapun kembali tersadar dan berusaha melanjutkan perlombaan kembali. Namun semuanya terlambat. Romlah telah sampai di garis finish dan dinyatakan sebagai pemenang. Bulqha sangat kesal, sangking kesalnya ia melampiaskan amarahnya dengan memotongi kuku kakinya yang memang sudah panjang..

Berdasarkan hasil yang didapat, Maknang dan Romlah dinyatakan sebagai pemenang. Delfi Yono kemudian menghampiri dan memberikan ucapan selamat kepada Lele Berambut Mohawk..

"Selamat jalan Lele Berambut Mohawk, semoga engkau tenang di alam sana"

#Sebelumnya, Maknang yang melihat Lele Berambut Mohawk tengah tenggelam (saat bertemu Bulqha) berusaha menyelamatkannya dengan membawanya ke darat. Di darat, sang Lele Berambut Mohawk diberi oksigen alami oleh tim dokter (yang disewa oleh Delfi Yono untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan). Namun apadaya, sang Lele Berambut Mohawk tak dapat diselamatkan dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.

R.I.P LELE!!

Maknang yang keluar sebagai pemenang kompetisi antara dirinya dan Lisgon kemudian mengeluarkan permintaannya. Ia meminta agar dirinya dimasukkan lagi ke dalam F4, dan yang kedua ia meminta agar dirinya dan Romlah tidak dikeluarkan dari sekolah. Lisgon yang mendapatkan SMS berisi berita kemenangan dan juga seluruh permintaan Maknang dari Bulqha, mau tidak mau harus menurutinya. Sementara itu, Maknang yang saat itu tengah berada di dalam euforia kemenangan mengajak Romlah untuk makan malam bersama di sebuah kafe paling tidak romantis dan paling tidak terkenal di depan komplek malam ini. Bulqha dan Jambang yang tanpa sengaja mendengar ajakan itu langsung mengirimkan SMS kepada Lisgon..

isi SMSnya..

"Bro, barusan aku denger kalo si Maknang ngajakin Romlah kencan malam ini bro di kafe depan komplek yang terkenal paling tidak terkenal dan paling tidak romantis itu bro. Isikan pulsa ke nomor ini 20rb ya bro, Penting! Jangan ditelpon, soalnya aku lagi di kantor polisi nih bro".

#Wah, bisa jadi judul pelem nih, Bulqha Minta Pulsa...

Lisgon yang mendapat SMS dari Bulqha langsung cemburu. Pada malam harinya, ia memutuskan untuk membelikan Bulqha pulsa dan setelah itu diam-diam ia memutuskan untuk pergi mengikuti Romlah dan Maknang yang sedang berkencan..

Kencan Maknang dan Romlah berjalan lancar, Maknang dan Romlah malah sangat terlihat romantis (padahal mereka sedang berada di kafe paling tidak romantis) dengan saling suap-suapan. Maknang menyuap makanan ke mulutnya sendiri, dan begitupun juga Romlah. Terlebih lampu semprong yang berada di tengah meja, menambah kesan romantisme malam itu..

#Keterangan : Sebenarnya bukan romantis sih, cuma saat itu minyak genset sedang habis, jadi pengelola kafe mau tak mau menyediakan lampu semprong sebagai alat penerangan bagi pengunjung

Setelah makan malam nan romantis itu usai, Maknang mengajak Romlah untuk berkunjung ke rumahnya. Di rumahnya, Maknang berusaha mencium Romlah, dan gadis itu sama sekali tak menolak..

BLETAK!!!

#Penulispun menimpuk Romlah dengan batu..
HARUSNYA KAU NOLAK ROMLAH! NGAPA JADI NAFSU AMAT?
AYO BALIK LAGI KE BENANG MERAH..

Setelah makan malam nan romantis itu usai, Maknang mengajak Romlah untuk berkunjung ke rumahnya. Di rumahnya, Maknang berusaha mencium Romlah, namun gadis itu menolak. Maknang sadar kalau Romlah sudah tak lagi menyukainya, artinya ia harus melepaskan Romlah ke orang yang Romlah sayang. Ya, orang yang Romlah sayang adalah Lisgon..

Keesokan harinya di sekolah, Lisgon masih terlihat marah pada Maknang. Ia selalu memasang muka tak bersahabat setiap kali bertemu Maknang. Maknangpun kemudian mengajaknya bermain catur dan Lisgon menyanggupinya sambil tetap memasang muka yang tak enak dilihat..

Saat bermain catur, Lisgon terdesak. Maknang kemudian men-skak mati raja-Lisgon. Lisgon emosi dan melayangkan sebuah bogem mentah ke mukanya sendiri. Tak mau kalah, Maknang juga membantu Lisgon dengan memukul wajah Lisgon dengan sekuat tenaga..

"Kenapa kau selalu menang dariku, Maknang? Kenapa? Pertama kau mengambil Romlah dariku, kemudian kau memenangkan kompetisi, dan yang terakhir kau menang catur dariku. Kenapa kau selalu menang? Ya, aku melihatmu semalam berkencan dengan Romlah. Kalian terlihat sangat romantis. Argh! Dunia sangat tidak adil padaku!!" Teriak Lisgon

"HAHAHA!! Dasar Bodoh! Jadi kau emosi hanya karena aku berkencan dengan Romlah? Asal kau tahu saja. Aku sengaja berbicara agak keras saat mengajak Romlah berkencan agar Bulqha dan Jambang dapat mendengarnya juga. Aku tahu mereka akan memberitahumu, dan aku juga tahu kau akan mengikuti kami. Aku sengaja melakukan ini untuk melihat seberapa besar cintamu padanya. Ternyata, kau lebih mencintai dia dari pada aku. Romlah berhak mendapatkan Lelaki yang lebih baik dariku. Ya, kaulah orangnya, Pemilik Empang"...

#Eh, Pemilik Empang? maksudnya? Woi. Pemilik Empang, ngapain di pojok sana? Pergi sana, Pegi! Ngerusak suasana aja. Peranmu gak ada di scene ini loh. Gimana sih? Makanya lain kali baca script dong..

Oke pemirsah, kita ulang beberapa kalimat terakhir dari Maknang..

Aku sengaja melakukan ini untuk melihat seberapa besar cintamu padanya. Ternyata, kau lebih mencintai dia dari pada aku. Romlah berhak mendapatkan Lelaki yang lebih baik dariku. Ya, kaulah orangnya, Lisgon"

Lisgon terhenyak, untuk beberapa saat dia tertegun seakan tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari Maknang. Ia juga tak menyangka kalau ternyata Maknang adalah teman yang sangat baik hati, rajin menabung, tidak sombong, patuh dan taat terhadap nasehat guru dan orang tua, peraturan dan tata tertib sekolah..

#Walah

Lisgon kemudian memeluk Maknang dan mengucapkan terima kasih atas apa yang ia telah lakukan dan meminta maaf karena selama ini telah salah menilainya..

#Kata-kata bijak dari Penulis : Ya, itulah arti teman yang sebenarnya, terkadang berantem, terkadang juga berantem lagi. Namun pada akhinrya teman sejati akan selalu menjadi teman berantem. 

Meskipun sudah tahu dari Maknang bahwa ternyata Romlah juga mencintainya, sifat asli Lisgon yang usil tetap keluar. Ia dan personil F4 lainnya kemudian menyusun sebuah rencana untuk mengerjai Romlah..
.
Malamnya, Romlah mendapat telepon dari Jambang yang menyampaikan kabar genting, Lisgon mengalami kecelakaan  saat bermain catur dan dirawat di rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Romlahpun kaget mendengarnya, dan kemudian buru-buru pergi ke rumah sakit dengan sepeda kecilnya.

Ketika telah sampai di kamar tempat Lisgon dirawat, Romlah melihat ketiga personil F4 tengah bersedih. Sementara itu, di atas ranjang tergeletak tubuh Lisgon yang kelihatan tak bergerak sama sekali dan mulutnya diperban. Dari keterangan Jambang, ia mengetahui kalau ternyata Lisgon terlalu bersemangat saat bermain catur dan memakan biji-biji pion lawan sehingga mulutnya cedera. Romlah yang mendengarnya langsung terduduk di sisi ranjang sambil menangis tersedu-sedu..

"Kenapa kau makan biji pionnya doang? kenapa ga rajanya juga? dasar bodoh, kalau kau cuma makan pionnya doang kau gak bakal bisa menang. Hu..Hu..Hu..Lagian kalo makan biji pion kenapa harus semua? kenapa gak disisain buat aku? aku kan juga pengen. Lisgon! bangun Lisgon! udah waktunya Isya nih, jangan nyenyak kali tidurnya. Ayo dong jadi imamku, biar nanti kau bisa jadi imamku seumur hidup.."

Lisgon yang ternyata pura-pura sakit kemudian bangun, dan sambil tersenyum jahat. Ia kemudian meminta Romlah untuk mengulang perkataannya barusan. Kontan saja gadis itu langsung mengamuk dan memukul-mukul muka lisgon dengan tabung oksigen. Romlahpun semakin kesal saat tahu kalau ternyata tiga personil F4 yang lainnya terlibat dalam rencana ini, ia kemudian mengambil ranjang dari kamar sebelah dan lagi-lagi memukuli Lisgon dengan ranjang tersebut.

Untungnya kemarahan Romlah tidak berlangsung lama setelah Maknang berhasil menenangkan Romlah dengan memeluk Bulqha..

*Eh..

Maknang menjelaskan alasan mengapa ia dan teman-temannya membuat rencana itu. Kemarahan Romlahpun mereda. Lisgon yang tak mau kehilangan momen, memanfaatkan saat-saat tersebut dengan mengajak Romlah menonton sebuah film berjudul Emak Ijah Pingin Tamat Kuliah di layar tancep pribadi Lisgon, dan ternyata Romlah tak menolak. Esok malamnya, mereka berduapun menonton bersama..

Setelah berhasil mengajak Romlah nonton berdua, Lisgon memberikan kejutan pada Romlah dengan datang ke rumah Romlah. Lisgon disambut hangat oleh kedua orang tua Romlah. Lisgon berusaha akrab dengan keluarga Romlah dengan memanggil ayah Romlah dengan sebutan Bro Ayah dan ibu Romlah dengan Sis Emak. Tentu saja Romlah Protes, namun Ayah dan Ibu Romlah memaksa Romlah untuk membiarkan Lisgon menyebut mereka seperti itu. Ternyata kegilaan Lisgon belum berakhir, ia kemudian malah meminta izin kepada ayah dan ibu Romlah untuk menginap di rumah mereka malam itu. Tentu saja Romlah semakin protes, Namun ia tak bisa berbuat banyak karena lagi-lagi ayah dan ibu Romlah memaksanya untuk mengizinkan Lisgon menginap...

Selasa, 03 Juni 2014

Mas Boy Before Mblewer Part VII

Romlah berinisiatif untuk mengakhiri semua kesalahpahaman yang terjadi antara dirinya, Lisgon dan Maknang dengan datang ke rumah Lisgon seorang diri, dan dengan sepeda kecilnya ia kemudian bergegas pergi. Sesampainya ia di depan rumah Lisgon, Romlah melihat sebuah kendaraan mewah bermerek BMW (Becak Motor Warisan) berwarna Merah terparkir di sana. Belum sempat ia menurunkan kedua kakinya dari sepeda kecilnya, tiba-tiba Lisgon keluar dari rumah. Romlah yang melihat Lisgon kemudian berteriak memanggil..

"Lisgon! Tunggu! ada yang harus aku jelaskan! Kau salah faham!"

Lisgon yang saat itu sedang tidak ingin bertemu dengan Romlah maupun Maknang, langsung berlari ke arah kendaraan mewahnya (BMW yg tadi itu loh). Sambil menjulurkan lidahnya ia menoleh ke arah belakang dengan maksud untuk mengejek Romlah dan kemudian dengan buru-buru ia memacu kendaraan mewahnya dengan kecepatan yang sangat tinggi, kurang lebih 15 KM/Jam. Sadar kalau Romlah tak mungkin mengejar Lisgon, ia kemudian terduduk di pinggiran trotoar, ia tampak putus asa, namun mendadak muncul sebuah becak motor sport berwarna silver kekarat-karatan berhenti di dekat tempat Romlah duduk. Pengemudinya adalah seorang wanita yang cantik yang kemudian langsung membukakan pintu dan menyuruh Romlah untuk masuk supaya mereka bisa mengejar Lisgon. Dalam keadaan bingung, Romlahpun menuruti perempuan tersebut.

#Catatan, perbedaan becak motor mewah dengan becak motor biasa itu terletak di pintunya. jika becak biasa tidak memiliki pintu, maka BMW memilikinya. Bahkan pintu daruratnya juga ada.
Kejar-kejaranpun terjadi, Lisgon yang sadar tengah dibuntuti memacu BMWnya sampai menyentuh angka 19Km/jam. Tak mau kalah, BMW berwarna silver kekarat-karatan yang dikemudikan oleh si wanita cantikpun menambah kecepatan kendaraannya hingga mencapai 19, 001 KM/SMS...

#BLETAK!! tiba-tiba sang wanita cantik menimpuk kepala penulis dengan BMW Silver kekarat-karatannya...
Kita ulangi.

Tak mau kalah, BMW berwarna silver kekarat-karatan yang dikemudikan oleh si wanita cantikpun menambah kecepatan kendaraannya hingga mencapai 19KM/jam juga. kejar-kejaran semakin seru ketika Lisgon yang sudah unggul 2,5 meter tiba-tiba menepi saat seorang ibu-ibu menyetop BMW Lisgon..

"Bang, Lapangan Merdeka bang! 40rb ya"
"30rb lah bu ya, jauh loh bu. biasanya juga pasarannya 30rb nya"
"ah mahal x bang, biasanya aku bayar 40rb ke sana, kok sekarang tambah mahal?"
"okelah bu, 35rb lah ya bu. Biar berangkat kita nih"
"ah gak mau, 50rb, mau apa gak. kalo gak aku cari yang lain nih"
"baiklah bu, ayo naik". Ujar Lisgon..

dan setelah proses negosiasi yang berjalan alot tersebut, naiklah si ibu-ibu tadi ke BMWnya Lisgon. Namun karena proses negosiasi tadi berjalan cukup lama, jarak BMW Lisgon dengan BMW yang ditumpangi oleh Romlah menjadi semakin dekat menjadi hanya sekitar 2, 49 meter. Lisgonpun panik, dengan tergesa-gesa ia pun kemudian memacu BMWnya hingga 20KM/jam. Wuzz!!

Kejar-kejaran berakhir saat BMW Lisgon telah sampai di Lapangan Merdeka. Sembari memasang muka kusut ia pun mempersilahkan ibu-ibu tadi turun..
"Bu, kita udah sampai nih, ayo turun bu, silahkan!"
"Makasih ya bang, ni bang 50rb! lain x jangan mahal-mahal ngasih harga bang, bisa lari pelanggan"
"iya bu, maaf ya!" seru lisgon..

sementara si ibu-ibu tadi pergi menjauh dari BMW Lisgon, Lisgon dengan bersungut-sungut kemudian berkata..

"sial, seharusnya aku bisa dapat 30rb, eh malah cuma 50rb. naseeep saseeep! mau buntung malah untung"

SPEECHLESS!!

Tak disangka, ternyata BMW berwarna silver kekarat-karatan yang sejak tadi mengikuti Lisgon sudah berada tepat di belakang BMW Lisgon. Sebelum Lisgon sempat masuk kembali ke BMWnya, perempuan cantik pemilik BMW Silver kekarat-karatan tersebut langsung turun dan menodongkan pedang kayu ke arah Lisgon sambil memarahinya karena sudah tidak bersikap sopan pada wanita. Romlah yang mendengar percakapan itu dari dalam BMW Silver kekarat-karatan merasa tersanjung karena ia merasa mendapat pembelaan. Ia pun mulai simpati pada perempuan cantik tersebut. Sementara itu sang perempuan cantik yang masih menodongkan pedang kayu ke arah Lisgon membentak Lisgon..

"Kan udah kakak bilang, jangan pernah mau kalo dibayar lebih tinggi dari 30rb. Bisa untung kita nanti! gimana sih?"

Bagaikan kecebong hanyut di tengah parit pembuangan, Romlah yang semula merasa mendapat pembelaan tiba-tiba terhenyak. Ia tak menyangka bahwa wanita cantik itu ternyata memarahi Lisgon karena ibu-ibu tadi, dan bukan karena dia....

Wanita cantik itu ternyata adalah Delfi Yono Rapopo yang tak lain adalah kakak Lisgon. Meskipun selama ini terkesan kaku, kejam, dan galak ternyata Lisgon sangat takut pada kakaknya.

"Lisgon!! Pulang! kalau kau gak mau pulang, jangan pernah kau injakkan kakimu lagi di rumah tetangga ya!"
"I..I..Iya kak, aku pulang!" jawab Lisgon terbata-bata..

Sesampainya di rumah, ternyata di sana telah hadir jambang dan Bulqha.
"Hai Lisgon! keluar yuk! ada festival gulat jangkrik loh!" ajak Bulqha
"Kalau kau gak mau, temenin abang dangdutan yuk!" seru Jambang
"Ikh, Najis luh!" jawab Lisgon

Sayup sayup terdengar lantunan lagu indah nan eksotis..
"lay..lay..lay..lay..lay..lay..panggil aku si jablai, abang jarang pulang adek jarang dibelai..."

Lisgon yang sedang kesal kemudian bergegas masuk ke rumah dan menuju ke kamarnya, ia kemudian mengurung diri di sana hingga malam hari. Meskipun sudah dibujuk untuk keluar oleh Yono Rapopo..

"Dek keluar dong, kita makan bersama yuk!"
"Ogah! Aku gak haus!" Jawab Lisgon

Bulqha..

"Bro, keluar dong, kita liat Keong Sawah lagi balap liar yuk bro"
"Gak mao! nanti tiba-tiba ada razia, bisa ditangkap polisi kita"

dan Jambang..

"Bro, temenin abang dangdutan yuk!"
"Ikh, najis luh!!"

Lisgon tetap teguh pada pendiriannya, ia tidak mau keluar dan lebih memilih untuk tetap mengurung diri sambil kelaparan di kamarnya

Sementara itu, Yono Rapopo mengajak Jambang, Bulqha, dan Romlah untuk makan bersama. Kebetulan Yono Rapopo telah memesan sebuah menu masakan mahal khas eropa bernama Fresh Vegetables with javanese peanut sauce (PECAL). Sembari makan, Romlah kemudian menceritakan penyebab pertikaian antara Lisgon dengan Romlah dan Maknang kepada Delfi Yono Rapopo. Setelah selesai, Yono Rapopo kemudian mengantar Romlah pulang ke rumahnya dan mengucapkan terima kasih karena telah membuat adiknya menjadi lebih manusiawi


Sementara itu, saat rumah sepi. Lisgon keluar dari kamarnya dengan terburu-buru. Ia kemudian menuju ke dapur dan membuka kulkas..

"Laper juga bah! gak ada gunanya juga sih merajuk. Ah bodo amat, yang penting sekarang cari makanan. Bwahahaha"

 >:)

Saat Lisgon sedang memakan makanan yang tersedia di kulkas, tiba-tiba HPnya berbunyi, ternyata Maknang menelponnya. Kemudian dengan setengah hati ia menjawab telpon dari Maknang..

"Halo Bro"
"Ya, ada apa kau nelpon aku?"
"Temenin abang dangdutan yuk!"
"Ayuk!"

Makjeger, tiba-tiba suara petir mengingatkan penulis kalau ia sudah bosan terus-terusan bersuara untuk menyadarkan penulis kalau ceritanya sudah lari dari jalur..

Baiklah, kita ulang..

"Halo Bro"
"Ya, ada apa kau nelpon aku?"
"Anu, sebenarnya aku pingin menjelaskan dan menyelesaikan masalah yang ada di antara kita bertiga. Bisakah kita bertemu di Kafe depan komplek bro?"
"Tak ada yang harus dijelaskan, semuanya sudah jelas. aku kecewa padamu mas, aku kecewa! pulangkan saja aku ke rumah orang tua sepupuku mas! ceraikan aku mas, ceraikan!!"

#Teros! Teros! Teroslah mengulah ya Lisgon, Penulis capek loh terus-terusan ngerevisi cerita. 

"Maaf deh Penulis, aku janji ga gitu lagi"
#Huh, tiada maaf bagimu"

"tolong maafin aku dong penulis, aku janji tidak akan mengulanginya lagi"

#janjimu, janji palsu. aku tak sudi untuk percaya lagi padamu. lebih baik kau pulangkan saja aku pada orang tua tetanggaku. ceraikan tetanggaku mas! ceraikan!


INI SEBENARNYA CERITA APA SIH????
#Yosh, mari kita ulangi lagi..

"Halo Bro"
"Ya, ada apa kau nelpon aku?"
"Anu, sebenarnya aku pingin menjelaskan dan menyelesaikan masalah yang ada di antara kita bertiga. Bisakah kita bertemu di Kafe depan komplek bro?"
"Baiklah, kebetulan aku lagi lapar nih, tapi kau yang traktir ya!"
"Oukhay" Seru Maknang..

Sesampainya di kafe, Maknang dan Lisgon bersikap tenang, tidak ada raut kesal pada wajah Lisgon, yang ada hanya raut kelaparan. Setelah selesai makan dan membayar, Maknang kemudian menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun Lisgon yang semula bersikap baik (karena minta ditraktir) berubah menjadi dingin. Ia tak percaya dengan setiap kata-kata yang diucapkan oleh Maknang. Masalah yang semula ingin diselesaikan oleh Maknang bukannya selesai malah semakin runcing. Lisgon meminta Maknang menjauhi Romlah..

Ternyata Lisgon tidak main-main dengan perkataannya, ia mendatangi kantor kepala sekolah dan mengintimidasi kepala sekolah untuk mengeluarkan Maknang dan Romlah dari sekolah itu. Namun tak disangka, tiba-tiba Delfi Yono Rapopo muncul dan menjewer bibir sang adik sambil mengajaknya keluar dari kantor kepala sekolah.

Delfi Yono Rapopo kemudian mengajak seluruh personil F4 plus Romlah untuk pergi ke rumahnya. Di rumah, Delfi Yono Rapopo mengajukan sebuah proposal menarik ; Lisgon dan Maknang bisa menyelesaikan konflik mereka lewat adu ketangkasan di bidang olahraga, dan permintaan sang pemenang akan diikuti dan dipatuhi oleh seluruh anggota F4 plus Yono Rapopo dan Romlah. Lisgon berusaha protes, namun ia kalah suara karena semua mendukung keputusan Yono Rapopo 

Pertandingan pertama adalah balap karung. Maknang yang memiliki postur sedikit lebih tinggi diunggulkan dalam pertandingan ini. Saat pertandingan, Maknang unggul jauh namun akhirnya kalah karena ternyata karungnya sobek sehingga Maknang didiskualifikasi. Meski menang, namun Lisgon tetap bersedih karena karung kesayangan yang ditunggangi cedera parah (baca : hampir sobek) dan dinyatakan tidak akan pernah bisa dipakai untuk berlomba lagi.

Pertandingan kedua, Lisgon yang memilih dan hasilnya adalah adu jangkrik. Lisgon yakin Maknang pasti kalah, karena Maknang sangat tidak suka melihat hewan di adu. Lisgon yakin Maknang tidak akan mau melihat kedua hewan tersebut saling menyakiti. Romlah berusaha membujuk jangkriknya Maknang untuk mundur, namun jangkriknya malah menolak..

#hadeuh!! -_-!!
Akhirnya diputuskan bahwa adu jangkrik akan tetap dilaksanakan..

Sebelum adu jangkrik dimulai, masing-masing jangkrik melakukan pemanasan terlebih dahulu. Lisgon dan Maknang berusaha mengurut otot lengan dan kaki para jangkrik agar jangkrik-jangkrik tersebut tidak mengalami keram saat bertanding nanti..

Kedua jangkrik baik yang berasal dari sudut merah maupun sudut biru tengah berada di sudut lapangan sembari duduk dan mendengarkan arahan dari Lisgon maupun Maknang, namun sesaat sebelum wasit memanggil kedua jangkrik untuk menuju ke tengah ring, Romlah memberikan ciuman mesra kepada jangkriknya Maknang, alhasil, Lisgonpun cemburu dan tanpa sadar memencet (maaf kalau adegan ini terlalu vulgar) jangkrik jagoannya. Jangkrik tersebutpun terkapar, seluruh orangpun panik, dan berusaha menyelamatkan nyawa Jangkrik tersebut, namun naas, jangkrik tak dapat diselamatkan, ia meninggal ketika sedang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Khusus Jangkrik. Seluruh Anggota F4 plus Delfi Yono Rapopo dan Romlahpun sedih, termasuk penulis yang juga sedih...

SEDIH KARENA KENAPA CERITA YANG PENULIS BUAT GAK ADA BENERNYA, KENAPA? KENAPA HARUS SI JANGKRIK YANG MATI? KENAPA AIR LAUT ASIN? DAN KENAPA AKU BERTANYA? KENAPA? TOLONG JANGAN JAWAB PERTANYAAN SAYA!!!

HENING!

#Sejenak mari kita melakukan hening cipta untuk mengenang dan mendoakan arwah jangkrik the warrior tersebut, semoga ia tenang di alam sana..

Karena Jangkrik Lisgon telah mati, eh maaf, meninggal dunia, akhirnya Lisgonpun didiskualifikasi sehingga otomatis Maknangpun menang.

Karena kedudukan seimbang, akhirnya digelarlah pertandingan ketiga. Kali ini, yang memilih adalah Romlah. Romlah memilih kompetisi renang di empang lele dan pertandingan akan dilakukan sepuluh hari setelah hari ini, tentu saja Lisgon yang fobia terhadap lele tak berkumis keberatan, namun Yono Rapopo mengingatkan Lisgon jika ia keberatan dan menolak untuk bertanding, maka Maknanglah yang dianggap sebagai pemenang.

Keesokan harinya, Lisgon terlihat murung di sekolah, Bulqha yang mengetahui hal itu kemudian menawarkan diri pada Lisgon untuk menjadi pengganti dirinya mengikuti lomba tersebut dengan alasan agar pertandingan tetap dijalankan sekaligus memberi pelajaran pada Maknang yang telah merebut kekasih sahabatnya sendiri.

Siapa sangka, belakangan Romlah juga buka suara dan menyebut kalau dirinya juga ingin menggantikan Maknang. Sudah tentu, pertarungan tidak seimbang itu jadi perbincangan  di seluruh sekolah. Para siswa-siswi sekolah tersebut, yang entah dari mana mendapatkan informasi tentang adanya perlombaan tersebut mulai meributkan dan bertaruh tentang siapa yang akan menang.

Monik yang juga mendengar tentang desas-desus perlombaan tersebut sempat memikirkan sejumlah rencana untuk mencegah Bulqha mengikuti pertandingan. Belakangan, Monik menemui Bulqha, yang langsung bisa menebak tujuan kedatangan gadis itu..

Kasus cinta segitiga Romlah dengan Lisgon dan Maknang juga terdengar oleh keluarga Romlah, Keluarga Romlahpun merasa kecewa dengan sikap yang diambil Romlah. Atas nasehat sang ayah, Romlah menemui Lisgon untuk menjernihkan masalah sekaligus meminta maaf...