Wak
Geng and The Geng
Hari
Pertama Taunang (1)
Bulwan beranjak pergi
meninggalkan Nindrong dan Molin menuju ke ruangannya, namun baru beberapa
langkah ia berjalan, Molin tiba-tiba bertanya...
“Bul, apa Taunang sudah
bisa mengingat semuanya?”
Mendengar pertanyaan
Molin, sontak Bulwanpun berbalik dan berjalan menuju ke arah Molin, dan dengan
raut wajah penuh kemarahan ia menjawab pertanyaan Molin dengan suara yang cukup
keras...
“Aku ingatkan sekali
lagi Lin, jangan pernah kau bahas masalah itu di sini. Kau bisa bertanya
tentang masalah itu kapanpun dan di manapun kau mau, tapi tidak di sini, di
kafe ini”
“Hei, kau gak perlu
bentak dia juga kan Bul. Mungkin Molin khilaf. Toh, Taunang juga lagi di luar
dan yang saat ini tau masalah ini cuma kita berempat plus Wak Geng. Jadi rileks
ajalah, nyantai, ga usah terlalu dibawa emosimu”.
“Eh, enggak kok, apa
yang dibilang Bulwan bener kok, memang aku yang salah, jadi wajar kalo Bulwan
marah samaku. Maaf Bul, aku keceplosan, lain kali aku akan lebih berhati-hati
lagi. Sekali lagi aku minta maaf Bul”.
“I..iya Lin, aku juga
minta maaf karena barusan aku juga udah ngomong kasar samamu. Mungkin Nindrong
benar, aku terlalu tegang. Aku hanya..aku hanya terlalu takut kalau Taunang
bisa mengingat masa lalunya. Aku takut dia akan kembali seperti dulu atau
bahkan lebih buruk lagi. Pokoknya kita berempat harus tetap menjaga rahasia
ini, jangan sampai orang lain tau, dan juga jangan sampai salah satu di antara
kita berempat membocorkan rahasia ini kepada Taunang. Mengerti?”.
“Siip!! Gitu dong, kan
bagus. Seberat apapun masalah yang kita punya, cobalah menghadapinya dengan
santai dan dibawa rileks aja brow”.
Bulwan tersenyum, ia
bersyukur memiliki teman dan sekaligus bawahan yang bisa ia andalkan seperti
Nindrong dan Molin. Nindrong, Molin, dan juga Taunang adalah teman dekatnya sejak
ia duduk di bangku kuliah, dan kini takdir berhasil mempertemukan mereka
kembali, berkumpul bersama ketiga sahabat terbaiknya dan sama-sama bekerja di
tempat yang sama membuat Bulwan merasa sangat bersyukur. Bulwan kemudian
kembali berjalan meninggalkan kedua sahabatnya di dapur dan masuk ke dalam
ruangannya, ia tak sadar bahwa sedari tadi seseorang tengah menguping
pembicaraan antara Nindrong, Molin, dan Bulwan.
_____
“Udah lama jadi tukang
becak, Bang?”
“Udah Dek, udah 40
tahun Abang kerja ngebecak. Jadi Abang udah banyak makan asam garam di dunia
perbecakan ini, Dek”.
“Widiiih, lama jugak ya
Bang. Ngomong-ngomong Bang, apa Abang gak pernah coba cari profesi lain? atau
ngelamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan gitu Bang? Kan gak mungkin selama
40 tahun ini Abang cuma bergelut di dunia perbecakan kan Bang?”
“Gak dek, Abang gak
pernah coba cari profesi lain. Tukang Becak adalah profesi keluarga Abang yang
telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kami. Jadi keluarga
Abang itu udah jadi tukang becak jauh sebelum Belanda menjajah bangsa kita. Asal
tau aja, Abang memiliki kerabat di berbagai belahan dunia ya gara gara becak. Mulai
Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Timur Tengah, Asia Pasifik, Afrika,
Australia, dan berbagai negara lainnya. Kami semua masih memiliki ikatan darah yang
sama karena saat itu nenek moyang Abang gemar berpetualang keliling dunia
dengan becaknya, dan tiap kali ia singgah di suatu negara, ia pasti menikah dan
punya anak dari wanita di negara tersebut”.
“Warbyasaaaa!!!
Hebaaatt!! Hebaaaatt!! Saya kagum sama nenek moyang Abang itu. Abang dan
keluarga Abang yang lain memang Tukang Becak sejati. Oh iya Bang, beberapa hari
yang lalu saya bertemu dengan seorang tukang becak di kota Siantar. Katanya
dulu dia sering main ke daerah Jalan Bawa Perasaan Bang, apa dia masih
saudaraan sama Abang?”.
“Iya Dek, Abang tau
orang itu, dia itu anak paman Abang dari sepupunya keponakan kesayangan
mendiang tetangga Abang yang udah dianggap seperti bukan keluarga sendiri. Kami
dulu sering bermain bersama, ketika Abang bermain kelereng, ia pasti bermain
lompat tali, ketika Abang bermain kejar-kejaran, ia tetap bermain lompat tali,
dan ketika Abang bermain lompat tali pasti dia udah pulang karena disuruh mandi
sama mamaknya. Sungguh masa-masa yang sangat indah, Abang sering meneteskan air
mata kalau teringat akan hutang-hutang dia yang sampai sekarang belum juga
dibayarnya. Sudahlah, Abang tidak ingin mengingatnya lagi, Abang sudah iklash
dan berharap ia tenang di alam sana”.
“Loh, tapi kan dia
masih hidup Bang? Kok Abang ngomongnya seolah-olah dia udah gak ada lagi Bang?”
“Ya juga sih. Hahaha.
Yodahlah, tak usah kita bahaslah dia itu. Oh iya, ngomong-ngomong siapa adek
cantik yang duduk di samping kau ini? Dari tadi Abang tengok senyum aja dia,
gak ada suaranya, mahal kali suaranya Abang rasa. Istri kau ya dek?”
“Istri? Hahaha, bukan
Bang. Ini Kak Ayu, teman kerja saya di kafe Wak Geng. Saya dan dia disuruh
oleh atasan kami untuk berbelanja di pasar”.
“Oh, gitu. Abang pikir
istri kau ini Dek, cantik kali kutengok. Oh iya, udah nyampek kita dek, di
depan itu pasarnya. Abang turunkan di sini ajalah kalian ya dek. Payah, udah
banyak kali becak masuk ke sana, padat kali, susah nantik becak Abang keluarnya”.
“Oke Bang, ini
ongkosnya. Makasih banyak ya, Bang”.
“Sama-sama, Dek!!”.
_____
“Fiuh, akhirnya selesai
juga buat laporan penjualan yang kemarin, tinggal dicetak dan dikasih liat sama
Wak Geng. Sekarang waktunya buat aku ngobrol empat mata sama kamu”.
Bulwan mengeluarkan
sebuah kunci dari kantung celananya, dengan kunci itu, Bulwan membuka laci meja
kerjanya dan mengambil selembar foto yang terselip di antara beberapa buku.
Bulwan menatap foto itu, kemudian ia tersenyum, didekatkannya foto tersebut ke
dadanya sambil memejamkan mata seolah-olah ia tengah memeluk objek dari foto
tersebut. Dipandanginya kembali foto tersebut, dan ia kembali tersenyum...
“Akhirnya, Aku punya waktu
untuk bisa mengobrol lagi dengan kamu. Kamu apa kabar? Kalau aku sih baik-baik
aja. Kamu malam minggu ini ada acara gak? Aku boleh ya main ke rumah kamu? Gak
boleh? Emm, atau kita nonton aja ya, kebetulan lagi ada film seru nih di
bioskop, filmnya romantis loh, judulnya Kutukan Rumah Jomblo. Mau ya, ya, ya”.
Diusapnya foto tersebut,
dipandanginya kembali, dan Bulwanpun lagi-lagi tersenyum
“Nanti setelah nonton,
kita makan malam ya, berdua. Tenang aja, aku yang traktir, kamu boleh makan apa
aja yang kamu mau, kalau mau dibungkus juga gak apa-apa, sekalian belikkan papa
dan mama kamu juga. Ya..ya, mau ya. Mau dong cantik. Ya..ya”.
Didekapnya kembali foto
tersebut, kali ini lebih erat. Bulwan kembali tersenyum, dengan mata yang
terpejam kemudian ia mulai berkhayal, fikirannya jauh melanglang buana ke dalam
dimensi imajinasinya. Ia sangat menikmati khayalannya tersebut sampai
tiba-tiba...
Tok..tok..tok
“Permisi”
Terdengar suara pintu
ruangan Bulwan diketuk dari luar, membuat Bulwan yang masih sibuk dengan
khayalannya sontak tersadar. Tak ingin ada orang lain yang tahu soal foto yang,
ia langsung buru-buru menyembunyikan foto itu ke dalam laci meja kerjanya
Tok..Tok..Tok..
“Permisi Bang”.
“Yak, silahkan masuk”.
CEKLEK!!
“Oh, Dwi. Ya, silahkan!
masuk..masuk”.
“Iya Bang, ngobrol sama
siapa tadi Bang? Dwi dengar dari luar Abang kayak lagi ngomong gitu sama orang
lain, lagi teleponan ya?”.
“Teleponan? Oh iya,
hahaha. Iya..iya, tadi Abang teleponan sama temannya teman tetangga jauh Abang.
Hehe. Oh iya, ada perlu apa Dek?”.
“Oh, lagi teleponan ya.
Gini Bang. Dwi mau tanya, Dwi bisa gak ambil gaji Dwi bulan ini sekarang Bang?
Dwi butuh uang itu buat biaya berobat Bapak, Bang”.
“Loh, Bapaknya Dwi
kenapa, Dek?”.
“Bapak Dwi kan selama
ini kerja sebagai supir pribadi Bang, nah tadi pagi waktu bapak lagi jalan mau
berangkat ke tempat kerjanya, bapak kecelakaan Bang. Bapak jadi korban tabrak
lari. Dwi ke sini, mau minta tolong sama Abang. Dwi bisa minta tolong kan Bang
supaya Dwi bisa ambil gajinya Dwi sekarang, boleh ya Bang”.
“Emm, kalau masalah
gaji, Abang harus ngelapor dulu lah sama Wak Geng, Dek. Abang gak punya
wewenang untuk ngeluarin gaji sebelum tanggalnya, soalnya Abang kan cuma
asisten di sini. Hari ini kayaknya Wak Geng gak datang ke kafe, mungkin besok
lah baru Abang bisa bicarain masalah ini sama Wak...”.
“Bang, Dwi mohooon
Bang. Dwi sangat butuh uang itu sekarang buat biaya berobat bapak Dwi Bang. Ibu
Dwi udah gak punya uang tabungan lagi Bang, semuanya udah habis dicuri sama
Abang Dwi. Dwi mohon Bang, Dwi mohon Abang bisa keluarin gaji Dwi itu sekarang
Bang.”.
Setelah menyelesaikan
kalimatnya, air mata Dwi kemudian mengalir deras membasahi kedua pipinya. Bulwan
juga sebenarnya tidak tega melihat Dwi menangis, apalagi setelah mendengar apa
yang telah disampaikan oleh Dwi, namun ia juga tak berhak membagikan gaji para
pekerja di kafe tersebut sebelum waktunya, karena masalah itu sepenuhnya
merupakan wewenang Wak Geng sebagai pemilik kafe
Bulwan memberikan
kesempatan kepada Dwi untuk menyelesaikan tangisannya, ia tidak berusaha
menghiburnya karena ia tahu Dwi sedang tidak butuh dihibur oleh siapapun.
Setelah beberapa menit, tangisan Dwi mulai mereda, Bulwan tahu ini saat yang
tepat untuk berbicara kepada Dwi, dan dengan penuh perhatian ia kemudian
memberikan sapu tangannya kepada Dwi.
“Dek, Maaf ya Abang gak
bisa bantu Dwi untuk mencairkan gaji Dwi sekarang. Tapi Abang tetap bisa bantu
Dwi kok kalau berkaitan dengan masalah pembiayaan bapak Dwi. Kebetulan Abang
ada uang nih, memang sih cuma setengah dari gaji Dwi, tapi mudah-mudahan cukuplah
untuk dijadikan jaminan sampai nanti Dwi gajian”.
“Tapi Bang...”.
“Udah, gak usah pakek
tapi-tapian. Dwi ambil uang ini sekarang, terus pergi sana ke rumah sakit.
Pakai aja dulu uang Abang itu, kalau masalah gantinya nanti-nanti aja kalau
bapak udah sembuh dan Dwi udah punya uang buat ganti. Yaudah, hapus tuh air
matanya, Abang paling gak suka liat perempuan nangis, soalnya Abang takut
ikutan nangis juga”.
Dwi menyeka air matanya
dengan sapu tangan Bulwan, kemudian ia beberapa kali menarik nafas panjang
untuk menenangkan dirinya
“Makasih..makasih
banyak ya Bang, Dwi janji, Dwi pasti akan lunasin hutang Dwi ke Abang secepat
mungkin, Dwi janji Bang, makasih banyak ya Bang Bul. Kalau begitu Dwi permisi
dulu ya Bang, Dwi mau langsung ke rumah sakit”.
“E..e..eh!! tunggu
dulu! Dwi nanti balik lagi buat masuk kerja atau gak? Kalau memang gak balik
lagi biar Abang bikin izin nih di absen karyawan”.
“Dwi pasti balik lagi
Bang, tapi mungkin agak telat. Nanti setelah ibunya Dwi balik ke rumah sakit buat
gantiin Dwi jagain bapak, Dwi pasti balik lagi ke sini Bang”.
“Loh, Ibunya Dwi ke
mana Dek?”
“Lagi di luar Bang, soalnya
ibu Dwi juga lagi berusaha cari pinjaman ke tetangga tetangga sekitar rumah”.
“Oh gitu, oke, Nanti
Abang juga akan telepon Wak Geng buat ngasih tau dia tentang masalah Dwi, siapa
tau dia juga bisa kasih bantuan nanti”.
“Iya Bang, kalau gitu
Dwi permisi dulu ya, sekali lagi makasih banyak ya Bang Bul”.
“Iya, titip salam ya
sama bapaknya, semoga beliau cepat sembuh”
“Oke Bang, permisi”
_____
Waktu sudah menunjukkan
jam 3 sore, waktunya kafe dibuka. Semua pekerja kecuali Dwi sudah siap di
posisinya masing-masing. Nindrong dan Molin sudah selesai mempersiapkan
bahan-bahan dan peralatan yang mereka butuhkan untuk memasak pesanan pelanggan,
Putri juga sudah selesai merapikan dan membersihkan meja dan kursi, Ayu dan
Taunang juga sudah kembali dari pasar, sementara Bulwan juga sudah bersiap
untuk membalik papan pemberitahuan yang tergantung di pintu depan kafe dari
CLOSE menjadi OPEN.
“Semuanya, dengar!! Seperti
biasa, hari ini adalah hari keberuntungan buat kita semua, Pelanggan bukanlah
raja, mereka hanya manusia biasa. Tapi kita harus bekerja sebaik mungkin dan
berusaha memberikan yang terbaik sehingga pelanggan merasa diperlakukan
layaknya raja. Hari ini semangat bekerja kita tidak boleh kalah dari semangat
kerja kemarin. Mengerti?”.
“Mengerti, Pak
Asisten!!!”
Semua pekerja di kafe
kompak menjawab pertanyaan Bulwan yang seperti biasa selalu memberikan arahan
dan semangat kepada para bawahannya agar bekerja lebih giat dari hari-hari
sebelumnya.
15 menitpun berlalu
sejak kafe dibuka, tampak seorang calon pelanggan tengah berjalan menuju kafe.
Setelah sejenak melihat-lihat interior kafe dari luar (Sebagian besar dinding
kafe terbuat dari kaca yang tebal, sehingga bagian dalam kafe dapat terlihat
dari luar, memudahkan calon pelanggan yang berada di luar untuk melihat ke
dalam, dan pelanggan yang berada di dalam untuk melihat ke luar.
Bulwan berjalan ke arah
Taunang, ia tahu kalau Taunang pasti sedikit gugup di hari pertamanya bekerja,
dan sebagai atasan Taunang, Bulwan merasa wajib memotivasi Taunang agar bisa
bekerja senyaman mungkin.
“Nang! Ingat, kau, Dwi,
Ayu, dan Putri bertugas sebagai pramusaji di sini. Jadi berusahalah bekerja
sebaik mungkin di hari pertamamu bekerja. Itu lihat, ada yang sedang menuju ke
sini. Layani dia dengan baik, tanyakan apa yang dia inginkan, dan bersikaplah
ramah kepada semua pelanggan. Kalau ada masalah, aku ada di ruanganku. Ngerti
kau kan?”.
“Siap Pak Asisten”.
Bulwan kemudian masuk ke
ruangannya, sementara Taunang bersiap menyambut pelanggan pertamanya. Jantung
Taunang berdegup kencang, ia tidak menyangka kalau ia akan segugup ini. Tapi ia
mencoba untuk mengendalikan keadaan. Ia memejamkan matanya, menarik nafas
panjang, lalu pelan-pelan menghembuskannya kembali melalui mulut...
“Fiiiuuuuuhhhh....!!!”
“Kyaaaa!!!”.
Alangkah terkejutnya
Taunang ketika mendengar suara teriakan tersebut. Ia kemudian membuka matanya
dan melihat Ayu tengah berdiri di depannya dengan wajah jengkel
“Eh, Kak Ayu, Ada apa Kak?”.
“Ngapain sih kamu
ngembus-ngembus ke muka aku? Bauk tau!!”.
“Anu, saya tadi sedang gugup
jadi saya berusaha untuk menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam
sambil memejamkan mata dan menghembuskannya kembali secara perlahan. Saya tau cara
itu dari dari artikel yang saya baca di internet Kak. Maaf Kak saya gak tau. Kakak juga sih gak bilang-bilang kalau lagi di depan saya, kalo saya tau kan
nafasnya saya bisa saya telan lagi”.
“Malah ngeles lagi, yaudah deh lupain aja.
Sekarang ayo ikut aku, ada hal penting yang mau kujarkan sama kamu. Ayo ikut
dan perhatikan baik-baik”.
“I..iya Kak...”