Wak
Geng and The Geng
Hari
Pertama Taunang (2)
“Malah ngeles lagi,
yaudah deh lupain aja. Sekarang ayo ikut aku, ada hal penting yang mau kujarkan
sama kamu. Biar aku yang melayani pelanggan pertama itu, kamu cukup berdiri di
sampingku dan perhatikan baik-baik caraku melayani pelanggan”
.
“I..iya Kak..”
Taunang mengikuti
langkah Ayu dari belakang menuju ke sebuah meja yang kini sudah diduduki oleh
seorang pelanggan
“Permisi Bang, Selamat
sore! Saya Ayu, salah satu pramusaji di sini. Abang mau pesan apa? Ini menunya
Bang, ini daftar menu makanannya dan ini daftar menu minumannya, silahkan
dipilih”.
“Aku mau pesan Nasi
Goreng Rebusnya satu, Jus Terong Belanjanya satu, sama air mineralnya satu
botol. Itu aja Dek”.
“Air mineralnya yang
ada manis-manisnya atau yang bikin konsentrasi nambah Bang?”
“Yang ada
manis-manisnya aja Dek”.
“Oke, terima kasih.
Pesanan Abang akan kami sediakan dalam beberapa menit lagi, mohon menunggu
sebentar”.
Setelah mencatat
pesanan pelanggan kafe ke dalam secarik kertas, Ayu segera mengantarkan kertas
tersebut kepada Nindrong dan Molin yang berada di dapur. Sembari menunggu
pesanan dimasak oleh Nindrong dan Molin, Ayu kembali ke depan untuk menemui
Taunang.
“Nah, gitu caranya,
awali dengan senyuman, beri salam, kemudian tanyakan menu makanan dan minuman
apa yang diinginkan oleh pelanggan. Bila memang diperlukan, tanyakan juga
secara detail tentang menu pesanannya agar kita tidak salah memberi pesanan pada
mereka dan mereka juga tidak kecewa. Ngerti? Oh iya, jangan lupa juga untuk
mencatat pesanan dan nomor meja mereka, dan ingat, selalu layani pelanggan
dengan ramah dan senyum”.
“Udah, gitu aja Kak? Baiklah,
saya udah ngerti kok”.
“Ada lagi nih, hampir
aja aku lupa ngasih tau kamu. Catatan pesanannya kasih ke bagian dapur, terus
tinggal aja sebentar ke depan, siapa tau ada pelanggan lagi yang masuk. Nah
nanti kalau memang pesanan yang ada dicatatan yang kamu bawa tadi udah selesai,
Kak Molin atau Bang Nindrong akan manggil salah satu di antara kita untuk
ngambil pesanan itu dan mengantarkannya ke meja pelanggan. Pastikan pesanan
sampai ke meja pelanggan dengan baik, jadi jangan terburu-buru membawanya
karena nanti hidangannya bisa berantakan, ada pertanyaan lagi?”.
“Saya rasa saya gak ada
kak, udah ngerti kok, tinggal praktek aja nih”.
“Oke, kalau gitu
sekarang waktu yang tepat buat kamu praktek. Liat tuh, ada pelanggan lagi yang
menuju ke sini, kamu layani dia dengan baik dan jangan lupa beri salam dan
selalu bersikap ramah. Oke, selamat berjuang”.
“Siap Kak, saya yakin
saya pasti bisa”
Dengan buku menu yang
diapit di tangan kanan, Taunang berjalan penuh percaya diri menuju meja pelanggan
pertamanya. Jantungnya masih berdegup kencang, namun tak sekencang sebelumnya, sebab
ia telah diajari oleh Ayu, dan Taunang sangat yakin bisa mempraktekkan pelajaran
yang diterimanya barusan dengan baik.
“Permisi Mas, Selamat
sore! Saya Taunang, salah satu pramusaji di sini. Mas mau pesan apa? Ini
menunya Mas, ini daftar menu makanannya dan ini daftar menu minumannya, silahkan
dipilih”.
“Saya pesan Nasi Soto
Profil satu dan Jus Vengkoang juga satu. Itu aja Bang”.
“Oke, terima kasih.
Pesanan Mas akan kami sediakan dalam beberapa menit lagi, mohon menunggu
sebentar ya Mas”.
Setelah selesai mencatat
pesanan pelanggan pertamanya, Taunang kemudian berjalan menuju dapur untuk
memberikan catatan tersebut kepada Molin dan Nindrong dan kembali lagi ke
depan. Beberapa menit kemudian...
“Pesanan meja nomor 7
siap!!”
Mendengar suara
teriakan dari arah dapur, dengan sigap Taunang langsung bergegas ke dapur dan
mengambil pesanan yang disiapkan untuk meja nomor tujuh. Oleh Nindrong dan
Molin, pesanan tersebut diletakkan di atas sebuah nampan. Taunang tahu kalau ia
tidak boleh gagal, Dibawanya nampan berisi semangkuk Soto Profil dan segelas
jus Vengkoang tersebut dengan sangat hati-hati. Setibanya Taunang di meja nomor
tujuh, seluruh hidangan di atas nampan segera disajikannya ke atas meja.
“Ini pesanannya Mas,
Soto Profil dan Jus Vengkoang. Sudah cukup atau ada menu yang mau dipesan lagi,
Mas?”.
“Oh, enggak Bang, cukup
ini aja”.
“Oke, Silahkan
dinikmati hidangannya Mas. Kalau begitu saya tinggal dulu ya Mas, saya mau
ngelayani pelanggan yang lain lagi. Permisi Mas!”
“Iya Bang, silahkan”.
Dari kejauhan tampak
Ayu tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya kepada Taunang, Taunang
membalasnya dengan sebuah senyum sambil berjalan mendekati Ayu dan kemudian
memegang pundaknya.
“Makasih banyak ya Kak,
Makasih udah ngajarin saya. Kalau Kakak enggak ngajarin saya tadi, mungkin yang
bisa saya lakukan di hari pertama saya bekerja cuma bikin kacau dan saya pasti
akan bikin banyak kesalahan dalam melayani pelanggan. Sekali lagi terima kasih
banyak Kak”.
“I..iya, sama-sama.
Tapi tolong ini tangan kamu lepasin dari pundakku, gak enak nanti diliat sama
yang lain”.
“Oh iya Kak, maaf..maaf,
Saya gak sadar, mungkin saya terbawa suasana soalnya ini hari pertama saya
bekerja. Hehehe. Sekali lagi makasih ya Kak”.
Ayu tak menjawab, ia
hanya tersenyum. Untuk beberapa detik ia merasa tarikan nafasnya sedikit berat.
Ia merasa Taunang sedikit tidak sopan karena sudah lancang memegang bahunya,
akan tetapi ia juga heran pada dirinya sendiri karena sedikitpun ia tak ingin
marah ketika disentuh oleh pemuda yang baru dikenalnya itu.
_____
“Pesanan meja nomor 9,
siap!!”
Kembali terdengar
sebuah teriakan dari arah dapur, memberi tahu para pramusaji jika menu yang
dipesan oleh pelanggan telah selesai dibuat dan siap untuk dihidangkan di meja
pelanggan
“Nang, kamu yang ambil pesanan
di dapur ya, terus nanti antar ke meja nomor sembilan. Putri mau ke toilet
sebentar. Tadinya Putri mau minta tolong ke Kak Ayu, tapi Kak Ayunya juga lagi
sibuk ngelayani pelanggan tuh, jadinya Putri minta tolong sama kamu aja ya. Tolong
ya Nang ya, Putri udah kebelet pipis nih”.
“Oh, iya siap Put,
tenang aja, ntar aku antarin kok”.
“Oke, Makasih Nang,
Putri tinggal dulu ya, udah gak tahan nih”.
“Iya..iya. Yaudah
cepetan sana”.
Taunang bergegas ke
dapur untu mengambil hidangan dan kemudian mengantarkannya ke meja nomor
sembilan. Tak lama, pelanggan-pelanggan baru kembali berdatangan sehingga
membuat Taunang cukup kerepotan, Ayupun demikian. Hari ini pengunjung kafe
cukup banyak sehingga semua pekerjanya tampak sangat sibuk melayani para
pelanggan yang datang silih berganti.
Kafe Wak Geng memang
cukup terkenal di kota Medan, sebab selain rasa masakan dan minumannya yang
enak, harga yang relatif terjangkau, dan pelayanannya yang ramah dan sopan, Kafe
Wak Geng juga menyediakan berbagai makanan dan minuman unik yang tidak bisa dijumpai
di tempat lain. Selain itu, Wak Geng juga menyediakan dua buah televisi layar
lebar untuk memanjakan para pelanggan yang ingin menonton
pertandingan-pertandingan olahraga seperti sepak bola dalam dan luar negeri,
moto gp, bulutangkis, atau kejuaraan olahraga lainnya. Tempat yang nyaman
ditambah fasilitas WiFi dan colokan listrik gratis bagi para pelanggan juga
turut andil membuat kafe ini tak pernah sepi peminat, sehingga tak heran jika kafe
ini selalu penuh meskipun kapasitasnya cukup besar, yaitu 40 meja dan 160
kursi.
Wak Geng sendiri adalah
seorang pengusaha sukses dan kaya raya. Ia memiliki beberapa perusahaan yang
cukup besar yang memproduksi berbagai macam barang kebutuhan seperti tusuk
gigi, batu nisan, kain kafan bermotif, korek kuping, hingga karet gelang yang
biasanya diekspor ke Eropa, Asia Pasifik, Australia, Amerika Serikat, Amerika
Selatan, dan beberapa negara di Afrika. Meskipun ia sangat berhasil dalam
bisnis, kehidupan pribadinya cukup mengenaskan. Sudah sepuluh tahun ia hidup
sendirian, Dua belas tahun yang lalu sang istri pergi meninggalkan Wak Geng dan
anak perempuannya untuk selama-lamanya karena keselek tusuk gigi. Dua tahun
setelah kepergian istrinya, anak semata wayangnya juga meninggal dunia akibat
kebanyakan ngemil anti nyamuk bakar. Wak Geng sangat terpukul karena kejadian
tersebut. Ia tidak dapat menerima bahwa kini ia tidak lagi memiliki keluarga.
Setiap hari ia mabuk-mabukan dengan naik bus antar provinsi, acap kali ia juga
terlihat meratapi nasibnya dengan duduk termenung di WC umum, bahkan yang lebih
parah, ia juga pernah memiliki keinginan untuk pergi meninggalkan seluruh harta
dan bisnisnya untuk membantu Naruto mencari Sasuke. Harapannya untuk hidup
sempat sirna sampai pada suatu hari ia bertemu dengan Bulwan yang saat itu juga
tengah mabuk-mabukan di dalam bus antar kota antar provinsi.
“Hueek!! Mabuk lu bro?”
Tanya Wak Geng pada Bulwan
“Hueeek!! Iya, Gue lagi
mabuk berat nih bro”. Jawab Bulwan.
“Gue juga bro, ajib
banget nih supir bus, jago banget bikin gue mabuk, Hueek!!”.
“Hueek!! Iya bro,
memang sakti nih supir. Gue aja sampe teler begini. Mantap!!. Gara-gara dia
nih, gue bisa mabuk dan berhasil melupakan semua masalah yang ada di kepala
gue. Huahahahueeek!!”.
“Hueek! Masalah lu apa
bro? Cerita aja ke gue, siapa tau gue bisa bantu lu”.
“Jadi gini bro, pada
zaman dahuluuuuuu....”
Bulwan menceritakan
semua masalah yang sedang dialaminya saat itu kepada Wak Geng, begitu pula
dengan Wak Geng yang menceritakan semua kesedihan yang dideritanya kepada
Bulwan. Singkat kata, setelah sama-sama saling mencurahkan keluh kesah
masing-masing, Wak Geng merasa ada kontak batin dengan Bulwan. Wak Geng pun
menawari Bulwan untuk menjadi anak angkatnya, dan Bulwanpun menerima. Namun
Bulwan tak ingin memanggil Wak Geng dengan sebutan Ayah, sebab ia hanya ingin
memanggil Ayah kepada Ayah biologisnya saja. Wak Geng memaklumi hal tersebut,
ia juga tidak memaksa Bulwan untuk memanggilnya Ayah meskipun Bulwan sudah
menerimanya sebagai ayahnya. Wak Geng mempersilahkan Bulwan untuk memanggilnya
dengan sebutan yang disukai oleh Bulwan, dan Wak Geng adalah panggilan yang
dipilih Bulwan untuk menyebut ayah angkatnya tersebut.
Wak Geng yang sudah
menjadi ayah angkat Bulwan, menawari Bulwan untuk bekerja di salah satu
perusahaan miliknya. Meskipun saat itu Bulwan sedang menganggur, akan tetapi
dengan halus bulwan menolak permintaan tersebut sebab ia lebih suka menjadi
seorang pengusaha dan ia sama sekali tidak ingin memanfaatkan kedekatannya
dengan Wak Geng menjadi sebab mengapa ia mendapatkan pekerjaan. Mendapat
penolakan dari Bulwan, Wak Geng sama sekali tidak tersinggung, ia bahkan bangga
bisa bertemu pemuda seperti Bulwan. Wak Geng sadar betul kalau sifat Bulwan
memiliki kesamaan dengan dirinya ketika muda yang keras kepala dan tidak ingin
merepotkan orang lain.
“Yaudah, kalo emang
keputusan lu untuk gak mau bekerja di perusahaan gue udah bulat, gue bisa
nerima. Tapi lu kan sekarang nganggur Wan, sebagai orang yang udah nganggap lu
sebagai anak sendiri, gue gak tega kalo ngebiarin lu tetap nganggur Wan. Emang
lu mau bangun usaha apa sih?”.
“Gue mau bangun usaha
kafe Wak. Sejak awal kuliah dulu, gue udah bercita-cita ingin bangun suatu
usaha di mana gue dan teman-teman gue bisa bekerja bareng. Tapi gue sadar kalau
buat kafe itu butuh biaya besar, gue gak ada modal Wak. Oh satu lagi Wak,
hubungan kita kan udah seperti bapak dan anak, kayaknya gak etis kalau kita
pakai lu dan gue, dan juga kita kayak orang yang salah gaul kalo kita pakai lu
dan gue di Medan”.
”Oke..oke. Mulai
sekarang gue akan pake logat Medan, biar senang hatimu. Oh jadi udah ada
rencana bisnismu, cemmana kalo Wak jadi investormu aja, mau kau kan?”.
“Mmm..mm..maksudnya
Wak?”
“Iya, investor. Bah!
Gak ngerti kau apa itu investor? Investor itu yang polisi-polisi itu loh, yang
ada dibikin film sama orang bule, kalo ga salah judulnya Investor Gadget”.
“WOOII ITU INSPEKTUR
WOOOIII!!! Kalau Investor aku ngerti kok Wak”.
“Nah! Ngertinya kau.
Jadi kok purak-purak bodoh kau? Lagian gak perlu kau teriak-teriak samaku, aku
ini ayah angkatmu. Yaudahlah, lupakan aja. Jadi gini, Wak akan investasikan
uang Wak agar bisa kau membangun kafe supaya kau bisa mewujudkan cita-citamu
membangun usaha dan bekerja bersama dengan kawan-kawanmu itu. Nantik kau yang
ngelola dan buat laporan keuangannya, terus kau kasihkan ke Wak. Buat laporan
penjualannya juga, laporan penjualan perhari, perminggu, dan perbulan. Jangan
nolak kau ya, ini Wak yang meminta, jadi jangan kau harus mau ngikutin rencana
Wak”.
Bulwan terdiam, ia tak
bisa berkata apa-apa, bahkan menahan air matanya saja ia tidak bisa. Bulwan
langsung memeluk Wak Geng dengan erat. Air matanya terus mengalir dengan deras,
membasahi pipi dan juga pundak Wak Geng. Di dalam hatinya, Bulwan sangat
bersyukur takdir mempertemukan dirinya dengan Wak Geng, orang kaya dan baik
hati yang kini telah menjadi ayah angkatnya.
“Sudah..sudah..Bulwan,
mulai besok kita akan mulai membangun kafe impianmu itu. Jadi persiapkan dirimu
untuk menjadi seorang pengusaha. Perbanyak belajar dari pengalaman-pengalaman
para pengusaha sukses. Ada banyak tuh artikel-artikelnya di majalah dan
internet. Tunjukkan kepada Wak kalau kau mampu, tunjukkan pada ayahmu ini,
Nak!”.
“Baik Wak, Terima
kasih, terima kasih banyak, Wak”.
_____
Waktu sudah menunjukkan
jam 10.45 malam, dan 15 menit lagi kafe akan segera tutup. Ayu bergegas
berjalan ke arah pintu dan mengubah tulisan di pintu masuk dari OPEN menjadi
CLOSE Hal itu sengaja dilakukan agar tidak ada lagi pelanggan baru yang datang
sehingga kafe bisa tutup tepat jam 11 malam.
15 menitpun berlalu,
satu persatu pelanggan pergi meninggalkan kafe hingga tak satupun dari mereka
yang masih tersisa di dalam. Taunang, Putri, dan Ayu segera merapikan letak
meja dan kursi serta membawa gelas-gelas dan piring-piring kotor yang berada di
atasnya ke dapur. Sampai tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kafe
CEKLEK!!
“Maaf, kafenya sudah
tutup. Gak liat tulisan di depan ya?” Ujar Ayu yang sedang membersihkan meja tanpa
melihat ke arah pintu
“Iya, aku tau kok Yu.
Hai semuanya! Maaf ya aku terlambat, tadi aku gak bisa masuk karena...”
“Loh, Dwi!! Kemana aja
kau? Kenapa gak sekalian besok aja kau datangnya? Kami dari tadi kewalahan
melayani pelanggan tapi kau malah gak datang-datang. Kalau kerja jangan
suka-sukanya aja dong”.
“Eh, Bukan gitu Yu.
Anu, aku tadi..ayahku..”.
“Udah, gak usah banyak
alasan. Bulan ini aja kau udah dua kali gak
masuk, lima kali terlambat, dan dua kali pulang cepat. Ingat ya Dwi, kau itu
masih baru di sini, sebelum Taunang datang kemarin, kau itu pekerja paling
junior di sini, dan juga yang ngerekomendasiin kau ke Bang Bulwan itu aku. Jadi
kau jangan buat aku malu”.
Dibentak oleh Ayu
seperti itu membuat Dwi sangat sedih. Air matanya perlahan mengalir di kedua
pipinya. Namun ia tak berani membantah perkataan Ayu karena memang Ayulah yang
merekomendasikan dirinya kepada Bulwan sehingga Dwi bisa bekerja di kafe Wak
Geng. Dwi juga merasa berhutang budi kepada Ayu karena selama ini keluarga Ayu
telah banyak membantu Dwi dan keluarganya.
Dwi adalah tetangga
Ayu, berbeda dengan Dwi yang berasal dari keluarga sederhana, Ayu adalah anak
orang kaya. Papa Ayu dan Bapak Dwi adalah teman akrab semasa kecil sehingga tak
heran jika keluarga Ayu sering memberikan bantuan kepada Dwi dan keluarganya.
Meskipun Ayu adalah anak orang kaya, namun ia tak malu untuk bekerja hanya
sebagai pramusaji di sebuah kafe, meskipun ia sedikit keras kepala, pemarah,
dan kasar. Namun ia adalah anak yang perempuan yang mandiri, yang tidak ingin
selalu bergantung kepada orang tuanya.
“Maaf Mbak Dwi kalau
saya dianggap lancang, tapi saya tidak tahan melihat perempuan menangis di
depan saya”
Segera Taunang mengeluarkan
sehelai sapu tangan dari kantungnya dan menghapus air mata Dwi dengan sapu
tangan tersebut. Mendapat perlakuan seperti itu, seketika Dwi terpaku, pupil
matanya membesar, pipinya memerah, degup jantungnya berdegup kencang, dan air
matanya seketika terhenti. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Taunang, pria
yang baru dikenalnya kemarin malam akan melakukan hal tersebut.
“Saya juga minta maaf
sebelumnya, tapi saya rasa Kak Ayu udah keterlaluan. Saya tahu kalau Kakak dan
Putri pasti lelah, saya juga merasakan hal yang sama. Tapi rasa lelah Kakak itu
gak bisa dijadikan alasan untuk bisa membentak dan berkata kasar kepada Mbak
Dwi. Saya yakin kalau Mbak Dwi pasti punya alasan kuat kenapa ia tidak masuk
hari ini. Biarkan Mbak Dwi menjelaskannya kepada kita semua terlebih dahulu
sebelum Kakak berkata kasar ke Mbak Dwi. Saya gak bermaksud membela Mbak Dwi, tapi
Ucapan Kak Ayu barusan benar-benar sangat kasar. Maaf kalau Kak Ayu menganggap
saya lancang”.
“Oh, jadi selain Bang
Bulwan, Bang Nindrong, dan Kak Molin, sekarang kau punya pembela yang baru ya
Dwi, selamat deh kalau gitu, selamat!!”.
Ceklek!!
Mendengar kegaduhan
yang terjadi di ruang utama kafe, Bulwan langsung keluar dari ruangannya,
sementara beberapa detik kemudian Nindrong dan Molin juga muncul dari arah
dapur.
“Ada apa ini kok pada
ribut?” Tanya Bulwan penasaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar