Wak
Geng and The Geng
Kemarahan
Bulwan
Mendengar kegaduhan
yang terjadi di ruang utama kafe, Bulwan langsung keluar dari ruangannya,
sementara beberapa detik kemudian Nindrong dan Molin juga muncul dari arah
dapur.
“Ada apa ini kok pada
ribut?” Tanya Bulwan penasaran.
Melihat Bulwan keluar
dari ruangannya, Taunang, Dwi, Putri, dan Ayu sontak terdiam. Mereka saling
memandang satu sama lain, namun tak satupun yang berani menjawab pertanyaan
Bulwan. Bulwan sadar jika sesuatu telah terjadi di antara mereka berempat.
“Sekali lagi aku tanya,
apa yang sudah terjadi di sini sehingga KALIAN RIBUT-RIBUT SEPERTI TADI?”.
Bulwan mulai emosi, raut
wajah Bulwan terlihat mulai berubah, nada bicaranya juga sudah meninggi, namun
keempat pramusaji masih saja saling pandang dan tetap diam membisu. Tak juga
mendapatkan jawaban, Bulwan akhirnya naik pitam.
BRAAAAKKK!!!
Digebraknya meja kafe
yang terbuat dari kayu tersebut sekuat tenaga, membuat seluruh orang yang
berada di kafe, termasuk Nindrong dan Molin terkejut
“SIAPA SAJA, TOLONG
JELASKAN PADAKU APA YANG SUDAH TERJADI DI KAFE INI BARUSAN? KALAU KALIAN MEMANG
TIDAK ADA YANG MAU MENJAWAB, MAKA AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN BEREMPAT DAN AKAN
KUBERITAHUKAN TENTANG MASALAH INI KEPADA WAK GENG”.
Bukannya mendapat
jawaban, Teriakan Bulwan barusan malah membuat suasana semakin hening. Nindrong
menatap Molin dengan alis terangkat, seolah ingin bertanya kepada Molin apa
yang sebenarnya terjadi, namun Molin menjawabnya dengan mengernyitkan dahinya
sambil mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa tak seharusnya Nindrong
bertanya kepadanya sebab ia juga tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.
3 menit sudah berlalu
dan masih saja tak terdengar jawaban dari pertanyaan Bulwan tadi dari mulut
para pramusaji. Bulwanpun sudah kehilangan kesabarannya, ia kemudian memasukkan
tangan kanannya ke saku celana untuk mengambil handphone yang akan digunakannya
untuk menelepon dan menceritakan masalah yang tengah terjadi di kafe kepada Wak
Geng, namun belum sempat Bulwan mengeluarkan handphonenya, lengannya tiba-tiba
ditahan oleh Taunang
“Wan, udah, kau gak
perlu nelpon dan ngasih tau Wak Geng tentang masalah ini. Sebelumnya aku minta
maaf samamu Wan, aku terlalu takut untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya.
Aku akui, aku lah yang membuat suasana menjadi seperti ini. Keributan ini
berawal dari aku yang marah-marah sama Mbak Dwi. Aku marah karena di saat kita
semua lagi sibuk-sibuknya ngelayanin pelanggan, Mbak Dwi malah menghilang dan baru
datang setelah kafe tutup. Aku juga jadi tambah kesal karena Kak Ayu tiba-tiba
sok jadi pahlawan dengan ngebelain Mbak Dwi. Tapi sekarang aku tahu aku salah, gak
seharusnya aku marah-marah, apalagi aku pekerja baru di sini. Maafin aku, Wan.
Maafin saya juga, Mbak Dwi, Kak Ayu. Tolong, jangan sampai Wak Geng tau tentang
masalah ini, aku takut dia akan memecatku. Semuanya, maafin aku. maafin aku.
Aku berjanji gak akan mengulanginya lagi”.
DUAK!!!
Sebuah pukulan dari
Bulwan mendarat tepat di pipi kiri Taunang sehingga membuat Taunang jatuh
tersungkur. Pukulan tersebut cukup keras hingga menyebabkan pipi Taunang merah
dan dinding mulut bagian dalamnya pecah. Darah segar nan kentalpun mengalir
dari sela-sela bibirnya hingga jatuh membasahi bagian depan kemeja yang
dikenakan Taunang.
Melihat kedua sahabatnya
bersitegang sampai sejauh itu, Nindrong tentu saja tak tinggal diam, ia segera
memegang kedua lengan Bulwan dari depan dan mencoba menahan Bulwan agar tak
lagi memukul Taunang.
“Wan, sudah Wan,
sudah!! itu Taunang loh, kawan kau, kawan aku juga. Kita udah berkawan sejak
bertahun-tahun yang lalu, masak cuma gara-gara masalah kecil kayak gini aja kau
tega memukul dia, apa kau udah gila Wan? Kalau kau marah ya marah aja, tapi gak
usah pake fisik juga dong”. Ujar Nindrong sembari berusaha menenangkan Bulwan.
“Ya, aku tau, aku tau dia
memang kawan kita Ndrong, tapi dia juga udah bertindak sangat kurang ajar. Dia
itu masih sehari bekerja di sini, dan dia udah lancang memarah-marahi Ayu dan
Dwi yang jelas-jelas udah bekerja jauh lebih lama di kafe ini dibanding dia.
Dia itu gak punya hak untuk marah pada siapapun di kafe ini. Akulah pemimpin di
sini, jadi yang punya hak untuk menegur atau memarahi pekerja itu aku, bukan
dia”.
Bulwan kemudian
melanjutkan...
“Biar aku kasih tau
samamu ya Nang, alasan Dwi terlambat dan gak masuk kerja hari ini adalah karena
tadi pagi bapaknya Dwi tuh kecelakaan, jadi Dwi harus bergantian dengan ibunya jagain
bapaknya yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Dwi juga tadi pagi udah
minta izin samaku untuk datang terlambat, dan aku juga udah izinin dia untuk
gak masuk hari ini meskipun Dwi gak meminta izin untuk itu”.
“Iya mungkin Taunang
salah karena dia udah memarah-marahi Ayu dan Dwi. Tapi kan dia gak tau kalo Dwi
berhalangan hadir itu karena ada sebabnya kan Wan? Udahlah, gak usah
diperpanjang, sabar Wan sabar, tahan emosimu”. Ujar Nindrong mencoba
menenangkan Bulwan
“Apapun alasannya,
tetap aja dia udah kurang ajar Ndrong. Udahlah, kau gak usah ngebelain dia, ini
urusanku sebagai pemimpin di sini. Nang, kau ingat kalimatku ini baik-baik ya,
tujuan utama kafe ini didirikan bukanlah untuk mencari profit, profit memang
penting, tapi bekerja sama dan sama-sama bekerja dalam ikatan persahabatan dan
kekeluargaan jauh lebih penting. Itulah alasan mengapa Wak Geng mendirikan kafe
ini. Aku itu marah karena tindakanmu yang memarahi Ayu dan Dwi barusan bisa
merusak ikatan persahabatan dan kekeluargaan yang sudah kami jalin selama ini
di sini. Kau tahu, akibat dari perbuatanmu itu, Wak Geng bisa saja memecatmu
sekarang juga”.
Sementara itu, Dwi yang
merasa kalau dirinyalah penyebab keributan tersebut semakin merasa bersalah
ketika Taunang dipukul oleh Bulwan. Dwi tahu kalau Taunang sengaja melakukan
itu untuk melindungi dirinya dan juga Ayu dari kemarahan Bulwan, akan tetapi tetap
saja ia merasa tak tega melihat Taunang mendapat perlakuan seperti itu dari
Bulwan. Setelah berfikir sejenak, Dwi akhirnya membulatkan tekadnya untuk
menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bulwan meskipun ia tahu resiko dari
perbuatan yang akan ia lakukan.
“Bang Bulwan, ini bukan
kesalahan Taunang bang, jadi tolong jangan hukum dia. Kasih Dwi kesempatan
untuk menjelaskan semuanya bang,”, Ucap Dwi yang akhirnya buka suara.
“Menjelaskan? Maksudnya
kamu mau menjelaskan apa Dwi? Abang gak ngerti?”.
“Sebenarnya Taunang itu....”.
Belum sempat Dwi
menyelesaikan kalimatnya, Taunang langsung bangkit berdiri dan memegang lengan
Dwi yang kontan saja membuatnya langsung berhenti berbicara.
“Gak ada yang harus
dijelasin, akulah yang bersalah dan jadi penyebab keributan ini. Wan, kalau
memang kau mau ngelaporin, laporin aja aku ke Wak Geng. Aku siap kalau memang
aku harus dipecat”.
Bulwan terdiam, ia tak
menyangka kalau Taunang akan berani menantangnya seperti itu. Sebenarnya Bulwanpun
tak yakin kalau Taunang bersalah, karena ia mengenal betul siapa Taunang dan
bagaimana sifat dan sikapnya, akan tetapi Taunang sendiri tadi mengatakan hal
yang malah memojokkan dirinya sendiri sehingga Bulwanpun menjadi kalut dan
lepas kendali.
“Ah sudah.sudah. Aku
pusing denger penjelasan kalian berdua. Yaudah, kalau gitu aku akan melupakan
kejadian ini dan merahasiakannya dari Wak Geng, tapi ingat, aku gak mau
kejadian ini terulang kembali. Oh iya, besok jam 9 pagi, aku dan Wak Geng akan
menjenguk bapaknya Dwi di rumah sakit. Kalau kalian ingin pergi bersama-sama,
kumpul di kafe jam 8.50, tapi kalau memang kalian ingin pergi sendiri-sendiri
juga silahkan, asalkan tidak di jam kerja atau mengganggu waktu istirahat
bapaknya Dwi. Wak Geng tadi menghimbau kepada kita semua untuk bisa datang dan
memberikan doa serta semangat ke bapak dan ibu Dwi, kita tunjukkan rasa
solidaritas dan simpati kita ke keluarga Dwi. Kalau begitu seperti biasa, aku
sangat berterima kasih atas kerja keras kalian hari ini dan mari berharap
semoga esok akan lebih baik lagi. Baiklah, Silahkan kalian kembali ke rumah
kalian masing-masing”. Ujar Bulwan.
_____
“Nang, kenapa kamu
melakukan itu Nang? Kenapa kamu gak mengatakan yang sebenarnya aja? Coba nih
liat, kamu jadi memar gini dan mulut kamu juga ngeluarin darah terus. Aku..aku
minta maaf ya, semuanya gara-gara aku, aku memang pembawa sial”.
“Husssh!! Ngomong apa
sih Mbak? Gak baik ngomong kayak gitu, Mbak Dwi itu pembawa keberuntungan loh,
bukan pembawa sial. Buat saya mbak Dwi itu adalah lucky starnya saya, jadi saya
gak mau Mbak ngomong kayak gitu lagi, janji?”.
“He..em!!”. Jawab Dwi
sambil tersenyum, air matanya kembali menetes karena terharu melihat kebaikan
Taunang.
“Gitu dong, Mbak lebih
keliatan manis kalo lagi senyum, hehe. Loh kok Mbak nangis lagi? Bentar, maaf
ya Mbak, tapi saya bukan bermaksud lancang loh, beneran”. Ujar Taunang sambil
lagi-lagi menghapus lagi air mata Dwi dengan sapu tangannya.
“Nang, makasih ya udah
baik banget sama saya. Sebagai gantinya boleh ya saya ngobatin luka di pipi
kamu, sebenarnya gak sebanding sih sama kebaikan kamu ke saya, tapi saya gak
tau mau kayak mana lagi ngebalasnya, boleh ya”.
“Kebaikan? Hahaha, Mbak
Dwi kadang-kadang suka melebih-lebihkan nih, cuma gitu doang kok. Gak usah pake
dibalas-balas segala deh Mbak. Saya cuma gak mau Mbak Dwi dimarahi Kak Ayu, dan
Kak Ayu juga dimarahi Bulwan, itu aja kok. Emm, boleh aja sih, tapi kayaknya
Mbak Dwi lebih bagus pulang aja deh. Kasian ibunya Mbak Dwi nungguin Mbak Dwi
di rumah, udah larut malam juga, besok-besok aja lah Mbak”.
“Memang seperti itulah
kenyataannya, kamu itu baik banget orangnya. Terima kasih banyak ya. Iya sih,
udah lewat tengah malam juga, tapi tenang aja, malam ini saya dan ibu saya
tidurnya di rumah sakit, jadi ibu gak akan terganggu kalau saya pulangnya
telat. Emm, oh iya, kalau gitu saya ngobatin luka kamu di rumah sakit aja ya,
sekalian kamu ngantarin saya ke sana, saya agak takut nih kalau harus jalan
sendirian ke sana. Ya ya”.
“I..iya deh, yaudah
kalo gitu kita jalan sekarang yuk Mbak, udah makin larut malam nih”.
“Oke”.
_____
Ayu tengah mengambil
barang-barangnya di dalam loker dan bersiap-siap untuk pulang, namun alangkah
terkejutnya ia ketika tiba-tiba Bulwan sudah ada di sampingnya..
“Yu, abang boleh ya nganterin
kamu pulang? Udah lewat jam dua belas malam nih, bahaya loh kalau cewek
secantik kamu jalan sendirian di tengah malam seperti ini”.
“Eh, bang Bulwan, bikin
kaget aja. Emm, Makasih ya bang, tapi Ayu jalan sendiri aja. Rumah Ayu kan gak
terlalu jauh dari sini, dan Ayu juga gak sendirian, Ayu bisa bareng sama Dwi
karena rumah kami kan searah”.
“Iya, abang tau. Tapi
kan tetap aja bahaya kalau gak ada cowok yang nemenin, di depan situ banyak
preman-preman yang suka godain cewek-cewek loh. Gak takut?”.
“Ayu tau kok kalo maksud
abang baik, makasih ya buat perhatiannya, tapi Ayu rasa gak usah Bang. Tenang
aja, Ayu gak takut kok, Ayu bisa urus diri Ayu sendiri. Yaudah Ayu pamit dulu
ya, permisi”. Jawab Ayu sambil tersenyum.
Ayu berjalan ke arah
pintu keluar, meninggalkan Bulwan yang masih menatapnya dari belakang. Wajah
Bulwan tampak kecewa, sebab, ini bukan kali pertama Bulwan medapatkan penolakan
dari Ayu, beratus-ratus kali sudah ia mencoba menawarkan diri untuk menemani
Ayu pulang, namun beratus kali pula Ayu menolaknya.
Meskipun ia sudah
sangat sering mendapat penolakan, namun ia tak kunjung menyerah. Bulwan adalah
pria yang sangat ambisius, ia akan berjuang keras demi mendapatkan apa yang ia inginkan
dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Ia selalu yakin kalau
suatu hari nanti, Ayu akan mau ditemani pulang oleh dirinya, dan Ia tak akan
pernah mundur sebelum berhasil merebut simpati dan perhatian Ayu. Lagi-lagi
Bulwan kembali berkhayal dan lagi-lagi ia disadarkan oleh suara dari orang yang
sama
“Bang Bulwan! Bang
Bulwaaan!!”.
“Eh! Iya maaf, loh
Putri, ada apa dek?”.
“Tuh kan, makanya
jangan melamun aja kerjanya. Bang, Anterin Putri Pulang dong. Putri takut nih
lewat perempatan di depan situ, banyak premannya Bang. Putri takut digodain
sama mereka”.
“Sama Bang Nindrong aja
ya Put, Abang capek banget nih, gak apa-apa kan?”.
“Loh, kok sama Bang
Nindrong sih? Putri maunya Bang Bulwan aja yang nganterin Putri”.
“Duh! Beneran dek,
Abang capek banget. Sama Bang Nindrong aja ya Put, sekalian kan dia juga mau
nganter Molin. Tenang aja, Bang Nindrong juga jago bela diri kok. Jadi biarpun
dia sendiri, gak akan ada yang berani ganggu kalian, aman lah pokoknya”.
“Yaudah deh, Bang
Bulwan selalu kayak gitu sama Putri, gak pernah mau nganterin Putri. Kalo gitu
Putri pamit dulu ya Bang, permisi”.
“Eh, i..iya dek.
Hati-hati di jalan ya”.
_____
“Lin, menurutmu apa
yang dibilang Taunang tadi bener gak? Ituloh yang dia ngaku-ngaku sebagai
penyebab keributan tadi. Kok aku sama sekali gak yakin ya kalau dia itu berani
ngomong kasar sama orang, apalagi sama cewek?”.
“Entahlah, aku kurang
yakin juga sih Ndrong, menurutmu kayak mana? Apa iya Taunang tega berbuat kayak
gitu sama Dwi?”.
“Aku gak yakin juga
sih, tapi aku yakin Taunang tidak bersalah Lin, aku kenal betul siapa dia. Dia
pasti melakukan ini untuk melindungi...tunggu dulu, jangan-jangan...ah! Akan
kupastikan hal ini besok, akan kutanyakan langsung kepada dia”.
“Dia? Maksudmu yang
sedari tadi berada di tempat namun tak mengatakan sepatah katapun? ya aku juga
merasa dia tau peristiwa itu sejak awal, tapi kenapa dia tidak cerita dan
mengatakan hal yang sebenarnya ya sama Bulwan?”.
“Entahlah Lin, itu cuma
asumsi kita aja. Untuk lebih jelasnya aku akan tanyakan langsung besok ke dia,
tapi aku ragu dia mau menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena mungkin dia
segan atau takut dengan seseorang”.
“Bisa aja sih, tapi ada
kemungkinan juga kan kalo Taunang memang berubah sejak kejadian itu, tapi
yaudahlah, besok-besok aja kita bahas itu. Sekarang anterin aku pulang yok!
Udah larut malam nih, kalo gak aku bakalan nyanyi nih”.
“Eh..iya-iya, aku
anterin kok, tapi pliss jangan nyanyi ya, pliss! Aku mohon”.
“Iya..iya, yaudah yuk
jalan”.
Nindrong dan Molin
kemudian bergegas pergi meninggalkan kafe. Namun belum lama mereka berjalan
tiba-tiba seseorang memanggil mereka dari belakang.
“Kak Molin! Bang
Nindrong! Tungguin Putri dong”.
“Eh, Putri. Mau pulang
bareng juga? Bulwan mana”.
“Iya Bang, hehe. Bang
Bulwan gak bisa nganterin Putri bang, katanya dia lagi capek, jadi Putri minta
dianterin sama bang Nindrong aja ya, kan kostnya Putri dan kost kak Molin
deketan, jadi boleh ya bang, soalnya Putri takut pulang sendirian nih”.
“Iya boleh, yaudah yuk
jalan”.
Nindrong, Molin, dan
Putri kemudian berjalan bersama-sama. Sama seperti Molin, Putri juga memilih
untuk ngekost di sekitar kafe Wak Geng. Kost-kostan mereka terbilang cukup
dekat karena dapat ditempuh sekitar 10 menit jika berjalan kaki. Putri dan
Molin memang bukan penduduk asli kota Medan, mereka berdua datang dari daerah
mereka masing-masing ke kota Medan untuk mengais rezeki dan pada akhirnya takdir
mempertemukan mereka berdua sebagai rekan kerja di kafe Wak Geng.
Walau jarak dari kafe
ke kost-kostan Putri dan Molin cukup dekat, namun perjalanan tersebut terasa sangat
panjang, sebab meskipun sudah hampir separuh perjalanan mereka lalui, mereka
hanya berjalan dan terus berjalan dalam hening malam. Tak satupun dari mereka
bertiga yang mencoba untuk berinteraksi satu sama lainnya. Putri merasa bahwa
hal itu ada kaitannya dengan peristiwa sebelumnya yang terjadi di kafe.
Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hati Putri sedari tadi, akan tetapi
ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan hal tersebut, namun ia juga
merasa tak enak jika terus-menerus memendam hal tersebut di dalam hatinya.
Dengan ragu-ragu akhirnya Putripun buka suara.
“Bang Nindrong, Kak
Molin, sebelumnya Putri minta maaf ya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Putri
ceritain ke kalian, tapi janji ya abang dan kakak gak akan marah sama Putri”.
Sontak Nindrong dan
Molin langsung mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Nindrong
sebenarnya sudah sedari tadi ingin menanyakan sesuatu kepada Putri, namun ia
mengurungkan niatnya karena sepertinya tanpa diminta, Putri juga akan segera
memberikan jawaban dari pertanyaan Nindrong.
“Sebenarnya Putri tau
kronologis kejadian di kafe tadi, dan Putri juga tau siapa yang sebenarnya
bersalah dan siapa yang sebenarnya pura-pura bersalah”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar