Sabtu, 23 Januari 2016

Wak Geng and The Geng 5 - Kemarahan Bulwan

Wak Geng and The Geng

Kemarahan Bulwan

Mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang utama kafe, Bulwan langsung keluar dari ruangannya, sementara beberapa detik kemudian Nindrong dan Molin juga muncul dari arah dapur.


“Ada apa ini kok pada ribut?” Tanya Bulwan penasaran.


Melihat Bulwan keluar dari ruangannya, Taunang, Dwi, Putri, dan Ayu sontak terdiam. Mereka saling memandang satu sama lain, namun tak satupun yang berani menjawab pertanyaan Bulwan. Bulwan sadar jika sesuatu telah terjadi di antara mereka berempat.


“Sekali lagi aku tanya, apa yang sudah terjadi di sini sehingga KALIAN RIBUT-RIBUT SEPERTI TADI?”.


Bulwan mulai emosi, raut wajah Bulwan terlihat mulai berubah, nada bicaranya juga sudah meninggi, namun keempat pramusaji masih saja saling pandang dan tetap diam membisu. Tak juga mendapatkan jawaban, Bulwan akhirnya naik pitam.

BRAAAAKKK!!!

Digebraknya meja kafe yang terbuat dari kayu tersebut sekuat tenaga, membuat seluruh orang yang berada di kafe, termasuk Nindrong dan Molin terkejut


“SIAPA SAJA, TOLONG JELASKAN PADAKU APA YANG SUDAH TERJADI DI KAFE INI BARUSAN? KALAU KALIAN MEMANG TIDAK ADA YANG MAU MENJAWAB, MAKA AKU AKAN MENGHUKUM KALIAN BEREMPAT DAN AKAN KUBERITAHUKAN TENTANG MASALAH INI KEPADA WAK GENG”.


Bukannya mendapat jawaban, Teriakan Bulwan barusan malah membuat suasana semakin hening. Nindrong menatap Molin dengan alis terangkat, seolah ingin bertanya kepada Molin apa yang sebenarnya terjadi, namun Molin menjawabnya dengan mengernyitkan dahinya sambil mengangkat kedua bahunya, menandakan bahwa tak seharusnya Nindrong bertanya kepadanya sebab ia juga tak tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi.

3 menit sudah berlalu dan masih saja tak terdengar jawaban dari pertanyaan Bulwan tadi dari mulut para pramusaji. Bulwanpun sudah kehilangan kesabarannya, ia kemudian memasukkan tangan kanannya ke saku celana untuk mengambil handphone yang akan digunakannya untuk menelepon dan menceritakan masalah yang tengah terjadi di kafe kepada Wak Geng, namun belum sempat Bulwan mengeluarkan handphonenya, lengannya tiba-tiba ditahan oleh Taunang


“Wan, udah, kau gak perlu nelpon dan ngasih tau Wak Geng tentang masalah ini. Sebelumnya aku minta maaf samamu Wan, aku terlalu takut untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Aku akui, aku lah yang membuat suasana menjadi seperti ini. Keributan ini berawal dari aku yang marah-marah sama Mbak Dwi. Aku marah karena di saat kita semua lagi sibuk-sibuknya ngelayanin pelanggan, Mbak Dwi malah menghilang dan baru datang setelah kafe tutup. Aku juga jadi tambah kesal karena Kak Ayu tiba-tiba sok jadi pahlawan dengan ngebelain Mbak Dwi. Tapi sekarang aku tahu aku salah, gak seharusnya aku marah-marah, apalagi aku pekerja baru di sini. Maafin aku, Wan. Maafin saya juga, Mbak Dwi, Kak Ayu. Tolong, jangan sampai Wak Geng tau tentang masalah ini, aku takut dia akan memecatku. Semuanya, maafin aku. maafin aku. Aku berjanji gak akan mengulanginya lagi”.


DUAK!!!


Sebuah pukulan dari Bulwan mendarat tepat di pipi kiri Taunang sehingga membuat Taunang jatuh tersungkur. Pukulan tersebut cukup keras hingga menyebabkan pipi Taunang merah dan dinding mulut bagian dalamnya pecah. Darah segar nan kentalpun mengalir dari sela-sela bibirnya hingga jatuh membasahi bagian depan kemeja yang dikenakan Taunang.

Melihat kedua sahabatnya bersitegang sampai sejauh itu, Nindrong tentu saja tak tinggal diam, ia segera memegang kedua lengan Bulwan dari depan dan mencoba menahan Bulwan agar tak lagi memukul Taunang.


“Wan, sudah Wan, sudah!! itu Taunang loh, kawan kau, kawan aku juga. Kita udah berkawan sejak bertahun-tahun yang lalu, masak cuma gara-gara masalah kecil kayak gini aja kau tega memukul dia, apa kau udah gila Wan? Kalau kau marah ya marah aja, tapi gak usah pake fisik juga dong”. Ujar Nindrong sembari berusaha menenangkan Bulwan.

“Ya, aku tau, aku tau dia memang kawan kita Ndrong, tapi dia juga udah bertindak sangat kurang ajar. Dia itu masih sehari bekerja di sini, dan dia udah lancang memarah-marahi Ayu dan Dwi yang jelas-jelas udah bekerja jauh lebih lama di kafe ini dibanding dia. Dia itu gak punya hak untuk marah pada siapapun di kafe ini. Akulah pemimpin di sini, jadi yang punya hak untuk menegur atau memarahi pekerja itu aku, bukan dia”.

Bulwan kemudian melanjutkan...

“Biar aku kasih tau samamu ya Nang, alasan Dwi terlambat dan gak masuk kerja hari ini adalah karena tadi pagi bapaknya Dwi tuh kecelakaan, jadi Dwi harus bergantian dengan ibunya jagain bapaknya yang saat ini sedang berada di rumah sakit. Dwi juga tadi pagi udah minta izin samaku untuk datang terlambat, dan aku juga udah izinin dia untuk gak masuk hari ini meskipun Dwi gak meminta izin untuk itu”.

“Iya mungkin Taunang salah karena dia udah memarah-marahi Ayu dan Dwi. Tapi kan dia gak tau kalo Dwi berhalangan hadir itu karena ada sebabnya kan Wan? Udahlah, gak usah diperpanjang, sabar Wan sabar, tahan emosimu”. Ujar Nindrong mencoba menenangkan Bulwan

“Apapun alasannya, tetap aja dia udah kurang ajar Ndrong. Udahlah, kau gak usah ngebelain dia, ini urusanku sebagai pemimpin di sini. Nang, kau ingat kalimatku ini baik-baik ya, tujuan utama kafe ini didirikan bukanlah untuk mencari profit, profit memang penting, tapi bekerja sama dan sama-sama bekerja dalam ikatan persahabatan dan kekeluargaan jauh lebih penting. Itulah alasan mengapa Wak Geng mendirikan kafe ini. Aku itu marah karena tindakanmu yang memarahi Ayu dan Dwi barusan bisa merusak ikatan persahabatan dan kekeluargaan yang sudah kami jalin selama ini di sini. Kau tahu, akibat dari perbuatanmu itu, Wak Geng bisa saja memecatmu sekarang juga”.


Sementara itu, Dwi yang merasa kalau dirinyalah penyebab keributan tersebut semakin merasa bersalah ketika Taunang dipukul oleh Bulwan. Dwi tahu kalau Taunang sengaja melakukan itu untuk melindungi dirinya dan juga Ayu dari kemarahan Bulwan, akan tetapi tetap saja ia merasa tak tega melihat Taunang mendapat perlakuan seperti itu dari Bulwan. Setelah berfikir sejenak, Dwi akhirnya membulatkan tekadnya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bulwan meskipun ia tahu resiko dari perbuatan yang akan ia lakukan.


“Bang Bulwan, ini bukan kesalahan Taunang bang, jadi tolong jangan hukum dia. Kasih Dwi kesempatan untuk menjelaskan semuanya bang,”, Ucap Dwi yang akhirnya buka suara.

“Menjelaskan? Maksudnya kamu mau menjelaskan apa Dwi? Abang gak ngerti?”.

“Sebenarnya Taunang itu....”.


Belum sempat Dwi menyelesaikan kalimatnya, Taunang langsung bangkit berdiri dan memegang lengan Dwi yang kontan saja membuatnya langsung berhenti berbicara.


“Gak ada yang harus dijelasin, akulah yang bersalah dan jadi penyebab keributan ini. Wan, kalau memang kau mau ngelaporin, laporin aja aku ke Wak Geng. Aku siap kalau memang aku harus dipecat”.


Bulwan terdiam, ia tak menyangka kalau Taunang akan berani menantangnya seperti itu. Sebenarnya Bulwanpun tak yakin kalau Taunang bersalah, karena ia mengenal betul siapa Taunang dan bagaimana sifat dan sikapnya, akan tetapi Taunang sendiri tadi mengatakan hal yang malah memojokkan dirinya sendiri sehingga Bulwanpun menjadi kalut dan lepas kendali.


“Ah sudah.sudah. Aku pusing denger penjelasan kalian berdua. Yaudah, kalau gitu aku akan melupakan kejadian ini dan merahasiakannya dari Wak Geng, tapi ingat, aku gak mau kejadian ini terulang kembali. Oh iya, besok jam 9 pagi, aku dan Wak Geng akan menjenguk bapaknya Dwi di rumah sakit. Kalau kalian ingin pergi bersama-sama, kumpul di kafe jam 8.50, tapi kalau memang kalian ingin pergi sendiri-sendiri juga silahkan, asalkan tidak di jam kerja atau mengganggu waktu istirahat bapaknya Dwi. Wak Geng tadi menghimbau kepada kita semua untuk bisa datang dan memberikan doa serta semangat ke bapak dan ibu Dwi, kita tunjukkan rasa solidaritas dan simpati kita ke keluarga Dwi. Kalau begitu seperti biasa, aku sangat berterima kasih atas kerja keras kalian hari ini dan mari berharap semoga esok akan lebih baik lagi. Baiklah, Silahkan kalian kembali ke rumah kalian masing-masing”. Ujar Bulwan.


_____


“Nang, kenapa kamu melakukan itu Nang? Kenapa kamu gak mengatakan yang sebenarnya aja? Coba nih liat, kamu jadi memar gini dan mulut kamu juga ngeluarin darah terus. Aku..aku minta maaf ya, semuanya gara-gara aku, aku memang pembawa sial”.

“Husssh!! Ngomong apa sih Mbak? Gak baik ngomong kayak gitu, Mbak Dwi itu pembawa keberuntungan loh, bukan pembawa sial. Buat saya mbak Dwi itu adalah lucky starnya saya, jadi saya gak mau Mbak ngomong kayak gitu lagi, janji?”.

“He..em!!”. Jawab Dwi sambil tersenyum, air matanya kembali menetes karena terharu melihat kebaikan Taunang.

“Gitu dong, Mbak lebih keliatan manis kalo lagi senyum, hehe. Loh kok Mbak nangis lagi? Bentar, maaf ya Mbak, tapi saya bukan bermaksud lancang loh, beneran”. Ujar Taunang sambil lagi-lagi menghapus lagi air mata Dwi dengan sapu tangannya.

“Nang, makasih ya udah baik banget sama saya. Sebagai gantinya boleh ya saya ngobatin luka di pipi kamu, sebenarnya gak sebanding sih sama kebaikan kamu ke saya, tapi saya gak tau mau kayak mana lagi ngebalasnya, boleh ya”.

“Kebaikan? Hahaha, Mbak Dwi kadang-kadang suka melebih-lebihkan nih, cuma gitu doang kok. Gak usah pake dibalas-balas segala deh Mbak. Saya cuma gak mau Mbak Dwi dimarahi Kak Ayu, dan Kak Ayu juga dimarahi Bulwan, itu aja kok. Emm, boleh aja sih, tapi kayaknya Mbak Dwi lebih bagus pulang aja deh. Kasian ibunya Mbak Dwi nungguin Mbak Dwi di rumah, udah larut malam juga, besok-besok aja lah Mbak”.

“Memang seperti itulah kenyataannya, kamu itu baik banget orangnya. Terima kasih banyak ya. Iya sih, udah lewat tengah malam juga, tapi tenang aja, malam ini saya dan ibu saya tidurnya di rumah sakit, jadi ibu gak akan terganggu kalau saya pulangnya telat. Emm, oh iya, kalau gitu saya ngobatin luka kamu di rumah sakit aja ya, sekalian kamu ngantarin saya ke sana, saya agak takut nih kalau harus jalan sendirian ke sana. Ya ya”.

“I..iya deh, yaudah kalo gitu kita jalan sekarang yuk Mbak, udah makin larut malam nih”.

“Oke”.

_____


Ayu tengah mengambil barang-barangnya di dalam loker dan bersiap-siap untuk pulang, namun alangkah terkejutnya ia ketika tiba-tiba Bulwan sudah ada di sampingnya..


“Yu, abang boleh ya nganterin kamu pulang? Udah lewat jam dua belas malam nih, bahaya loh kalau cewek secantik kamu jalan sendirian di tengah malam seperti ini”.

“Eh, bang Bulwan, bikin kaget aja. Emm, Makasih ya bang, tapi Ayu jalan sendiri aja. Rumah Ayu kan gak terlalu jauh dari sini, dan Ayu juga gak sendirian, Ayu bisa bareng sama Dwi karena rumah kami kan searah”.

“Iya, abang tau. Tapi kan tetap aja bahaya kalau gak ada cowok yang nemenin, di depan situ banyak preman-preman yang suka godain cewek-cewek loh. Gak takut?”.

“Ayu tau kok kalo maksud abang baik, makasih ya buat perhatiannya, tapi Ayu rasa gak usah Bang. Tenang aja, Ayu gak takut kok, Ayu bisa urus diri Ayu sendiri. Yaudah Ayu pamit dulu ya, permisi”. Jawab Ayu sambil tersenyum.


Ayu berjalan ke arah pintu keluar, meninggalkan Bulwan yang masih menatapnya dari belakang. Wajah Bulwan tampak kecewa, sebab, ini bukan kali pertama Bulwan medapatkan penolakan dari Ayu, beratus-ratus kali sudah ia mencoba menawarkan diri untuk menemani Ayu pulang, namun beratus kali pula Ayu menolaknya.

Meskipun ia sudah sangat sering mendapat penolakan, namun ia tak kunjung menyerah. Bulwan adalah pria yang sangat ambisius, ia akan berjuang keras demi mendapatkan apa yang ia inginkan dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Ia selalu yakin kalau suatu hari nanti, Ayu akan mau ditemani pulang oleh dirinya, dan Ia tak akan pernah mundur sebelum berhasil merebut simpati dan perhatian Ayu. Lagi-lagi Bulwan kembali berkhayal dan lagi-lagi ia disadarkan oleh suara dari orang yang sama


“Bang Bulwan! Bang Bulwaaan!!”.

“Eh! Iya maaf, loh Putri, ada apa dek?”.

“Tuh kan, makanya jangan melamun aja kerjanya. Bang, Anterin Putri Pulang dong. Putri takut nih lewat perempatan di depan situ, banyak premannya Bang. Putri takut digodain sama mereka”.

“Sama Bang Nindrong aja ya Put, Abang capek banget nih, gak apa-apa kan?”.

“Loh, kok sama Bang Nindrong sih? Putri maunya Bang Bulwan aja yang nganterin Putri”.

“Duh! Beneran dek, Abang capek banget. Sama Bang Nindrong aja ya Put, sekalian kan dia juga mau nganter Molin. Tenang aja, Bang Nindrong juga jago bela diri kok. Jadi biarpun dia sendiri, gak akan ada yang berani ganggu kalian, aman lah pokoknya”.

“Yaudah deh, Bang Bulwan selalu kayak gitu sama Putri, gak pernah mau nganterin Putri. Kalo gitu Putri pamit dulu ya Bang, permisi”.

“Eh, i..iya dek. Hati-hati di jalan ya”.


_____


“Lin, menurutmu apa yang dibilang Taunang tadi bener gak? Ituloh yang dia ngaku-ngaku sebagai penyebab keributan tadi. Kok aku sama sekali gak yakin ya kalau dia itu berani ngomong kasar sama orang, apalagi sama cewek?”.

“Entahlah, aku kurang yakin juga sih Ndrong, menurutmu kayak mana? Apa iya Taunang tega berbuat kayak gitu sama Dwi?”.

“Aku gak yakin juga sih, tapi aku yakin Taunang tidak bersalah Lin, aku kenal betul siapa dia. Dia pasti melakukan ini untuk melindungi...tunggu dulu, jangan-jangan...ah! Akan kupastikan hal ini besok, akan kutanyakan langsung kepada dia”.

“Dia? Maksudmu yang sedari tadi berada di tempat namun tak mengatakan sepatah katapun? ya aku juga merasa dia tau peristiwa itu sejak awal, tapi kenapa dia tidak cerita dan mengatakan hal yang sebenarnya ya sama Bulwan?”.

“Entahlah Lin, itu cuma asumsi kita aja. Untuk lebih jelasnya aku akan tanyakan langsung besok ke dia, tapi aku ragu dia mau menceritakan kejadian yang sebenarnya, karena mungkin dia segan atau takut dengan seseorang”.

“Bisa aja sih, tapi ada kemungkinan juga kan kalo Taunang memang berubah sejak kejadian itu, tapi yaudahlah, besok-besok aja kita bahas itu. Sekarang anterin aku pulang yok! Udah larut malam nih, kalo gak aku bakalan nyanyi nih”.

“Eh..iya-iya, aku anterin kok, tapi pliss jangan nyanyi ya, pliss! Aku mohon”.

“Iya..iya, yaudah yuk jalan”.


Nindrong dan Molin kemudian bergegas pergi meninggalkan kafe. Namun belum lama mereka berjalan tiba-tiba seseorang memanggil mereka dari belakang.


“Kak Molin! Bang Nindrong! Tungguin Putri dong”.

“Eh, Putri. Mau pulang bareng juga? Bulwan mana”.

“Iya Bang, hehe. Bang Bulwan gak bisa nganterin Putri bang, katanya dia lagi capek, jadi Putri minta dianterin sama bang Nindrong aja ya, kan kostnya Putri dan kost kak Molin deketan, jadi boleh ya bang, soalnya Putri takut pulang sendirian nih”.

“Iya boleh, yaudah yuk jalan”.


Nindrong, Molin, dan Putri kemudian berjalan bersama-sama. Sama seperti Molin, Putri juga memilih untuk ngekost di sekitar kafe Wak Geng. Kost-kostan mereka terbilang cukup dekat karena dapat ditempuh sekitar 10 menit jika berjalan kaki. Putri dan Molin memang bukan penduduk asli kota Medan, mereka berdua datang dari daerah mereka masing-masing ke kota Medan untuk mengais rezeki dan pada akhirnya takdir mempertemukan mereka berdua sebagai rekan kerja di kafe Wak Geng.

Walau jarak dari kafe ke kost-kostan Putri dan Molin cukup dekat, namun perjalanan tersebut terasa sangat panjang, sebab meskipun sudah hampir separuh perjalanan mereka lalui, mereka hanya berjalan dan terus berjalan dalam hening malam. Tak satupun dari mereka bertiga yang mencoba untuk berinteraksi satu sama lainnya. Putri merasa bahwa hal itu ada kaitannya dengan peristiwa sebelumnya yang terjadi di kafe. Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hati Putri sedari tadi, akan tetapi ia tak memiliki keberanian untuk mengungkapkan hal tersebut, namun ia juga merasa tak enak jika terus-menerus memendam hal tersebut di dalam hatinya. Dengan ragu-ragu akhirnya Putripun buka suara.


“Bang Nindrong, Kak Molin, sebelumnya Putri minta maaf ya, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Putri ceritain ke kalian, tapi janji ya abang dan kakak gak akan marah sama Putri”.


Sontak Nindrong dan Molin langsung mengerti ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut. Nindrong sebenarnya sudah sedari tadi ingin menanyakan sesuatu kepada Putri, namun ia mengurungkan niatnya karena sepertinya tanpa diminta, Putri juga akan segera memberikan jawaban dari pertanyaan Nindrong.



“Sebenarnya Putri tau kronologis kejadian di kafe tadi, dan Putri juga tau siapa yang sebenarnya bersalah dan siapa yang sebenarnya pura-pura bersalah”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar