Rabu, 30 Desember 2015

Wak Geng and The Geng 3 - Hari Pertama Taunang (1)

Wak Geng and The Geng

Hari Pertama Taunang (1)

Bulwan beranjak pergi meninggalkan Nindrong dan Molin menuju ke ruangannya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, Molin tiba-tiba bertanya...


“Bul, apa Taunang sudah bisa mengingat semuanya?”


Mendengar pertanyaan Molin, sontak Bulwanpun berbalik dan berjalan menuju ke arah Molin, dan dengan raut wajah penuh kemarahan ia menjawab pertanyaan Molin dengan suara yang cukup keras...


“Aku ingatkan sekali lagi Lin, jangan pernah kau bahas masalah itu di sini. Kau bisa bertanya tentang masalah itu kapanpun dan di manapun kau mau, tapi tidak di sini, di kafe ini”

“Hei, kau gak perlu bentak dia juga kan Bul. Mungkin Molin khilaf. Toh, Taunang juga lagi di luar dan yang saat ini tau masalah ini cuma kita berempat plus Wak Geng. Jadi rileks ajalah, nyantai, ga usah terlalu dibawa emosimu”.

“Eh, enggak kok, apa yang dibilang Bulwan bener kok, memang aku yang salah, jadi wajar kalo Bulwan marah samaku. Maaf Bul, aku keceplosan, lain kali aku akan lebih berhati-hati lagi. Sekali lagi aku minta maaf Bul”.

“I..iya Lin, aku juga minta maaf karena barusan aku juga udah ngomong kasar samamu. Mungkin Nindrong benar, aku terlalu tegang. Aku hanya..aku hanya terlalu takut kalau Taunang bisa mengingat masa lalunya. Aku takut dia akan kembali seperti dulu atau bahkan lebih buruk lagi. Pokoknya kita berempat harus tetap menjaga rahasia ini, jangan sampai orang lain tau, dan juga jangan sampai salah satu di antara kita berempat membocorkan rahasia ini kepada Taunang. Mengerti?”.

“Siip!! Gitu dong, kan bagus. Seberat apapun masalah yang kita punya, cobalah menghadapinya dengan santai dan dibawa rileks aja brow”.


Bulwan tersenyum, ia bersyukur memiliki teman dan sekaligus bawahan yang bisa ia andalkan seperti Nindrong dan Molin. Nindrong, Molin, dan juga Taunang adalah teman dekatnya sejak ia duduk di bangku kuliah, dan kini takdir berhasil mempertemukan mereka kembali, berkumpul bersama ketiga sahabat terbaiknya dan sama-sama bekerja di tempat yang sama membuat Bulwan merasa sangat bersyukur. Bulwan kemudian kembali berjalan meninggalkan kedua sahabatnya di dapur dan masuk ke dalam ruangannya, ia tak sadar bahwa sedari tadi seseorang tengah menguping pembicaraan antara Nindrong, Molin, dan Bulwan.


_____


“Udah lama jadi tukang becak, Bang?”

“Udah Dek, udah 40 tahun Abang kerja ngebecak. Jadi Abang udah banyak makan asam garam di dunia perbecakan ini, Dek”.

“Widiiih, lama jugak ya Bang. Ngomong-ngomong Bang, apa Abang gak pernah coba cari profesi lain? atau ngelamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan gitu Bang? Kan gak mungkin selama 40 tahun ini Abang cuma bergelut di dunia perbecakan kan Bang?”

“Gak dek, Abang gak pernah coba cari profesi lain. Tukang Becak adalah profesi keluarga Abang yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang kami. Jadi keluarga Abang itu udah jadi tukang becak jauh sebelum Belanda menjajah bangsa kita. Asal tau aja, Abang memiliki kerabat di berbagai belahan dunia ya gara gara becak. Mulai Eropa, Amerika Serikat, Amerika Selatan, Timur Tengah, Asia Pasifik, Afrika, Australia, dan berbagai negara lainnya. Kami semua masih memiliki ikatan darah yang sama karena saat itu nenek moyang Abang gemar berpetualang keliling dunia dengan becaknya, dan tiap kali ia singgah di suatu negara, ia pasti menikah dan punya anak dari wanita di negara tersebut”.

“Warbyasaaaa!!! Hebaaatt!! Hebaaaatt!! Saya kagum sama nenek moyang Abang itu. Abang dan keluarga Abang yang lain memang Tukang Becak sejati. Oh iya Bang, beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang tukang becak di kota Siantar. Katanya dulu dia sering main ke daerah Jalan Bawa Perasaan Bang, apa dia masih saudaraan sama Abang?”.

“Iya Dek, Abang tau orang itu, dia itu anak paman Abang dari sepupunya keponakan kesayangan mendiang tetangga Abang yang udah dianggap seperti bukan keluarga sendiri. Kami dulu sering bermain bersama, ketika Abang bermain kelereng, ia pasti bermain lompat tali, ketika Abang bermain kejar-kejaran, ia tetap bermain lompat tali, dan ketika Abang bermain lompat tali pasti dia udah pulang karena disuruh mandi sama mamaknya. Sungguh masa-masa yang sangat indah, Abang sering meneteskan air mata kalau teringat akan hutang-hutang dia yang sampai sekarang belum juga dibayarnya. Sudahlah, Abang tidak ingin mengingatnya lagi, Abang sudah iklash dan berharap ia tenang di alam sana”.

“Loh, tapi kan dia masih hidup Bang? Kok Abang ngomongnya seolah-olah dia udah gak ada lagi Bang?”

“Ya juga sih. Hahaha. Yodahlah, tak usah kita bahaslah dia itu. Oh iya, ngomong-ngomong siapa adek cantik yang duduk di samping kau ini? Dari tadi Abang tengok senyum aja dia, gak ada suaranya, mahal kali suaranya Abang rasa. Istri kau ya dek?”

“Istri? Hahaha, bukan Bang. Ini Kak Ayu, teman kerja saya di kafe Wak Geng. Saya dan dia disuruh oleh atasan kami untuk berbelanja di pasar”.

“Oh, gitu. Abang pikir istri kau ini Dek, cantik kali kutengok. Oh iya, udah nyampek kita dek, di depan itu pasarnya. Abang turunkan di sini ajalah kalian ya dek. Payah, udah banyak kali becak masuk ke sana, padat kali, susah nantik becak Abang keluarnya”.

“Oke Bang, ini ongkosnya. Makasih banyak ya, Bang”.

“Sama-sama, Dek!!”.

_____


“Fiuh, akhirnya selesai juga buat laporan penjualan yang kemarin, tinggal dicetak dan dikasih liat sama Wak Geng. Sekarang waktunya buat aku ngobrol empat mata sama kamu”.


Bulwan mengeluarkan sebuah kunci dari kantung celananya, dengan kunci itu, Bulwan membuka laci meja kerjanya dan mengambil selembar foto yang terselip di antara beberapa buku. Bulwan menatap foto itu, kemudian ia tersenyum, didekatkannya foto tersebut ke dadanya sambil memejamkan mata seolah-olah ia tengah memeluk objek dari foto tersebut. Dipandanginya kembali foto tersebut, dan ia kembali tersenyum...


“Akhirnya, Aku punya waktu untuk bisa mengobrol lagi dengan kamu. Kamu apa kabar? Kalau aku sih baik-baik aja. Kamu malam minggu ini ada acara gak? Aku boleh ya main ke rumah kamu? Gak boleh? Emm, atau kita nonton aja ya, kebetulan lagi ada film seru nih di bioskop, filmnya romantis loh, judulnya Kutukan Rumah Jomblo. Mau ya, ya, ya”.


Diusapnya foto tersebut, dipandanginya kembali, dan Bulwanpun lagi-lagi tersenyum


“Nanti setelah nonton, kita makan malam ya, berdua. Tenang aja, aku yang traktir, kamu boleh makan apa aja yang kamu mau, kalau mau dibungkus juga gak apa-apa, sekalian belikkan papa dan mama kamu juga. Ya..ya, mau ya. Mau dong cantik. Ya..ya”.


Didekapnya kembali foto tersebut, kali ini lebih erat. Bulwan kembali tersenyum, dengan mata yang terpejam kemudian ia mulai berkhayal, fikirannya jauh melanglang buana ke dalam dimensi imajinasinya. Ia sangat menikmati khayalannya tersebut sampai tiba-tiba...


Tok..tok..tok

“Permisi”


Terdengar suara pintu ruangan Bulwan diketuk dari luar, membuat Bulwan yang masih sibuk dengan khayalannya sontak tersadar. Tak ingin ada orang lain yang tahu soal foto yang, ia langsung buru-buru menyembunyikan foto itu ke dalam laci meja kerjanya


Tok..Tok..Tok..

“Permisi Bang”.

“Yak, silahkan masuk”.


CEKLEK!!


“Oh, Dwi. Ya, silahkan! masuk..masuk”.

“Iya Bang, ngobrol sama siapa tadi Bang? Dwi dengar dari luar Abang kayak lagi ngomong gitu sama orang lain, lagi teleponan ya?”.

“Teleponan? Oh iya, hahaha. Iya..iya, tadi Abang teleponan sama temannya teman tetangga jauh Abang. Hehe. Oh iya, ada perlu apa Dek?”.

“Oh, lagi teleponan ya. Gini Bang. Dwi mau tanya, Dwi bisa gak ambil gaji Dwi bulan ini sekarang Bang? Dwi butuh uang itu buat biaya berobat Bapak, Bang”.

“Loh, Bapaknya Dwi kenapa, Dek?”.

“Bapak Dwi kan selama ini kerja sebagai supir pribadi Bang, nah tadi pagi waktu bapak lagi jalan mau berangkat ke tempat kerjanya, bapak kecelakaan Bang. Bapak jadi korban tabrak lari. Dwi ke sini, mau minta tolong sama Abang. Dwi bisa minta tolong kan Bang supaya Dwi bisa ambil gajinya Dwi sekarang, boleh ya Bang”.

“Emm, kalau masalah gaji, Abang harus ngelapor dulu lah sama Wak Geng, Dek. Abang gak punya wewenang untuk ngeluarin gaji sebelum tanggalnya, soalnya Abang kan cuma asisten di sini. Hari ini kayaknya Wak Geng gak datang ke kafe, mungkin besok lah baru Abang bisa bicarain masalah ini sama Wak...”.

“Bang, Dwi mohooon Bang. Dwi sangat butuh uang itu sekarang buat biaya berobat bapak Dwi Bang. Ibu Dwi udah gak punya uang tabungan lagi Bang, semuanya udah habis dicuri sama Abang Dwi. Dwi mohon Bang, Dwi mohon Abang bisa keluarin gaji Dwi itu sekarang Bang.”.


Setelah menyelesaikan kalimatnya, air mata Dwi kemudian mengalir deras membasahi kedua pipinya. Bulwan juga sebenarnya tidak tega melihat Dwi menangis, apalagi setelah mendengar apa yang telah disampaikan oleh Dwi, namun ia juga tak berhak membagikan gaji para pekerja di kafe tersebut sebelum waktunya, karena masalah itu sepenuhnya merupakan wewenang Wak Geng sebagai pemilik kafe

Bulwan memberikan kesempatan kepada Dwi untuk menyelesaikan tangisannya, ia tidak berusaha menghiburnya karena ia tahu Dwi sedang tidak butuh dihibur oleh siapapun. Setelah beberapa menit, tangisan Dwi mulai mereda, Bulwan tahu ini saat yang tepat untuk berbicara kepada Dwi, dan dengan penuh perhatian ia kemudian memberikan sapu tangannya kepada Dwi.


“Dek, Maaf ya Abang gak bisa bantu Dwi untuk mencairkan gaji Dwi sekarang. Tapi Abang tetap bisa bantu Dwi kok kalau berkaitan dengan masalah pembiayaan bapak Dwi. Kebetulan Abang ada uang nih, memang sih cuma setengah dari gaji Dwi, tapi mudah-mudahan cukuplah untuk dijadikan jaminan sampai nanti Dwi gajian”.

“Tapi Bang...”.

“Udah, gak usah pakek tapi-tapian. Dwi ambil uang ini sekarang, terus pergi sana ke rumah sakit. Pakai aja dulu uang Abang itu, kalau masalah gantinya nanti-nanti aja kalau bapak udah sembuh dan Dwi udah punya uang buat ganti. Yaudah, hapus tuh air matanya, Abang paling gak suka liat perempuan nangis, soalnya Abang takut ikutan nangis juga”.


Dwi menyeka air matanya dengan sapu tangan Bulwan, kemudian ia beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya


“Makasih..makasih banyak ya Bang, Dwi janji, Dwi pasti akan lunasin hutang Dwi ke Abang secepat mungkin, Dwi janji Bang, makasih banyak ya Bang Bul. Kalau begitu Dwi permisi dulu ya Bang, Dwi mau langsung ke rumah sakit”.

“E..e..eh!! tunggu dulu! Dwi nanti balik lagi buat masuk kerja atau gak? Kalau memang gak balik lagi biar Abang bikin izin nih di absen karyawan”.

“Dwi pasti balik lagi Bang, tapi mungkin agak telat. Nanti setelah ibunya Dwi balik ke rumah sakit buat gantiin Dwi jagain bapak, Dwi pasti balik lagi ke sini Bang”.

“Loh, Ibunya Dwi ke mana Dek?”

“Lagi di luar Bang, soalnya ibu Dwi juga lagi berusaha cari pinjaman ke tetangga tetangga sekitar rumah”.

“Oh gitu, oke, Nanti Abang juga akan telepon Wak Geng buat ngasih tau dia tentang masalah Dwi, siapa tau dia juga bisa kasih bantuan nanti”.

“Iya Bang, kalau gitu Dwi permisi dulu ya, sekali lagi makasih banyak ya Bang Bul”.

“Iya, titip salam ya sama bapaknya, semoga beliau cepat sembuh”

“Oke Bang, permisi”


_____


Waktu sudah menunjukkan jam 3 sore, waktunya kafe dibuka. Semua pekerja kecuali Dwi sudah siap di posisinya masing-masing. Nindrong dan Molin sudah selesai mempersiapkan bahan-bahan dan peralatan yang mereka butuhkan untuk memasak pesanan pelanggan, Putri juga sudah selesai merapikan dan membersihkan meja dan kursi, Ayu dan Taunang juga sudah kembali dari pasar, sementara Bulwan juga sudah bersiap untuk membalik papan pemberitahuan yang tergantung di pintu depan kafe dari CLOSE menjadi OPEN.


“Semuanya, dengar!! Seperti biasa, hari ini adalah hari keberuntungan buat kita semua, Pelanggan bukanlah raja, mereka hanya manusia biasa. Tapi kita harus bekerja sebaik mungkin dan berusaha memberikan yang terbaik sehingga pelanggan merasa diperlakukan layaknya raja. Hari ini semangat bekerja kita tidak boleh kalah dari semangat kerja kemarin. Mengerti?”.

“Mengerti, Pak Asisten!!!”


Semua pekerja di kafe kompak menjawab pertanyaan Bulwan yang seperti biasa selalu memberikan arahan dan semangat kepada para bawahannya agar bekerja lebih giat dari hari-hari sebelumnya.

15 menitpun berlalu sejak kafe dibuka, tampak seorang calon pelanggan tengah berjalan menuju kafe. Setelah sejenak melihat-lihat interior kafe dari luar (Sebagian besar dinding kafe terbuat dari kaca yang tebal, sehingga bagian dalam kafe dapat terlihat dari luar, memudahkan calon pelanggan yang berada di luar untuk melihat ke dalam, dan pelanggan yang berada di dalam untuk melihat ke luar.
Bulwan berjalan ke arah Taunang, ia tahu kalau Taunang pasti sedikit gugup di hari pertamanya bekerja, dan sebagai atasan Taunang, Bulwan merasa wajib memotivasi Taunang agar bisa bekerja senyaman mungkin.


“Nang! Ingat, kau, Dwi, Ayu, dan Putri bertugas sebagai pramusaji di sini. Jadi berusahalah bekerja sebaik mungkin di hari pertamamu bekerja. Itu lihat, ada yang sedang menuju ke sini. Layani dia dengan baik, tanyakan apa yang dia inginkan, dan bersikaplah ramah kepada semua pelanggan. Kalau ada masalah, aku ada di ruanganku. Ngerti kau kan?”.

“Siap Pak Asisten”.


Bulwan kemudian masuk ke ruangannya, sementara Taunang bersiap menyambut pelanggan pertamanya. Jantung Taunang berdegup kencang, ia tidak menyangka kalau ia akan segugup ini. Tapi ia mencoba untuk mengendalikan keadaan. Ia memejamkan matanya, menarik nafas panjang, lalu pelan-pelan menghembuskannya kembali melalui mulut...


“Fiiiuuuuuhhhh....!!!”

“Kyaaaa!!!”.


Alangkah terkejutnya Taunang ketika mendengar suara teriakan tersebut. Ia kemudian membuka matanya dan melihat Ayu tengah berdiri di depannya dengan wajah jengkel


“Eh, Kak Ayu, Ada apa Kak?”.

“Ngapain sih kamu ngembus-ngembus ke muka aku? Bauk tau!!”.

“Anu, saya tadi sedang gugup jadi saya berusaha untuk menenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam sambil memejamkan mata dan menghembuskannya kembali secara perlahan. Saya tau cara itu dari dari artikel yang saya baca di internet Kak. Maaf Kak saya gak tau. Kakak juga sih gak bilang-bilang kalau lagi di depan saya, kalo saya tau kan nafasnya saya bisa saya telan lagi”.

“Malah ngeles lagi, yaudah deh lupain aja. Sekarang ayo ikut aku, ada hal penting yang mau kujarkan sama kamu. Ayo ikut dan perhatikan baik-baik”.


“I..iya Kak...”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar