Rabu, 23 Desember 2015

Wak Geng and The Geng 2 - Bulwan, Asisten Wak Geng

Wak Geng and The Geng

Bulwan, Asisten Wak Geng

Tok..tok..tok..

“Permisi!”

Tok..tok..tok..tok..

“Permisi!!!”


“CEKLEK”

Terdengar suara pintu yang terbuka. Lalu seiring dengan terbukanya pintu, tampaklah sesosok pemuda yang bertelanjang dada dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya


“Ya, ada apa ya? Maaf agak lama buka pintunya, tadi saya sedang... ”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”

“Ada apa? Kenapa?”

“Han..han,,duk..itu, han..handuk kamu melorot”.

“Wah, hahaha iya melorot. Loh, kenapa? Kan saya pakai celana ponggol, bahkan dengkul saya juga gak keliatan, kenapa harus teriak-teriak?”.

“E..eh..I..iya juga ya. Haha..hahahaha..Maaf, saya fikir kamu tadi, anu..hehe. maaf-maaf. Anu, nama saya Dwi, saya salah satu karyawati yang bekerja di sini. Tadi Wak Geng menyuruh saya untuk membawakan makanan dan teh hangat ini ke sini, salam kenal dan maaf atas kejadian tadi”.

“Oh..I..iya. Saya juga minta maaf karena sudah mengejutkan Mbak. Saya fikir yang mengetuk pintu tadi adalah Nindrong atau Bulwan, ternyata Mbak. Maaf juga ya, saya tadi belum sempat pakai baju. Oh iya, Saya Taunang, salam kenal. Mulai besok saya juga akan bekerja di sini sebagai pramusaji. Mohon kerjasamanya ya Mbak. Hehe. Oh ya Mbak, terima kasih ya sudah membawakan saya makanan dan teh ini, sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih banyak, Mbak Dwi”.


Dipanggil dengan sebutan Mbak oleh pemuda yang baru saja dikenalnya, Entah mengapa wajah Dwi langsung memerah. Detak jantungnya berdegup kencang, tak beraturan. Ia tak tahu mengapa ia bisa segugup ini, dan ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada pemuda itu, sesuatu yang membuat Dwi senang melihatnya. Wajahnya, sikapnya yang sopan, senyumnya, tatapannya. Tetapi, Dwi merasa perasaannya telah membawanya terlalu jauh, ia berusaha untuk mengatur ritme nafasnya agar tetap tenang, Ya, ia tidak ingin terlihat salah tingkah di depan pemuda itu. Dwi yakin kalau satu-satunya cara agar ia dapat terlepas dari kegugupan ini adalah dengan menjauh, dan sepersekian detik kemudian ia mendapatkan ide agar ia dapat melepaskan diri dari tatapan Taunang.


“Eh, anu..saya masih banyak pekerjaan nih, sa..saya ke bawah dulu ya, emm..permisi”


Dengan setengah berlari, Dwi pergi meninggalkan Taunang yang masih berdiri di depan pintu kamarnya sembari menatap Dwi dengan penuh keheranan.

_____


“Woi Vangke! Bangun! Itu tempat tidurku, pindah-pindah”.

“Apa sih Bul? Biar aja lah dia tidur di tempat tidurmu. Kasian loh, pasti dia kelelahan. Biar ajalah malam ini dia tidur di tempat tidurmu, Kasih dia kesempatan untuk istirahat”.

“Enak aja, Bukan gitu Ndrong, ini tempat tidurku, salah satu tempat paling pribadi yang kumiliki dan udah kuanggap seperti istriku sendiri, jadi aku gak akan rela istriku ditiduri lelaki lain. Badanku juga capek, aku juga perlu istirahat. Kalo dia memang mau istirahat, jangan di tempat tidurku. Woi, Nang! Sana-sana, pindah kau!!”.

Mendengar teriakan Bulwan, Taunang pun terbangun dari tidurnya, dalam keadaan setengah sadar dan dengan mata masih setengah terbuka ia pun bangkit dari tempat tidur Bulwan menuju ke tempat tidur yang lainnya.


“Woi Vangke! Bangun! Itu tempat tidurku, pindah-pindah”.

“Apa sih Ndrong? Biar aja lah dia tidur di tempat tidurmu. Kasian loh dia, pasti dia kelelahan. Biar ajalah malam ini dia tidur di tempat tidurmu, Kasih dia kesempatan untuk istirahat. Toh tadi kau juga ngomong kayak gitu kan samaku”.

“Berisik! Badanku juga capek, aku juga perlu istirahat. Kalo dia memang mau istirahat, jangan di tempat tidurku juga dong”.

“Ya trus, dia tidur di mana Ndrong?”.

“Aku juga gak tau, aku pun gak tega liat si kuvret ini tidur di lantai, tapi aku juga gak suka ada orang lain yang tidur di tempat tidurku. Gini aja, aku ada ide...”

_____


“Huaaahmm...nyam..nyam..nyam..Udah pagi rupanya. Nyenyak juga aku tidur tadi malam. Tapi, syukurlah, badanku kembali terasa segar. Yosh! Aku harus mandi dan siap-siap untuk kerja. Ini adalah hari pertamaku bekerja, jadi aku harus menunjukkan ke Wak Geng kalau dia ga salah udah merekrutku karena aku adalah orang yang disiplin, pekerja keras, rajin menabung, patuh dan taat terhadap nasehat guru dan orang tua, peraturan dan tata tertib sekolah. Oh iya, udah jam berapa ini ya?”.

“Jam setengah enam pagi Mas”.

“Oh, iya. Makasih ya mas. Maaf ngerepotin, soalnya jam tangan saya kemarin ketinggalan di kampung. Ah sial, udah hape saya rusak, jam tangan juga gak ada. Kalau kayak gini bisa-bisa saya selalu terlam... WHAAAAAAAAA!!! SES..SES..SIAPA KAU? KENAPA KAU TIDUR DI SAMPINGKU? BUKAN, KENAPA AKU BISA TIDUR DI SINI? DI MANA INI? DAN WHAAAAAAAA!!! KENAPA AKU CUMA PAKAI CELANA PONGGOL DAN GAK PAKAI BAJU? APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADAKU, BAPAK TUA?”.

“Tenang, tenang..saya bisa jelasin semuanya Mas. Ini tidak seperti yang Mas bayangkan, ini Cuma salah faham, Mas”.

“DIAAAM!!! DASAR KAU BAPAK TUA SIALAN!!”.


DUAK!!!

Dengan sekuat tenaga, Taunang memukul si Bapak Tua tepat di bagian wajahnya sehingga si Bapak Tua terpental dari gubuknya dan tercebur ke dalam empang. Bukannya meminta maaf, Taunang yang masih dalam bingung dan juga emosi malah pergi meninggalkan si Bapak Tua begitu saja.

_____


“Brow, Brow, liat tuh, liat tuh!”.

“Apa? Ada apa?”.

“Itu tuh di depan sana, liat tuh si kentut bauk itu lagi jalan ke sini. Aku berani bertaruh kalau dia pasti sangat marah sama kita berdua. Nanti kalau dia nyampek sini, kita pura-pura gak tau aja ya”.

“Hihihi, Oke-oke. Tapi ini semua idemu loh Ndrong. Aku cuma ikut-ikutan aja ya”.

“Enak aja, aku kan tadi malam nyaranin supaya mindahin dia ke teras kafe doang, sedangkan yang punya ide untuk mindahin dia ke gubuknya pemilik empang kan kau Buls”.

“Iya deh, resiko kita tanggung bersama. Eh, eh, dia udah mau nyampek tuh, cepat, cepat, atur ekspresimu, biar dia gak curiga”.

“Oke”.


Semenit kemudian Taunangpun sampai di depan kafe Wak Geng, Dengan wajah yang merah padam karena  menahan emosi dan rasa malu ia bergegas masuk ke dalam kafe. Ia tahu kalau Bulwan dan Nindrong adalah dalang dari peristiwa yang barusan di alaminya.


Ceklek...


“BULWAAAAANNN!! NINDROOOONGGG!!!”

“Eh, Nang. Ada apa nih, kok teriak-teriak? Dari mana brow? Kok cuma pake celana ponggol doang? Abis lari pagi ya?”.

“Iya, dari mana Nang? mukamu juga keliatan bahagia banget. Pasti kau ketemu cewek cakep waktu lari pagi tadi, trus diajakin kenalan, tukeran nomor sepatu, dan nanti malam kau dan cewek itu akan janjian kencan”.

“Aseek, baru juga sehari di sini, eh udah dapat cewek aja dia brow. Tapi memang pantas lah, waktu kuliah dulu kan dia disebut VLAYVOY VENEVAR VESONA. Jadi wajar kalau biarpun masih sehari di sini, dia udah berhasil menggaet cewek-cewek sini. Duh, aku dan Bulwan jadi iri nih, Nang”.

“Eh, Kamvrhed, yang lari pagi tu siapa? Yang mukanya bahagia juga siapa? Aku nih lagi marah, marrraaaah, marrraaaaaahh!!! Seingatku tadi malam aku tidur di kamar di atas, trus tiba-tiba pas aku bangun, aku udah ada di gubuk, gak pake baju, dan di sampingku ada bapak-bapak udah tua, mukanya mesum, dan pake sarung”.

“Hahahaha, Trus? Kenapa kau marah?”. Tanya Bulwan

“Kalian kan yang udah mindahin aku ke sana, ya kan? Kalian bercandanya jelek, ya jelaslah aku marah. Kenapa kalian memindahkan aku tepat di samping bapak tua bermuka mesum itu? Aku gak tau apa yang udah bapak tua mesum itu lakukan padaku, tapi ketika aku terbangun, aku tak lagi memakai baju dan hanya celana ponggol inilah yang melekat di tubuhku. Kenapa kalian tidak memindahkan aku supaya aku bisa tertidur di samping cewek cakep? Kenapa? Kenapa harus bapak tua bermuka mesum itu? Aku rela kok kalau kalian jahilin aku dan memindahkan aku di samping cewek cakep, aku rela kalau pada akhirnya cewek cakep itu khilaf, dan kalau memang dia tidak juga khilaf, aku yang akan berusaha untuk khilaf. Tapi kenapa kalian kejam sekali meletakkanku di samping Bapak tua bermuka mesum itu? Aku bahkan lebih rela kalau kalian bisa memindahkan aku supaya bisa tidur di antara dua cewek ca..”.


BLETAK!!

Belum sempat Taunang menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kepalanya dipukul oleh Nindrong dari belakang


“Eh, Kuvret. Kalau itu kami juga mau. Kami akui, memang kami yang memindahkan kau ke sana, tapi bapak tua itu adalah orang yang kami kenal baik, dan dia tidak mesum. Kau lah yang sebenarnya mesum, bukan, tapi kita bertigalah yang mesum. Eh? Aduh, kenapa ngomongku jadi ngelantur ya?”.

“Udah, udah Ndrong, gak usah dilanjutin lagi pembahasan ini, makin aneh aja kutengok arah pembicaraannya. Biar kuperjelas, bapak tua itu adalah pemilik empang, dia itu cari duit dari hasil empangnya, dia juga hidup dan tinggal di gubuk di samping empangnya itu. Bapak pemilik empang itu udah kami anggap seperti orang lain. Maksudnya seperti orang lain yang udah kami anggap seperti keluarga orang lain. Maksudnya seperti keluarga orang lain yang udah kami anggap seperti bukan keluarga sendiri”.

“Eh, Nindrong, Bulwan. Kebetulan aku masih emosi nih, ada golok gak? Lagi pengen ngebacok orang nih. Dari tadi gak ada yang jelas omongan kalian berdua, bikin makin emosi Aliando aja”.

“Aliandooo? Aliando dari Hongkong? Udah-udah, cukup bercandanya, sekarang kita harus siap-siap. Taunang, sekarang kau mandi, trus sarapan, abis itu siap-siap pergi belanja ke pasar buat nemenin salah satu pekerja perempuan di kafe ini untuk berbelanja. Nah, kalo Nindrong, sebagai koki di kafe ini, kau harus menyiapkan sarapan buat kita bertiga. Aku mau liat stok barang, trus buat list apa-apa aja yang akan dibeli nanti, sekalian buat laporan pernjualan kemarin buat dikasih ke Wak Geng”.

“Oke, siap Pak Asisten”. Jawab Taunang dan Nindrong.

_____


“Nang, ini namanya Ayu, dia yang akan ngawanin kau ke pasar. Dia juga pramusaji di kafe ini, tapi tugas tambahannya adalah membeli bahan-bahan baku di pasar”.

“Saya Ayu, salam kenal”.

“Saya Taunang, salam kenal juga kak”.

“Oh iya Nang, aku udah kasih list barang yang mau dibeli plus uangnya sama si Ayu. Nah!, kalau tugasmu Nang, kau harus ngangkatin belanjaan yang udah dibeli nanti, kan kasian kalau cewek yang harus angkat dan bawa-bawa barang-barang belanjaannya. Selain itu kau juga harus jagain dia, jangan sampai digangguin sama para preman-preman di pasar. Ingat!, jangan sampai dia disentuh sedikitpun oleh berandalan-berandalan itu. Mengerti?”

“Iya..iya. Siap Pak Asisten, tenang aja, kakak cantik ini akan kujaga baik-baik kok, aman tuh”.

“Yaudah, udah hampir siang nih, cepetan gih berangkatnya. Ingat Nang, jaga Ayu ya, dan kau juga jangan gangguin dia, aku serius”.

“Iya loh Bulwan, tenang aja lah kau. Yaudah berangkat dulu kami ya”.

“Oke, hati-hati kau ya Nang, Ayu juga, hati-hati ya. Nanti kalau si Taunang ganggu-ganggu Ayu, kasih tau abang, biar abang tumbokkan dia”.

“I..iya Bang, Ayu akan hati-hati kok. Yaudah Ayu berangkat dulu ya bang, permisi”.


Ayu dan Taunang pun kemudian pergi ke pasar dengan menaiki becak. Sementara itu Bulwan terus memandang ke arah becak yang ditumpangi Taunang dan Ayu hingga becak tersebut menghilang di kejauhan. Dada Bulwan berdesir, ada sesuatu yang membuatnya gusar melihat kebersamaan Ayu dan Taunang.


“Mikirin apa sih bang Bul? Kok melamun? Awas kesambet setan loh”.

“Eh, Putri. Gak ah, gak ada apa-apa. Abang cuma lagi menikmati udara aja tadi. Oh iya, yok masuk yok, di luar panas loh. Oh iya, nanti mejanya dilap sampai bersih ya dek, trus letak kursi dan mejanya dirapiin lagi. Abang mau buat laporan penjualan yang kemarin nih buat dilaporin ke Wak Geng. Abang ke ruangan abang dulu ya”.

“I..iya Bang Bul, Putri akan bersihin mejanya sampai sekinclong-kinclongnya. Semangat ya bang ngerjain laporannya”.

“Semangat? Oh iya, haha..semangat, pasti abang semangat. Putri juga semangat ya dek kerjanya”.

“I..iya. Semangat!!” Jawab Putri dengan wajah memerah

_____


“Ke mana..ke mana..ke maaanaaa. Ku harus mencari ke manaaa...Kekasih tercinta..assekk asseekk jos!! Tak tau..”.

“Woi, Woooi, wooooiii!!! Lin, bagusan diam deh. Sakit kupingku dengarnya”.

“Apa sih Ndrong? Kau ga suka ya sama lagu itu? Yaudah, Oke..oke.Kalo gitu aku nyanyi lagu lain aja. Iwak peyeeek..iwak peyeeekk..iwak peyek nasi jagoong..Asseekk asseekkk Jos!! Sampek tuweeeeekk! Sampek..”.

“MAULIIIN!!! WOOI MAULIIIN!! DIAAAMM!!! BERISIIKKK TAU!! BUKAN LAGUNYA YANG GAK ENAK, TAPI SUARAMUUU. Kenapa kita bekerja berdekatan? Kenapa setiap hari aku harus mendengar kau bernyanyi? dan kenapa juga setiap hari kau harus bernyanyi? Kau tuh udah tau kalau suaramu jelek, tapi kenapa kau tetap juga bernyanyi?”.

“Nindrong, bernyanyi itu adalah hasrat jiwaku. Kalau aku tidak bernyanyi, aku bisa meriang seharian. Lagian suaraku gak jelek-jelek amat, cuma mungkin hanya orang-orang yang memiliki selera musik yang tinggi yang bisa menikmatinya. Oh, aku tau, kau pasti tidak bisa menikmatinya karena aku bernyanyi tanpa goyangan kan? Bilang aja kau pengen liat aku bergoyang, kan? kan? Hahaha, Oke, aku akan turutin permintaanmu wahai fans sejatiku. Nih lihat nih goyangan idolamu. Bang Thoyib..bang Thoyib....kenapa tak pulang pulaaaang...Yiihaaa...Anakmuu..anakmu...assek..asseekk..jos! panggil..panggil namamu”.

“Tidaaaaaaaaakkkkk!!! Siapa saja, tolong selamatkan akuuuuu....”


“Ada apa nih Ndrong, Lin, kok ribut-ribut? Suara kalian sampai kedengaran ke depan loh”. Tanya Bulwan yang datang menghampiri Nindrong dan Molin di dapur.

“Ini nih Bul, si Nindrong ngefans sama suara dan goyanganku. Ya sebagai idola yang baik, aku tuh pengen selalu menyenangkan fans aku, aku sadar kalau tanpa fans, aku ih bukan siapa-siapa, yaudah deh, untuk memenuhi keinginan dari fansku tadi, aku langsung nyanyi dan bergoyang. Makanya Nindrong teriak-teriak kegirangan”.

“Oh gitu, pantesan mukanya bahagia banget. Ternyata kau ngidolain Molin ya Ndrong? Wah, gak nyangka, ternyata Molin juga punya fans di kafe ini”.

“Fans gundulmu!!, suaranya Molin tu jelek, apanya yang mau kuidolain coba? Tiap hari dia selalu bernyanyi, dan setiap hari juga rasanya kupingku ini mau pecah. Ini juga bukan muka bahagia, somplaq. Ini ekspresi penderitaan. Lagian kenapa sih kau menempatkanku sama si Molin di dapur? Kau mau membunuhku ya Bul?”

“Hahahaha, maaf..maaf..Soalnya ekspresi mukakmu pas bahagia dan mukakmu pas menderita sama aja, jadi aku gak bisa bedain Ndrong. Bwahahaha. Sabar aja lah Ndrong, ya siapa tau dengan pertengkaran-pertengkaran kecil seperti ini kalian bisa lebih mengenal karakter satu sama lain, dan tiba-tiba nyaman, trus nikah. Kan siapa jodoh kita kan gak ada yang tau. Hahahahaha. Udah..udah, udahan dulu becandanya, sekarang kalian lanjutin lagi kerjaan kalian ya, aku juga mau ke ruanganku”.


Mendengar ucapan Bulwan, Nindrong terlihat semakin kesal, namun Nindrong tak berniat membalas kata-kata Bulwan karena Bulwan sudah memerintahkan ia dan Molin untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Biarpun Bulwan terlihat sama seperti pekerja lainnya, namun ia adalah orang yang diberi tanggung jawab secara langsung oleh Wak Geng untuk mengelola kafe ini, dan semua pekerja di kafe menghormatinya layaknya mereka menghormati Wak Geng. Di tempat lain mungkin orang akan menyebut Bulwan sebagai manajer kafe, tapi atas permintaan Bulwan sendiri, ia lebih senang dipanggil sebagai asisten Wak Geng saja.

Bulwan kemudian beranjak pergi meninggalkan Nindrong dan Molin menuju ke ruangannya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba Molin bertanya...


“Bul, apa Taunang sudah bisa mengingat semuanya?”

Mendengar pertanyaan Molin, sontak Bulwanpun berbalik dan berjalan menuju ke arah Molin, dan dengan raut wajah penuh kemarahan ia menjawab pertanyaan Molin dengan suara yang cukup keras...


“Aku ingatkan sekali lagi Lin, jangan pernah kau bahas masalah itu di sini. Kau bisa bertanya tentang masalah itu kapanpun dan di manapun kau mau, tapi tidak di sini, di kafe ini”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar