Wak
Geng and The Geng
Bulwan,
Asisten Wak Geng
Tok..tok..tok..
“Permisi!”
Tok..tok..tok..tok..
“Permisi!!!”
“CEKLEK”
Terdengar suara pintu
yang terbuka. Lalu seiring dengan terbukanya pintu, tampaklah sesosok pemuda
yang bertelanjang dada dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya
“Ya, ada apa ya? Maaf
agak lama buka pintunya, tadi saya sedang... ”
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”
“Ada apa? Kenapa?”
“Han..han,,duk..itu,
han..handuk kamu melorot”.
“Wah, hahaha iya
melorot. Loh, kenapa? Kan saya pakai celana ponggol, bahkan dengkul saya juga
gak keliatan, kenapa harus teriak-teriak?”.
“E..eh..I..iya juga ya.
Haha..hahahaha..Maaf, saya fikir kamu tadi, anu..hehe. maaf-maaf. Anu, nama saya
Dwi, saya salah satu karyawati yang bekerja di sini. Tadi Wak Geng menyuruh
saya untuk membawakan makanan dan teh hangat ini ke sini, salam kenal dan maaf
atas kejadian tadi”.
“Oh..I..iya. Saya juga
minta maaf karena sudah mengejutkan Mbak. Saya fikir yang mengetuk pintu tadi
adalah Nindrong atau Bulwan, ternyata Mbak. Maaf juga ya, saya tadi belum
sempat pakai baju. Oh iya, Saya Taunang, salam kenal. Mulai besok saya juga
akan bekerja di sini sebagai pramusaji. Mohon kerjasamanya ya Mbak. Hehe. Oh ya
Mbak, terima kasih ya sudah membawakan saya makanan dan teh ini, sekali lagi
saya mohon maaf dan terima kasih banyak, Mbak Dwi”.
Dipanggil dengan
sebutan Mbak oleh pemuda yang baru saja dikenalnya, Entah mengapa wajah Dwi
langsung memerah. Detak jantungnya berdegup kencang, tak beraturan. Ia tak tahu
mengapa ia bisa segugup ini, dan ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak biasa
pada pemuda itu, sesuatu yang membuat Dwi senang melihatnya. Wajahnya, sikapnya
yang sopan, senyumnya, tatapannya. Tetapi, Dwi merasa perasaannya telah
membawanya terlalu jauh, ia berusaha untuk mengatur ritme nafasnya agar tetap
tenang, Ya, ia tidak ingin terlihat salah tingkah di depan pemuda itu. Dwi
yakin kalau satu-satunya cara agar ia dapat terlepas dari kegugupan ini adalah
dengan menjauh, dan sepersekian detik kemudian ia mendapatkan ide agar ia dapat
melepaskan diri dari tatapan Taunang.
“Eh, anu..saya masih
banyak pekerjaan nih, sa..saya ke bawah dulu ya, emm..permisi”
Dengan setengah
berlari, Dwi pergi meninggalkan Taunang yang masih berdiri di depan pintu
kamarnya sembari menatap Dwi dengan penuh keheranan.
_____
“Woi Vangke! Bangun!
Itu tempat tidurku, pindah-pindah”.
“Apa sih Bul? Biar aja
lah dia tidur di tempat tidurmu. Kasian loh, pasti dia kelelahan. Biar ajalah
malam ini dia tidur di tempat tidurmu, Kasih dia kesempatan untuk istirahat”.
“Enak aja, Bukan gitu
Ndrong, ini tempat tidurku, salah satu tempat paling pribadi yang kumiliki dan
udah kuanggap seperti istriku sendiri, jadi aku gak akan rela istriku ditiduri
lelaki lain. Badanku juga capek, aku juga perlu istirahat. Kalo dia memang mau
istirahat, jangan di tempat tidurku. Woi, Nang! Sana-sana, pindah kau!!”.
Mendengar teriakan
Bulwan, Taunang pun terbangun dari tidurnya, dalam keadaan setengah sadar dan
dengan mata masih setengah terbuka ia pun bangkit dari tempat tidur Bulwan
menuju ke tempat tidur yang lainnya.
“Woi Vangke! Bangun!
Itu tempat tidurku, pindah-pindah”.
“Apa sih Ndrong? Biar
aja lah dia tidur di tempat tidurmu. Kasian loh dia, pasti dia kelelahan. Biar
ajalah malam ini dia tidur di tempat tidurmu, Kasih dia kesempatan untuk
istirahat. Toh tadi kau juga ngomong kayak gitu kan samaku”.
“Berisik! Badanku juga
capek, aku juga perlu istirahat. Kalo dia memang mau istirahat, jangan di
tempat tidurku juga dong”.
“Ya trus, dia tidur di
mana Ndrong?”.
“Aku juga gak tau, aku
pun gak tega liat si kuvret ini tidur di lantai, tapi aku juga gak suka ada
orang lain yang tidur di tempat tidurku. Gini aja, aku ada ide...”
_____
“Huaaahmm...nyam..nyam..nyam..Udah
pagi rupanya. Nyenyak juga aku tidur tadi malam. Tapi, syukurlah, badanku
kembali terasa segar. Yosh! Aku harus mandi dan siap-siap untuk kerja. Ini
adalah hari pertamaku bekerja, jadi aku harus menunjukkan ke Wak Geng kalau dia
ga salah udah merekrutku karena aku adalah orang yang disiplin, pekerja keras,
rajin menabung, patuh dan taat terhadap nasehat guru dan orang tua, peraturan
dan tata tertib sekolah. Oh iya, udah jam berapa ini ya?”.
“Jam setengah enam pagi
Mas”.
“Oh, iya. Makasih ya
mas. Maaf ngerepotin, soalnya jam tangan saya kemarin ketinggalan di kampung. Ah
sial, udah hape saya rusak, jam tangan juga gak ada. Kalau kayak gini bisa-bisa
saya selalu terlam... WHAAAAAAAAA!!! SES..SES..SIAPA KAU? KENAPA KAU TIDUR DI
SAMPINGKU? BUKAN, KENAPA AKU BISA TIDUR DI SINI? DI MANA INI? DAN WHAAAAAAAA!!!
KENAPA AKU CUMA PAKAI CELANA PONGGOL DAN GAK PAKAI BAJU? APA YANG SUDAH KAU
LAKUKAN PADAKU, BAPAK TUA?”.
“Tenang, tenang..saya
bisa jelasin semuanya Mas. Ini tidak seperti yang Mas bayangkan, ini Cuma salah
faham, Mas”.
“DIAAAM!!! DASAR KAU
BAPAK TUA SIALAN!!”.
DUAK!!!
Dengan sekuat tenaga,
Taunang memukul si Bapak Tua tepat di bagian wajahnya sehingga si Bapak Tua
terpental dari gubuknya dan tercebur ke dalam empang. Bukannya meminta maaf,
Taunang yang masih dalam bingung dan juga emosi malah pergi meninggalkan si Bapak
Tua begitu saja.
_____
“Brow, Brow, liat tuh,
liat tuh!”.
“Apa? Ada apa?”.
“Itu tuh di depan sana,
liat tuh si kentut bauk itu lagi jalan ke sini. Aku berani bertaruh kalau dia
pasti sangat marah sama kita berdua. Nanti kalau dia nyampek sini, kita
pura-pura gak tau aja ya”.
“Hihihi, Oke-oke. Tapi
ini semua idemu loh Ndrong. Aku cuma ikut-ikutan aja ya”.
“Enak aja, aku kan tadi
malam nyaranin supaya mindahin dia ke teras kafe doang, sedangkan yang punya
ide untuk mindahin dia ke gubuknya pemilik empang kan kau Buls”.
“Iya deh, resiko kita
tanggung bersama. Eh, eh, dia udah mau nyampek tuh, cepat, cepat, atur
ekspresimu, biar dia gak curiga”.
“Oke”.
Semenit kemudian
Taunangpun sampai di depan kafe Wak Geng, Dengan wajah yang merah padam
karena menahan emosi dan rasa malu ia
bergegas masuk ke dalam kafe. Ia tahu kalau Bulwan dan Nindrong adalah dalang
dari peristiwa yang barusan di alaminya.
Ceklek...
“BULWAAAAANNN!! NINDROOOONGGG!!!”
“Eh, Nang. Ada apa nih,
kok teriak-teriak? Dari mana brow? Kok cuma pake celana ponggol doang? Abis lari
pagi ya?”.
“Iya, dari mana Nang?
mukamu juga keliatan bahagia banget. Pasti kau ketemu cewek cakep waktu lari
pagi tadi, trus diajakin kenalan, tukeran nomor sepatu, dan nanti malam kau dan
cewek itu akan janjian kencan”.
“Aseek, baru juga
sehari di sini, eh udah dapat cewek aja dia brow. Tapi memang pantas lah, waktu
kuliah dulu kan dia disebut VLAYVOY VENEVAR VESONA. Jadi wajar kalau biarpun
masih sehari di sini, dia udah berhasil menggaet cewek-cewek sini. Duh, aku dan
Bulwan jadi iri nih, Nang”.
“Eh, Kamvrhed, yang
lari pagi tu siapa? Yang mukanya bahagia juga siapa? Aku nih lagi marah,
marrraaaah, marrraaaaaahh!!! Seingatku tadi malam aku tidur di kamar di atas,
trus tiba-tiba pas aku bangun, aku udah ada di gubuk, gak pake baju, dan di
sampingku ada bapak-bapak udah tua, mukanya mesum, dan pake sarung”.
“Hahahaha, Trus? Kenapa
kau marah?”. Tanya Bulwan
“Kalian kan yang udah
mindahin aku ke sana, ya kan? Kalian bercandanya jelek, ya jelaslah aku marah.
Kenapa kalian memindahkan aku tepat di samping bapak tua bermuka mesum itu? Aku
gak tau apa yang udah bapak tua mesum itu lakukan padaku, tapi ketika aku
terbangun, aku tak lagi memakai baju dan hanya celana ponggol inilah yang
melekat di tubuhku. Kenapa kalian tidak memindahkan aku supaya aku bisa
tertidur di samping cewek cakep? Kenapa? Kenapa harus bapak tua bermuka mesum
itu? Aku rela kok kalau kalian jahilin aku dan memindahkan aku di samping cewek
cakep, aku rela kalau pada akhirnya cewek cakep itu khilaf, dan kalau memang
dia tidak juga khilaf, aku yang akan berusaha untuk khilaf. Tapi kenapa kalian
kejam sekali meletakkanku di samping Bapak tua bermuka mesum itu? Aku bahkan
lebih rela kalau kalian bisa memindahkan aku supaya bisa tidur di antara dua
cewek ca..”.
BLETAK!!
Belum sempat Taunang
menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba kepalanya dipukul oleh Nindrong dari
belakang
“Eh, Kuvret. Kalau itu
kami juga mau. Kami akui, memang kami yang memindahkan kau ke sana, tapi bapak
tua itu adalah orang yang kami kenal baik, dan dia tidak mesum. Kau lah yang
sebenarnya mesum, bukan, tapi kita bertigalah yang mesum. Eh? Aduh, kenapa
ngomongku jadi ngelantur ya?”.
“Udah, udah Ndrong, gak
usah dilanjutin lagi pembahasan ini, makin aneh aja kutengok arah
pembicaraannya. Biar kuperjelas, bapak tua itu adalah pemilik empang, dia itu
cari duit dari hasil empangnya, dia juga hidup dan tinggal di gubuk di samping
empangnya itu. Bapak pemilik empang itu udah kami anggap seperti orang lain.
Maksudnya seperti orang lain yang udah kami anggap seperti keluarga orang lain.
Maksudnya seperti keluarga orang lain yang udah kami anggap seperti bukan
keluarga sendiri”.
“Eh, Nindrong, Bulwan.
Kebetulan aku masih emosi nih, ada golok gak? Lagi pengen ngebacok orang nih.
Dari tadi gak ada yang jelas omongan kalian berdua, bikin makin emosi Aliando
aja”.
“Aliandooo? Aliando
dari Hongkong? Udah-udah, cukup bercandanya, sekarang kita harus siap-siap.
Taunang, sekarang kau mandi, trus sarapan, abis itu siap-siap pergi belanja ke
pasar buat nemenin salah satu pekerja perempuan di kafe ini untuk berbelanja.
Nah, kalo Nindrong, sebagai koki di kafe ini, kau harus menyiapkan sarapan buat
kita bertiga. Aku mau liat stok barang, trus buat list apa-apa aja yang akan
dibeli nanti, sekalian buat laporan pernjualan kemarin buat dikasih ke Wak
Geng”.
“Oke, siap Pak
Asisten”. Jawab Taunang dan Nindrong.
_____
“Nang, ini namanya Ayu,
dia yang akan ngawanin kau ke pasar. Dia juga pramusaji di kafe ini, tapi tugas
tambahannya adalah membeli bahan-bahan baku di pasar”.
“Saya Ayu, salam
kenal”.
“Saya Taunang, salam
kenal juga kak”.
“Oh iya Nang, aku udah
kasih list barang yang mau dibeli plus uangnya sama si Ayu. Nah!, kalau tugasmu
Nang, kau harus ngangkatin belanjaan yang udah dibeli nanti, kan kasian kalau
cewek yang harus angkat dan bawa-bawa barang-barang belanjaannya. Selain itu
kau juga harus jagain dia, jangan sampai digangguin sama para preman-preman di
pasar. Ingat!, jangan sampai dia disentuh sedikitpun oleh berandalan-berandalan
itu. Mengerti?”
“Iya..iya. Siap Pak Asisten,
tenang aja, kakak cantik ini akan kujaga baik-baik kok, aman tuh”.
“Yaudah, udah hampir
siang nih, cepetan gih berangkatnya. Ingat Nang, jaga Ayu ya, dan kau juga
jangan gangguin dia, aku serius”.
“Iya loh Bulwan, tenang
aja lah kau. Yaudah berangkat dulu kami ya”.
“Oke, hati-hati kau ya
Nang, Ayu juga, hati-hati ya. Nanti kalau si Taunang ganggu-ganggu Ayu, kasih
tau abang, biar abang tumbokkan dia”.
“I..iya Bang, Ayu akan
hati-hati kok. Yaudah Ayu berangkat dulu ya bang, permisi”.
Ayu dan Taunang pun
kemudian pergi ke pasar dengan menaiki becak. Sementara itu Bulwan terus
memandang ke arah becak yang ditumpangi Taunang dan Ayu hingga becak tersebut
menghilang di kejauhan. Dada Bulwan berdesir, ada sesuatu yang membuatnya gusar
melihat kebersamaan Ayu dan Taunang.
“Mikirin apa sih bang
Bul? Kok melamun? Awas kesambet setan loh”.
“Eh, Putri. Gak ah, gak
ada apa-apa. Abang cuma lagi menikmati udara aja tadi. Oh iya, yok masuk yok,
di luar panas loh. Oh iya, nanti mejanya dilap sampai bersih ya dek, trus letak
kursi dan mejanya dirapiin lagi. Abang mau buat laporan penjualan yang kemarin
nih buat dilaporin ke Wak Geng. Abang ke ruangan abang dulu ya”.
“I..iya Bang Bul, Putri
akan bersihin mejanya sampai sekinclong-kinclongnya. Semangat ya bang ngerjain laporannya”.
“Semangat? Oh iya,
haha..semangat, pasti abang semangat. Putri juga semangat ya dek kerjanya”.
“I..iya. Semangat!!”
Jawab Putri dengan wajah memerah
_____
“Ke mana..ke mana..ke
maaanaaa. Ku harus mencari ke manaaa...Kekasih tercinta..assekk asseekk jos!!
Tak tau..”.
“Woi, Woooi,
wooooiii!!! Lin, bagusan diam deh. Sakit kupingku dengarnya”.
“Apa sih Ndrong? Kau ga
suka ya sama lagu itu? Yaudah, Oke..oke.Kalo gitu aku nyanyi lagu lain aja.
Iwak peyeeek..iwak peyeeekk..iwak peyek nasi jagoong..Asseekk asseekkk Jos!!
Sampek tuweeeeekk! Sampek..”.
“MAULIIIN!!! WOOI
MAULIIIN!! DIAAAMM!!! BERISIIKKK TAU!! BUKAN LAGUNYA YANG GAK ENAK, TAPI
SUARAMUUU. Kenapa kita bekerja berdekatan? Kenapa setiap hari aku harus
mendengar kau bernyanyi? dan kenapa juga setiap hari kau harus bernyanyi? Kau
tuh udah tau kalau suaramu jelek, tapi kenapa kau tetap juga bernyanyi?”.
“Nindrong, bernyanyi
itu adalah hasrat jiwaku. Kalau aku tidak bernyanyi, aku bisa meriang seharian.
Lagian suaraku gak jelek-jelek amat, cuma mungkin hanya orang-orang yang
memiliki selera musik yang tinggi yang bisa menikmatinya. Oh, aku tau, kau pasti tidak bisa menikmatinya
karena aku bernyanyi tanpa goyangan kan? Bilang aja kau pengen liat aku
bergoyang, kan? kan? Hahaha, Oke, aku akan turutin permintaanmu wahai fans
sejatiku. Nih lihat nih goyangan idolamu. Bang Thoyib..bang Thoyib....kenapa tak
pulang pulaaaang...Yiihaaa...Anakmuu..anakmu...assek..asseekk..jos!
panggil..panggil namamu”.
“Tidaaaaaaaaakkkkk!!!
Siapa saja, tolong selamatkan akuuuuu....”
“Ada apa nih Ndrong, Lin, kok ribut-ribut? Suara
kalian sampai kedengaran ke depan loh”. Tanya Bulwan yang datang menghampiri
Nindrong dan Molin di dapur.
“Ini nih Bul, si
Nindrong ngefans sama suara dan goyanganku. Ya sebagai idola yang baik, aku tuh
pengen selalu menyenangkan fans aku, aku sadar kalau tanpa fans, aku ih bukan
siapa-siapa, yaudah deh, untuk memenuhi keinginan dari fansku tadi, aku langsung
nyanyi dan bergoyang. Makanya Nindrong teriak-teriak kegirangan”.
“Oh gitu, pantesan
mukanya bahagia banget. Ternyata kau ngidolain Molin ya Ndrong? Wah, gak nyangka,
ternyata Molin juga punya fans di kafe ini”.
“Fans gundulmu!!,
suaranya Molin tu jelek, apanya yang mau kuidolain coba? Tiap hari dia selalu bernyanyi,
dan setiap hari juga rasanya kupingku ini mau pecah. Ini juga bukan muka
bahagia, somplaq. Ini ekspresi penderitaan. Lagian kenapa sih kau menempatkanku
sama si Molin di dapur? Kau mau membunuhku ya Bul?”
“Hahahaha, maaf..maaf..Soalnya
ekspresi mukakmu pas bahagia dan mukakmu pas menderita sama aja, jadi aku gak
bisa bedain Ndrong. Bwahahaha. Sabar aja lah Ndrong, ya siapa tau dengan
pertengkaran-pertengkaran kecil seperti ini kalian bisa lebih mengenal karakter
satu sama lain, dan tiba-tiba nyaman, trus nikah. Kan siapa jodoh kita kan gak
ada yang tau. Hahahahaha. Udah..udah, udahan dulu becandanya, sekarang kalian lanjutin
lagi kerjaan kalian ya, aku juga mau ke ruanganku”.
Mendengar ucapan
Bulwan, Nindrong terlihat semakin kesal, namun Nindrong tak berniat membalas
kata-kata Bulwan karena Bulwan sudah memerintahkan ia dan Molin untuk
melanjutkan pekerjaan mereka. Biarpun Bulwan terlihat sama seperti pekerja lainnya, namun ia adalah orang yang diberi tanggung jawab secara langsung oleh Wak Geng untuk mengelola kafe ini, dan semua pekerja di kafe menghormatinya layaknya mereka menghormati Wak Geng. Di tempat lain mungkin orang akan menyebut Bulwan sebagai manajer kafe, tapi atas permintaan Bulwan sendiri, ia lebih senang dipanggil sebagai asisten Wak Geng saja.
Bulwan kemudian beranjak pergi meninggalkan
Nindrong dan Molin menuju ke ruangannya, namun baru beberapa langkah ia
berjalan, tiba-tiba Molin bertanya...
“Bul, apa Taunang sudah
bisa mengingat semuanya?”
Mendengar pertanyaan
Molin, sontak Bulwanpun berbalik dan berjalan menuju ke arah Molin, dan dengan
raut wajah penuh kemarahan ia menjawab pertanyaan Molin dengan suara yang cukup
keras...
“Aku ingatkan sekali
lagi Lin, jangan pernah kau bahas masalah itu di sini. Kau bisa bertanya
tentang masalah itu kapanpun dan di manapun kau mau, tapi tidak di sini, di
kafe ini”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar