Wak
Geng and The Geng
Selamat
Datang
“Maaf, ganggu sebentar,
saya mau numpang tanya ni Bu. Kafe Wak Geng itu di mana ya? Saya sudah seharian
mutar-mutar keliling kota, tapi kok gak ketemu-ketemu juga ya tempatnya. Bu.
Apa Ibu tau di mana Kafe Wak Geng itu, Bu?”
“Kafe Wak Geng? Duh!
Gak tau pulak Ibuk, Dek. Cak ko tanyakkan sama tukang becak di depan situ,
mungkin taunya dia itu”.
“oh iya, baik Bu.
Terima kasih banyak ya, Bu!”
“Sama-sama Dek”
Kuikuti saran dari Ibu
tadi, dan segera aku berjalan menuju ke tempat abang tukang becak yang sedang
duduk santai di atas becaknya sembari menghisap sebatang rokok
“Permisi, Bang. Maaf
nih klo mengganggu. Mau numpang tanya
ni, Abang tau alamatnya Kafe Wak Geng, Bang?”
“Kafe Wak Geng?
Apapulak itu? Kurang tau pulak aku dek. Mo ngapain ko ke sana dek?”
“Mau kerja bang,
kemarin kan ada kawan saya yang nelepon dan nawarin saya pekerjaan di kafe itu.
Berhubung saya masih pengangguran, jadi saya terima aja. Gitu Bang”
“Bah, cemananya kau ini
dek? Ko terima pekerjaannya, tapi gak ko tanyak di mana alamat kafenya, ada
bodok-bodoknya memang ko ni lah dek”
“Bukan gitu Bang, kawan
saya kemarin udah ngasih alamat, tapi saya lupa mencatatnya, yang saya cuma
ingat, kafenya itu di Jl. Bawa Perasaan Timur No. 777, Tapi saya lupa nama kotanya”.
“Oh, di sana. Tau aku
itu, dulu sering maen di sana aku waktu masih lajang, sekarang aja udah gak
pernah lagi. Berarti Kafe Wak Geng itu baru buka lima atau empat tahun ini dek,
soalnya waktu aku lajang, gak ada kafe di situ”
“Wah, Abang tau Bang? Tolong
antarkan saya ke sana sekarang Bang, ya ya ya”
“Tapi jauh kali itu
dek, agak mahal lah ya kubikin ongkosnya, mau kau?”
“Gak masalah Bang, yang
penting saya bisa sampai ke sana secepat mungkin. Kalau masalah ongkos, Abang
ga usah khawatir, selagi masih di bawah Rp. 5.000. saya sanggup kok Bang”.
“Janganlah segitu dek,
naek lah lagi ya. Rp. 85.000. lah ya, biar berangkat kita ni”.
“Buset, mahal amat
Bang? Rp. 4.500 lah ya. Cuma bersisa Lima Ribu perak uang saya Bang, tolong lah
Bang”
“Gak mahal itu dek, standarnya
memang segitu dek, yaudah 80ribu aja lah, Abang korting goceng, biar cepat
berangkat kita, Ya dek ya”
“BANGKE!!, MAHAL
BANGET. JAHAT BANGET ABANG YA, APA MENTANG-MENTANG SAYA BUKAN ORANG SINI? APA
MENTANG-MENTANG SAYA LAGI KESASAR LANTAS ABANG DENGAN SEENAKNYA MEMBUAT HARGA
SENDIRI? SAYA INI ORANG MISKIN BANG, SAYA KE SINI UNTUK MENCARI PEKERJAAN, JADI
RASANYA TIDAK ETIS KALAU ABANG MEMERAS WONG CILIK SEPERTI SAYA”
“KAULAH YANG BANGKE, MALAH
KAU ITU BANGKE YANG SEBANGKE-BANGKENYA BANGKE, INI BUKAN MASALAH ETIS ATAU
TIDAK, TAPI MEMANG BIASANYA HARGANYA SEGITU, BODOK! ALAMAT YANG KAU CARI ITU
ADANYA DI MEDAN, KAU SEKARANG ADA DI SIANTAR, JAUH KALI KAU KESASARNYA. SEHARUSNYA
AKU YANG MARAH, KENAPA KAU PULAK YANG MARAH DULUAN? UDAH CEPAT PIGI KAU DARI
SINI, SEBELUM KUPIJAK BATANG LEHER KAU, MENDIDIH DARAHKU KAU BUAT, GERAM AKU
BAH. PIGI KAU, PIGI SEBELUM KUCAMPAKKAN BECAK INI KE MUKAK KAU”.
“Ehehe, jadi saya kesasar ya Bang? Anu, kalo gitu
saya minta maaf ya, sekalian kalo ada saya mau minta rokok abang sebat...”
“PIGI KAUUUUUU!!!!”
“PIGI KAUUUUUU!!!!”
_____
“Mananya kawan kelen
itu, Bul, Ndrong? kok gak datang-datang dia udah jam segini. Apa mungkin gak
niat kerja di sini dia?”
“Sabar wak Geng,
datangnya dia tu bentar lagi. Memang kek gitu dia tu”
“Memang kek gitu?
Maksudmu Bul?”
“Iya, anak itu memang
sering nyasar Wak. Agak susah dia kalo disuruh ngingat alamat. Dulu aja waktu masih
kuliah, dia itu sering salah kampus, dan kalo pulang dia juga sering nyasar ke
kos-kosan orang lain, malah yang lebih parah, pas waktu wisuda dia kesasar ke
acara wisudanya anak TK”
“Betul tu wak, anak itu
dari dulu memang ngerepotin kami berdua aja. Sejak peristiwa itu, gak
ilang-ilang penyakit kesasarnya itu wak. Sabar aja lah wak, mungkin bentar lagi
dia nyampek, yakin ajalah sama kata-kataku dan Bulwan wak”.
“Oke, kalok memang
kalian ngomong gitu, wak akan coba yakin. Tapi kalo sampek besok pagi dia ga
datang jugak, Berarti anak itu memang gak niat kerja di sini, dan Wak akan isi
posisi yang akan kawan kelen tempati itu dengan orang lain. Yaudah, lanjutkan
beres-beresnya lagi, udah hampir sore nih, bentar lagi kafe kita akan bukak.
Kita harus siap-siap. Jangan lupa ingatkan Dwi, Putri, Molin, dan Ayu untuk mengerjakan
tugas mereka masing-masing ya Bul, karena kau itu asisten uwak di kafe ini,
mengerti?”
“Oke Wak Geng, siap
laksanakan! Hahaha, amaaaan!”.
_____
“Bang, mau ke Medan ya, saya boleh ikut menampung?”
“Menampung? Maksudmu menumpang? Enggak dek, kami mau
ke Tebing Tinggi. Sepertinya adek gak bisa kami kasih tumpangan, soalnya di
depan udah ada saya dan teman saya ini, Masih ada sih tempat kosong di gerobak
belakang, tapi bau loh dek, karena barusan kami mengantar ayam potong dari
Tebing Tinggi ke Siantar. Lagian saya juga takut kalau nanti di tengah jalan
ada razia, kan gak boleh bawa penumpang manusia di mobil bak terbuka seperti
ini”.
“Gak apa-apa itu Bang, Saya bisa tahan baunya kok.
Ntar kalo emang ada razia, saya akan pura-pura jadi ayam, saya akan menirukan
suara ayam. Abang tutupi aja gerobak belakang dengan terpal. Tolong lah Bang,
saya udah gak punya uang lagi untuk ongkos ke Medan, Bang. Saya Mohon!!”
“i..i..ya deh iya. Yaudah naiklah dek, biar
berangkat kita”
“Asek, Terima kasih banyak ya Bang”
_____
“Selamat
Siang Pak, Maaf mengganggu perjalanan Anda sebentar, bisa tolong tunjukkan SIM
dan surat-surat kelengkapan kendaraan Anda?”
“Oh iya Pak, ini, silahkan diperiksa”.
“Oke, Lengkap. Emm..apa yang sedang Bapak bawa ini?
Mengapa ditutupi terpal seperti ini?”
“O..oh i..i..ini Pak, saya sedang membawa ayam Pak”
“Oh begitu, kalau begitu bisa saya lihat isi di
dalam terpal ini Pak?”
“Ja..ja..jangan Pak,
ini Ayamnya sensitif Pak, gak bisa terkena sinar matahari, apalagi sinar
matahari di iklim tropis seperti Indonesia ini Pak. Tolong jangan Pak, kasian
Ayamnya, bisa gosong nanti kulitnya Pak. Ayam ini masih keturunan dari Ayamnya
para bangsawan di zaman Mesir kuno Pak, jadi ini ayam langka Pak, Cuma ada
satu-satunya di Indonesia Pak, Tolong Pak, jangan sakiti ayam ini Pak, sudah
terlalu banyak penderitaan yang dia alami Pak, Dia Ayam yatim piatu Pak,
Ayahnya tewas terpanggang oven, Ibunya tewas setelah disembelih dan dikuliti
oleh tukang ayam, dan saudara-saudaranya, saudara-saudaranya harus tewas bahkan
sebelum mereka menetas ke dunia ini Pak, tolong Pak, jangan sakiti ayam ini
Pak, saya mohon!”.
“Njirr..Coeg sekali
nasib ayam ini, semoga arwah keluarga ayam ini tenang di alam sana, Syedih saya
mendengarnya. Yaudah hati-hati ya Pak supir, pelan-pelan bawa mobilnya, biar
ayamnya juga nyaman di belakang. Sampaikan salam saya pada si ayam malang ini
ya Pak supir”
“Baik Pak, Terima kasih
banyak Pak, selamat bertugas kembali Pak Pol”
_____
“Dek..dek..udah sampai
nih kita di Tebing Tinggi, kami tidak bisa mengantar adek lebih jauh lagi.
Nanti adek cari tumpangan yang lain aja ya. Banyak kok kendaraan lain yang
menuju ke Medan. Ini ada sedikit gorengan untuk adek, lumayanlah buat
mengganjal lapar di perjalanan nanti. Kebetulan tadi saya nemu gorengan ini di
dashboard mobil, tenang aja, masih bisa dimakan kok, saya yakin ini belum
ekspayet, wong baru dibeli seminggu yang lalu kok. Maaf ya gak bisa bantu adek
lebih banyak”
“Waduh, yang harusnya
minta maaf itu ya saya Bang, Abang udah baik sekali memberikan saya tumpangan. Ngasih
saya gorengan sisa minggu kemarin, dan udah ngelindungi saya waktu razia tadi.
Sekali lagi saya mohon maaf udah ngerepotin Abang ya, dan terima kasih banyak
untuk semuanya. Saya pamit dulu ya Bang, saya mau nyari mobil lain yang menuju
ke Medan. Saya buru-buru nih, soalnya saya takut lowongan saya nanti bakalan
diisi orang lain. Terima kasih banyak Bang, sampai jumpa”
“Sampai jumpa dek,
hati-hati ya”.
_____
“Bau apa ini? Bau ini
sepertinya tidak asing di hidungku, aku yakin aku pernah mencium bau ini
sebelumnya, tapi apa? Dan di mana? Entahlah, aku sedang enggan untuk berfikir
terlalu jauh. Lalu apa ini? Pipiku terasa hangat dan basah. Mataku terlalu berat
untuk bisa kubuka, akh, sensasi apa ini? Lagi-lagi benda hangat dan basah itu
menyentuh pipi kananku, telinga kananku, dan juga sebagian rambutku. Aku akan
berusaha membuka mataku lagi, kelopak mataku masih terasa sangat berat untuk
kuangkat. Ahh, biarlah, biarlah kubiarkan kedua mataku kembali terpejam. Mungkin
aku terlalu lelah, aku harus mengizinkan tubuhku untuk beristirahat sejenak,
mungkin tubuh ini terlalu lelah karena sudah kugunakan sejak tadi pagi
berkeliling mencari alamat yang diberikan oleh Bulwan. Berjalan ke sana ke mari
mencari Kafe Wak Geng, tersasar ke kota Siantar, menumpang di mobil bak terbuka
yang baru selesai mengangkut ayam hingga ke Tebing Tinggi. Menumpang lagi di
truk yang berisi Sapi hingga ke kota Medan. Sungguh perjalanan yang melelahkan.
Semua ini demi mendapatkan pekerjaan. Semua ini demi sesuap nasi. Ahh, hidup
ini tak semudah membalikkan telapak tangan ternyata. Tapi tunggu, Menumpang di
truk sapi? Sesuatu yang hangat dan basah? Dan bau yang tidak asing?
Jangan-jangan....”
“HUAAAAAAA!!!!”
Sapi yang terkejut juga
berteriak tak kalah keras..
“MOOOOOOOO!!!”
Sementara itu di luar
truk
“Suara apa itu Pak
Supir? Kok sapi yang Bapak bawa suaranya aneh?”
“Anu, itu suara salah
satu sapi yang saya bawa Pak. Kata dokter dia menderita sindrom
HULKSAPITERIAKTERIAKISME, jadi sapi yang saya bawa itu terkadang merasa bahwa
dia adalah Hulk, sehingga sapi tersebut sering berteriak-teriak apabila dia
merasa tidak nyaman atau marah. Karena Bapak memberhentikan saya, mungkin sapi
itu merasa gerah dan kepanasan di dalam sehingga dia merasa tidak nyaman dan
marah, gitu Pak”
“Oh begitu, kalau
begitu saya pengen liat gimana sih bentuk sapinya itu, saya akan masuk ke
dalam”
“Jangaaaaaan pak,
jangaan..Nanti sapinya ngamuk bahaya Pak, bahaya. Bapak pernah liat pelem Hulk?
Yang dia ngamuk? Yang ngerusak kota? Bapak mau kota kita ancur gara-gara Sapi
Hulk ini? Bapak mau disalahin karena jadi penyebab hancurnya kota? Mau Bapak?
Mau?”
“Asem..Serem banget
Coeg. Ga jadi ah. Udah jalan gih sono Pak. Pelan-pelan ya, jangan sampai bikin
sapinya ga nyaman, dan kalo dia udah nyaman juga jangan ditinggalin gitu aja,
karena saya juga pernah nyaman sama seseorang, tapi tiba-tiba ditinggalin, itu
rasanya sakit Pak, sakiiitt”
“Eh..iya..anu..Sebenarnya
saya masih pengen dengerin curhatan Pak Pol, tapi saya jalan dulu ya Pak,
soalnya perjalanan saya masih jauh. Selamat bertugas Pak”
“Yoo..Hati-hati yaaa,
jangan lupa pasang Set Beltnya dan patuhi rambu-rambu lalu lintas”
Kembali ke dalam
gerobak...
“Fiuuh..Gara-gara
jilatan sapi Amsyong ini, hampir aja ketahuan kalau aku lagi ada di dalam, Syukurlah
Pak Supir berhasil mencegah Pak Pol masuk ke sini, Kalau tidak, Pak supir bisa
ditilang dan aku harus mencari kendaraan lain yang bisa kutumpangi gratis untuk
bisa sampai ke Medan. Nasib baik masih berpihak kepadaku ternyata”.
_____
“Sudah jam 8 malam nih
Bul, kok kawan kelen itu belum datang juga ya? Apa memang dia gak niat kerja di
sini?”.
“Mungkinlah Wak, Tapi
kita coba tunggu aja lah sampai Besok Wak, kalo memang dia gak datang berarti
memang udah jelas gak mau kerja di sini dia Wak”.
“Loh, truk siapa itu
berhenti di depan kafe? Loh..loh..loh, kok di dalam truk ada sapi? Emang Wak
Geng mau Qurban ya? Kan Idul Adha masih jauh Wak, kok cepat amat beliknya Wak?”
.
“Entah, Wak juga gak
tau Bul. Coba kau tanyakkan dulu sama supirnya, ngapain dia parkir di situ.
Kalok memang gak penting-penting kali, kau suruh aja dia maju lagi, biar
parkirnya agak ke depan sikit, jangan di situlah, bauk nantik kafe kita, gak
ada yang mau datang ke sini”.
“Oke Wak, Siap
Laksanakan!”
Bulwan bergegas keluar dari
kafe dan berjalan menghampiri sang supir truk yang sudah turun dari truknya dan
kini berada di belakang truk
“Maaf Bang, ada perlu
apa ya kok Abang memarkirkan truk Abang di sini? Bukan bermaksud kurang ajar ya
Bang, tapi kalau bisa tolong truk Abang majuin dikit Bang, Abang parkir truknya
di depan sana aja. Ini kan kafe Bang, takutnya ntar orang-orang gak mau masuk
ke sini karena terganggu dengan bau truk Abang”
“Oh, iya Mas. Maaf ya,
saya Cuma sebentar aja kok parkir di sini. Saya mau nurunkan penumpang Mas, Katanya dia adalah calon pekerja di kafe ini
Mas, tapi dia nyasar, dan tadi saya dan dia ketemu di Tebing Tinggi. Karena dia
gak punya uang lagi dan saya juga kasian sama dia. Yaudah deh saya naikin aja
dia ke truk saya. Sebentar biar saya panggilkan dia. Dek!, Dek!, kita udah
sampai nih. Ayo buruan turun. Saya juga mau langsung ngantar sapinya nih. Ayo
Dek, cepat!”
Lalu tiba-tiba sesosok
pemuda berlari dan melompat dari dalam truk, lompatannya cukup tinggi hingga
melewati Bulwan dan Pak Supir yang berada tepat di belakang truk.
“Alhamdulillah,
akhirnya nyampek juga. Eh, Bulwan? Ngapain di sini? Katanya udah jadi asisten
di Kafe Wak Geng, kok malah keluyuran gak jelas di luar gini? Nanti dimarahin
bos loh, sana-sana masuk sana, kerja-kerja”
“Berisik! Aku tuh
keluar bukan keluyuran, tapi disuruh Wak Geng karena truk ini parkir di sini, Aku
pikir isi truknya cuma sapi doang, eh ternyata di dalamnya juga ada Raja Kerbo”
“Sembarangan aja kalo
ngomong, aku tuh bukan raja kerbo, tapi putra mahkotanya. Oh iya, Terima kasih
ya Pak Supir, Bapak udah memperbolehkan saya menumpang dan malah mengantarkan
saya sampai ke tempat. Terima kasih banyak Pak, sekali lagi terima kasih banyak
Pak”
“Iya Dek, sama-sama. Kalau
gitu saya pamit dulu ya, saya mau ngantar sapi-sapi ini lagi, takut kemalaman,
kasian sapinya, hehe”.
“Iya Pak, hati-hati di
jalan Pak! Sampai ketemu lagi”
_____
“Jadi ini kawan kelen
itu? Kok baru nyampek jam segini kau Dek?”
“I..iya Pak, Ma..ma..af
Pak. Anu, saya tadi kesasar Pak, makanya saya terlamb..”
“Udah..udah. Gak usah
ko jelasin lagi, Wak ngerti kok, Bulwan dan Nindrong udah cerita sedikit banyak
tentangmu kok. Wak percaya kalok kau adalah orang yang jujur dan pekerja keras.
Jadi, selamat datang di keluarga kafe Wak Geng, semoga kita bisa bekerja sama
dengan baik. Mulai besok kau udah bisa bekerja di sini sebagai pramusaji. Wak
sebenarnya kepengen tau lebih banyak tentang kau, dan Wak juga pengen ngenalkan
kau sama pekerja Wak yang lainnya, tapi keknya lebih bagus kalok kau sekarang
naik ke atas, dan bersihkan badanmu, soalnya dari kau masuk tadi, Wak kecium
bauk taik ayam dan bauk taik lembu di kafe kita ini. Abis kau mandi, istirahat
aja kau dulu, nantik Wak suruh salah satu pekerja Wak ngantarkan makan malam
dan teh hangat ke depan pintu kamarmu. Oh iya, hampir lupa Wak, mulai detik ini
jangan panggil aku dengan sebutan Pak atau Bapak ya, panggil aja aku Wak Geng.
Gak suka aku dipanggil Bapak, macam formal kali kurasa. Jadi panggil aja aku
Wak atau Wak Geng, mengerti?”
“Ba..baik Wak, saya
mengerti. Kalau begitu saya pamit ke atas dulu ya Wak”.
“Iya iya, naeklah kau
dek. Istirahatkanlah badan kau itu, biar besok gak lesu kau kutengok. Dah,
mandi lah mandi sana!”.
_____
Tok..tok..tok..
“Permisi!”
Tok..tok..tok..tok..
“Permisi!!!”
“CEKLEK”
Terdengar suara pintu
yang terbuka. Lalu seiring dengan terbukanya pintu, tampaklah sesosok pemuda
yang bertelanjang dada dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya
“Ya, ada apa ya? Maaf
agak lama buka pintunya, tadi saya sedang... ”
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”
“Ada apa? Kenapa?”
“Han..han,,duk..itu,
han..handuk kamu melorot”
waw aseemm....
BalasHapusgahoel banget pak pol nya. Lanjutkan wak!
jgn byk kali fs nya ya.hahahha