Jumat, 18 Desember 2015

Wak Geng and The Geng 1 - Selamat Datang

Wak Geng and The Geng

Selamat Datang

“Maaf, ganggu sebentar, saya mau numpang tanya ni Bu. Kafe Wak Geng itu di mana ya? Saya sudah seharian mutar-mutar keliling kota, tapi kok gak ketemu-ketemu juga ya tempatnya. Bu. Apa Ibu tau di mana Kafe Wak Geng itu, Bu?”

“Kafe Wak Geng? Duh! Gak tau pulak Ibuk, Dek. Cak ko tanyakkan sama tukang becak di depan situ, mungkin taunya dia itu”.

“oh iya, baik Bu. Terima kasih banyak ya, Bu!”

“Sama-sama Dek”


Kuikuti saran dari Ibu tadi, dan segera aku berjalan menuju ke tempat abang tukang becak yang sedang duduk santai di atas becaknya sembari menghisap sebatang rokok


“Permisi, Bang. Maaf nih klo mengganggu.  Mau numpang tanya ni, Abang tau alamatnya Kafe Wak Geng, Bang?”

“Kafe Wak Geng? Apapulak itu? Kurang tau pulak aku dek. Mo ngapain ko ke sana dek?”

“Mau kerja bang, kemarin kan ada kawan saya yang nelepon dan nawarin saya pekerjaan di kafe itu. Berhubung saya masih pengangguran, jadi saya terima aja. Gitu Bang”

“Bah, cemananya kau ini dek? Ko terima pekerjaannya, tapi gak ko tanyak di mana alamat kafenya, ada bodok-bodoknya memang ko ni lah dek”

“Bukan gitu Bang, kawan saya kemarin udah ngasih alamat, tapi saya lupa mencatatnya, yang saya cuma ingat, kafenya itu di Jl. Bawa Perasaan Timur No. 777, Tapi saya lupa nama kotanya”.

“Oh, di sana. Tau aku itu, dulu sering maen di sana aku waktu masih lajang, sekarang aja udah gak pernah lagi. Berarti Kafe Wak Geng itu baru buka lima atau empat tahun ini dek, soalnya waktu aku lajang, gak ada kafe di situ”

“Wah, Abang tau Bang? Tolong antarkan saya ke sana sekarang Bang, ya ya ya”

“Tapi jauh kali itu dek, agak mahal lah ya kubikin ongkosnya, mau kau?”

“Gak masalah Bang, yang penting saya bisa sampai ke sana secepat mungkin. Kalau masalah ongkos, Abang ga usah khawatir, selagi masih di bawah Rp. 5.000. saya sanggup kok Bang”.

“Janganlah segitu dek, naek lah lagi ya. Rp. 85.000. lah ya, biar berangkat kita ni”.

“Buset, mahal amat Bang? Rp. 4.500 lah ya. Cuma bersisa Lima Ribu perak uang saya Bang, tolong lah Bang”

“Gak mahal itu dek, standarnya memang segitu dek, yaudah 80ribu aja lah, Abang korting goceng, biar cepat berangkat kita, Ya dek ya”

“BANGKE!!, MAHAL BANGET. JAHAT BANGET ABANG YA, APA MENTANG-MENTANG SAYA BUKAN ORANG SINI? APA MENTANG-MENTANG SAYA LAGI KESASAR LANTAS ABANG DENGAN SEENAKNYA MEMBUAT HARGA SENDIRI? SAYA INI ORANG MISKIN BANG, SAYA KE SINI UNTUK MENCARI PEKERJAAN, JADI RASANYA TIDAK ETIS KALAU ABANG MEMERAS WONG CILIK SEPERTI SAYA”

“KAULAH YANG BANGKE, MALAH KAU ITU BANGKE YANG SEBANGKE-BANGKENYA BANGKE, INI BUKAN MASALAH ETIS ATAU TIDAK, TAPI MEMANG BIASANYA HARGANYA SEGITU, BODOK! ALAMAT YANG KAU CARI ITU ADANYA DI MEDAN, KAU SEKARANG ADA DI SIANTAR, JAUH KALI KAU KESASARNYA. SEHARUSNYA AKU YANG MARAH, KENAPA KAU PULAK YANG MARAH DULUAN? UDAH CEPAT PIGI KAU DARI SINI, SEBELUM KUPIJAK BATANG LEHER KAU, MENDIDIH DARAHKU KAU BUAT, GERAM AKU BAH. PIGI KAU, PIGI SEBELUM KUCAMPAKKAN BECAK INI KE MUKAK KAU”.

“Ehehe, jadi saya kesasar ya Bang? Anu, kalo gitu saya minta maaf ya, sekalian kalo ada saya mau minta rokok abang sebat...”

“PIGI KAUUUUUU!!!!”

_____


“Mananya kawan kelen itu, Bul, Ndrong? kok gak datang-datang dia udah jam segini. Apa mungkin gak niat kerja di sini dia?”

“Sabar wak Geng, datangnya dia tu bentar lagi. Memang kek gitu dia tu”

“Memang kek gitu? Maksudmu Bul?”

“Iya, anak itu memang sering nyasar Wak. Agak susah dia kalo disuruh ngingat alamat. Dulu aja waktu masih kuliah, dia itu sering salah kampus, dan kalo pulang dia juga sering nyasar ke kos-kosan orang lain, malah yang lebih parah, pas waktu wisuda dia kesasar ke acara wisudanya anak TK”

“Betul tu wak, anak itu dari dulu memang ngerepotin kami berdua aja. Sejak peristiwa itu, gak ilang-ilang penyakit kesasarnya itu wak. Sabar aja lah wak, mungkin bentar lagi dia nyampek, yakin ajalah sama kata-kataku dan Bulwan wak”.

“Oke, kalok memang kalian ngomong gitu, wak akan coba yakin. Tapi kalo sampek besok pagi dia ga datang jugak, Berarti anak itu memang gak niat kerja di sini, dan Wak akan isi posisi yang akan kawan kelen tempati itu dengan orang lain. Yaudah, lanjutkan beres-beresnya lagi, udah hampir sore nih, bentar lagi kafe kita akan bukak. Kita harus siap-siap. Jangan lupa ingatkan Dwi, Putri, Molin, dan Ayu untuk mengerjakan tugas mereka masing-masing ya Bul, karena kau itu asisten uwak di kafe ini, mengerti?”

“Oke Wak Geng, siap laksanakan! Hahaha, amaaaan!”.


_____


“Bang, mau ke Medan ya, saya boleh ikut menampung?”

“Menampung? Maksudmu menumpang? Enggak dek, kami mau ke Tebing Tinggi. Sepertinya adek gak bisa kami kasih tumpangan, soalnya di depan udah ada saya dan teman saya ini, Masih ada sih tempat kosong di gerobak belakang, tapi bau loh dek, karena barusan kami mengantar ayam potong dari Tebing Tinggi ke Siantar. Lagian saya juga takut kalau nanti di tengah jalan ada razia, kan gak boleh bawa penumpang manusia di mobil bak terbuka seperti ini”.

“Gak apa-apa itu Bang, Saya bisa tahan baunya kok. Ntar kalo emang ada razia, saya akan pura-pura jadi ayam, saya akan menirukan suara ayam. Abang tutupi aja gerobak belakang dengan terpal. Tolong lah Bang, saya udah gak punya uang lagi untuk ongkos ke Medan, Bang. Saya Mohon!!”

“i..i..ya deh iya. Yaudah naiklah dek, biar berangkat kita”

“Asek, Terima kasih banyak ya Bang”


_____


 “Selamat Siang Pak, Maaf mengganggu perjalanan Anda sebentar, bisa tolong tunjukkan SIM dan surat-surat kelengkapan kendaraan Anda?”

“Oh iya Pak, ini, silahkan diperiksa”.

“Oke, Lengkap. Emm..apa yang sedang Bapak bawa ini? Mengapa ditutupi terpal seperti ini?”

“O..oh i..i..ini Pak, saya sedang membawa ayam Pak”

“Oh begitu, kalau begitu bisa saya lihat isi di dalam terpal ini Pak?”

“Ja..ja..jangan Pak, ini Ayamnya sensitif Pak, gak bisa terkena sinar matahari, apalagi sinar matahari di iklim tropis seperti Indonesia ini Pak. Tolong jangan Pak, kasian Ayamnya, bisa gosong nanti kulitnya Pak. Ayam ini masih keturunan dari Ayamnya para bangsawan di zaman Mesir kuno Pak, jadi ini ayam langka Pak, Cuma ada satu-satunya di Indonesia Pak, Tolong Pak, jangan sakiti ayam ini Pak, sudah terlalu banyak penderitaan yang dia alami Pak, Dia Ayam yatim piatu Pak, Ayahnya tewas terpanggang oven, Ibunya tewas setelah disembelih dan dikuliti oleh tukang ayam, dan saudara-saudaranya, saudara-saudaranya harus tewas bahkan sebelum mereka menetas ke dunia ini Pak, tolong Pak, jangan sakiti ayam ini Pak, saya mohon!”.

“Njirr..Coeg sekali nasib ayam ini, semoga arwah keluarga ayam ini tenang di alam sana, Syedih saya mendengarnya. Yaudah hati-hati ya Pak supir, pelan-pelan bawa mobilnya, biar ayamnya juga nyaman di belakang. Sampaikan salam saya pada si ayam malang ini ya Pak supir”

“Baik Pak, Terima kasih banyak Pak, selamat bertugas kembali Pak Pol”


_____


“Dek..dek..udah sampai nih kita di Tebing Tinggi, kami tidak bisa mengantar adek lebih jauh lagi. Nanti adek cari tumpangan yang lain aja ya. Banyak kok kendaraan lain yang menuju ke Medan. Ini ada sedikit gorengan untuk adek, lumayanlah buat mengganjal lapar di perjalanan nanti. Kebetulan tadi saya nemu gorengan ini di dashboard mobil, tenang aja, masih bisa dimakan kok, saya yakin ini belum ekspayet, wong baru dibeli seminggu yang lalu kok. Maaf ya gak bisa bantu adek lebih banyak”

“Waduh, yang harusnya minta maaf itu ya saya Bang, Abang udah baik sekali memberikan saya tumpangan. Ngasih saya gorengan sisa minggu kemarin, dan udah ngelindungi saya waktu razia tadi. Sekali lagi saya mohon maaf udah ngerepotin Abang ya, dan terima kasih banyak untuk semuanya. Saya pamit dulu ya Bang, saya mau nyari mobil lain yang menuju ke Medan. Saya buru-buru nih, soalnya saya takut lowongan saya nanti bakalan diisi orang lain. Terima kasih banyak Bang, sampai jumpa”

“Sampai jumpa dek, hati-hati ya”.


_____


“Bau apa ini? Bau ini sepertinya tidak asing di hidungku, aku yakin aku pernah mencium bau ini sebelumnya, tapi apa? Dan di mana? Entahlah, aku sedang enggan untuk berfikir terlalu jauh. Lalu apa ini? Pipiku terasa hangat dan basah. Mataku terlalu berat untuk bisa kubuka, akh, sensasi apa ini? Lagi-lagi benda hangat dan basah itu menyentuh pipi kananku, telinga kananku, dan juga sebagian rambutku. Aku akan berusaha membuka mataku lagi, kelopak mataku masih terasa sangat berat untuk kuangkat. Ahh, biarlah, biarlah kubiarkan kedua mataku kembali terpejam. Mungkin aku terlalu lelah, aku harus mengizinkan tubuhku untuk beristirahat sejenak, mungkin tubuh ini terlalu lelah karena sudah kugunakan sejak tadi pagi berkeliling mencari alamat yang diberikan oleh Bulwan. Berjalan ke sana ke mari mencari Kafe Wak Geng, tersasar ke kota Siantar, menumpang di mobil bak terbuka yang baru selesai mengangkut ayam hingga ke Tebing Tinggi. Menumpang lagi di truk yang berisi Sapi hingga ke kota Medan. Sungguh perjalanan yang melelahkan. Semua ini demi mendapatkan pekerjaan. Semua ini demi sesuap nasi. Ahh, hidup ini tak semudah membalikkan telapak tangan ternyata. Tapi tunggu, Menumpang di truk sapi? Sesuatu yang hangat dan basah? Dan bau yang tidak asing? Jangan-jangan....”

“HUAAAAAAA!!!!”


Sapi yang terkejut juga berteriak tak kalah keras..


“MOOOOOOOO!!!”


Sementara itu di luar truk


“Suara apa itu Pak Supir? Kok sapi yang Bapak bawa suaranya aneh?”

“Anu, itu suara salah satu sapi yang saya bawa Pak. Kata dokter dia menderita sindrom HULKSAPITERIAKTERIAKISME, jadi sapi yang saya bawa itu terkadang merasa bahwa dia adalah Hulk, sehingga sapi tersebut sering berteriak-teriak apabila dia merasa tidak nyaman atau marah. Karena Bapak memberhentikan saya, mungkin sapi itu merasa gerah dan kepanasan di dalam sehingga dia merasa tidak nyaman dan marah, gitu Pak”

“Oh begitu, kalau begitu saya pengen liat gimana sih bentuk sapinya itu, saya akan masuk ke dalam”

“Jangaaaaaan pak, jangaan..Nanti sapinya ngamuk bahaya Pak, bahaya. Bapak pernah liat pelem Hulk? Yang dia ngamuk? Yang ngerusak kota? Bapak mau kota kita ancur gara-gara Sapi Hulk ini? Bapak mau disalahin karena jadi penyebab hancurnya kota? Mau Bapak? Mau?”

“Asem..Serem banget Coeg. Ga jadi ah. Udah jalan gih sono Pak. Pelan-pelan ya, jangan sampai bikin sapinya ga nyaman, dan kalo dia udah nyaman juga jangan ditinggalin gitu aja, karena saya juga pernah nyaman sama seseorang, tapi tiba-tiba ditinggalin, itu rasanya sakit Pak, sakiiitt”

“Eh..iya..anu..Sebenarnya saya masih pengen dengerin curhatan Pak Pol, tapi saya jalan dulu ya Pak, soalnya perjalanan saya masih jauh. Selamat bertugas Pak”

“Yoo..Hati-hati yaaa, jangan lupa pasang Set Beltnya dan patuhi rambu-rambu lalu lintas”


Kembali ke dalam gerobak...


“Fiuuh..Gara-gara jilatan sapi Amsyong ini, hampir aja ketahuan kalau aku lagi ada di dalam, Syukurlah Pak Supir berhasil mencegah Pak Pol masuk ke sini, Kalau tidak, Pak supir bisa ditilang dan aku harus mencari kendaraan lain yang bisa kutumpangi gratis untuk bisa sampai ke Medan. Nasib baik masih berpihak kepadaku ternyata”.


_____



“Sudah jam 8 malam nih Bul, kok kawan kelen itu belum datang juga ya? Apa memang dia gak niat kerja di sini?”.

“Mungkinlah Wak, Tapi kita coba tunggu aja lah sampai Besok Wak, kalo memang dia gak datang berarti memang udah jelas gak mau kerja di sini dia Wak”.

“Loh, truk siapa itu berhenti di depan kafe? Loh..loh..loh, kok di dalam truk ada sapi? Emang Wak Geng mau Qurban ya? Kan Idul Adha masih jauh Wak, kok cepat amat beliknya Wak?”
.
“Entah, Wak juga gak tau Bul. Coba kau tanyakkan dulu sama supirnya, ngapain dia parkir di situ. Kalok memang gak penting-penting kali, kau suruh aja dia maju lagi, biar parkirnya agak ke depan sikit, jangan di situlah, bauk nantik kafe kita, gak ada yang mau datang ke sini”.

“Oke Wak, Siap Laksanakan!”


Bulwan bergegas keluar dari kafe dan berjalan menghampiri sang supir truk yang sudah turun dari truknya dan kini berada di belakang truk


“Maaf Bang, ada perlu apa ya kok Abang memarkirkan truk Abang di sini? Bukan bermaksud kurang ajar ya Bang, tapi kalau bisa tolong truk Abang majuin dikit Bang, Abang parkir truknya di depan sana aja. Ini kan kafe Bang, takutnya ntar orang-orang gak mau masuk ke sini karena terganggu dengan bau truk Abang”

“Oh, iya Mas. Maaf ya, saya Cuma sebentar aja kok parkir di sini. Saya mau nurunkan penumpang Mas,  Katanya dia adalah calon pekerja di kafe ini Mas, tapi dia nyasar, dan tadi saya dan dia ketemu di Tebing Tinggi. Karena dia gak punya uang lagi dan saya juga kasian sama dia. Yaudah deh saya naikin aja dia ke truk saya. Sebentar biar saya panggilkan dia. Dek!, Dek!, kita udah sampai nih. Ayo buruan turun. Saya juga mau langsung ngantar sapinya nih. Ayo Dek, cepat!”


Lalu tiba-tiba sesosok pemuda berlari dan melompat dari dalam truk, lompatannya cukup tinggi hingga melewati Bulwan dan Pak Supir yang berada tepat di belakang truk.


“Alhamdulillah, akhirnya nyampek juga. Eh, Bulwan? Ngapain di sini? Katanya udah jadi asisten di Kafe Wak Geng, kok malah keluyuran gak jelas di luar gini? Nanti dimarahin bos loh, sana-sana masuk sana, kerja-kerja”

“Berisik! Aku tuh keluar bukan keluyuran, tapi disuruh Wak Geng karena truk ini parkir di sini, Aku pikir isi truknya cuma sapi doang, eh ternyata di dalamnya juga ada Raja Kerbo”

“Sembarangan aja kalo ngomong, aku tuh bukan raja kerbo, tapi putra mahkotanya. Oh iya, Terima kasih ya Pak Supir, Bapak udah memperbolehkan saya menumpang dan malah mengantarkan saya sampai ke tempat. Terima kasih banyak Pak, sekali lagi terima kasih banyak Pak”

“Iya Dek, sama-sama. Kalau gitu saya pamit dulu ya, saya mau ngantar sapi-sapi ini lagi, takut kemalaman, kasian sapinya, hehe”.

“Iya Pak, hati-hati di jalan Pak! Sampai ketemu lagi”


_____


“Jadi ini kawan kelen itu? Kok baru nyampek jam segini kau Dek?”

“I..iya Pak, Ma..ma..af Pak. Anu, saya tadi kesasar Pak, makanya saya terlamb..”

“Udah..udah. Gak usah ko jelasin lagi, Wak ngerti kok, Bulwan dan Nindrong udah cerita sedikit banyak tentangmu kok. Wak percaya kalok kau adalah orang yang jujur dan pekerja keras. Jadi, selamat datang di keluarga kafe Wak Geng, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Mulai besok kau udah bisa bekerja di sini sebagai pramusaji. Wak sebenarnya kepengen tau lebih banyak tentang kau, dan Wak juga pengen ngenalkan kau sama pekerja Wak yang lainnya, tapi keknya lebih bagus kalok kau sekarang naik ke atas, dan bersihkan badanmu, soalnya dari kau masuk tadi, Wak kecium bauk taik ayam dan bauk taik lembu di kafe kita ini. Abis kau mandi, istirahat aja kau dulu, nantik Wak suruh salah satu pekerja Wak ngantarkan makan malam dan teh hangat ke depan pintu kamarmu. Oh iya, hampir lupa Wak, mulai detik ini jangan panggil aku dengan sebutan Pak atau Bapak ya, panggil aja aku Wak Geng. Gak suka aku dipanggil Bapak, macam formal kali kurasa. Jadi panggil aja aku Wak atau Wak Geng, mengerti?”

“Ba..baik Wak, saya mengerti. Kalau begitu saya pamit ke atas dulu ya Wak”.

“Iya iya, naeklah kau dek. Istirahatkanlah badan kau itu, biar besok gak lesu kau kutengok. Dah, mandi lah mandi sana!”.


_____


Tok..tok..tok..


“Permisi!”


Tok..tok..tok..tok..


“Permisi!!!”


“CEKLEK”

Terdengar suara pintu yang terbuka. Lalu seiring dengan terbukanya pintu, tampaklah sesosok pemuda yang bertelanjang dada dengan handuk yang masih terlilit di pinggangnya

“Ya, ada apa ya? Maaf agak lama buka pintunya, tadi saya sedang... ”

“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!”

“Ada apa? Kenapa?”


“Han..han,,duk..itu, han..handuk kamu melorot”

1 komentar:

  1. waw aseemm....
    gahoel banget pak pol nya. Lanjutkan wak!
    jgn byk kali fs nya ya.hahahha

    BalasHapus