Senin, 07 April 2014

Mas Boy Before Mblewe Part VI

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan laut dengan berenang. F4 plus Romlah dan Monik akhirnya sampai juga di pulau tersebut. Merekapun segera mencari penginapan terdekat dan melepaskan rasa lelah mereka dengan beristirahat di penginapan tersebut selama beberapa jam.

Setelah tenaga mereka kembali terisi, F4 plus Romlah dan Monik kemudian pergi ke pantai.dan menikmati pemandangan di sana. Saat tengah asik berjalan menikmati pemandangan, Jambang berinisiatif mengajak Bulqha, Maknang dan Monik untuk pergi ke tempat lain dan memberikan kesempatan pada Lisgon dan Romlah untuk berduaan..

Namun hal tersebut kemudian dilarang oleh ustad Feri Daulay yang entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul dan mencegah Jambang, Bulqha, Maknang, dan Monik untuk meninggalkan Lisgon dan Romlah hanya berduaan saja. Akan tetapi keempat orang tersebut tidak mempedulikan himbauan ustad Fery Daulay dan berdalih kalau mereka memang harus pergi bukan hanya karena ingin membiarkan Romlah dan Lisgon berduaan, tetapi juga karena mereka melihat ada layangan yang putus dan mereka berencana mengejarnya. Ustad Fery tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah mereka, ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil mengelus janggutnya yang sebenarnya tidak ada. Karena ia tahu betapa bahayanya jika ada seorang laki-laki dan perempuan berduaan di tempat sepi, maka iapun memutuskan untuk menemani dan sekaligus mengawasi Lisgon dan Romlah..

Lisgon dan Romlah yang sudah menyadari kalau mereka memang sengaja ditinggalkan oleh teman-teman mereka agar bisa berduaan kemudian merasa canggung. Mereka menjadi kikuk untuk membuka pembicaraan. lebih dari 10 menit mereka hanya berjalan dalam keheningan tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka. Sadar kalau situasi seperti ini sangat membosankan, Lisgonpun berinisiatif untuk memulai pembicaraan. Ia berencana mengagetkan gadis yang dicintainya tersebut dengan mengatakan..

"Romlah, liat tuh di dekat kakimu ada neneknya kecoak lagi main petak umpet"
"KYAAA!! MANA? MANA? Iih Geli..Gelii..Mana Nenek Kecoaknya? Kok Gak ada?" Ujar Romlah..
"Memang gak ada, aku cuma ngerjain kamu aja. Hahaha".

Kemudian sambil tertawa karena siasatnya berhasil, Lisgon berlari ke arah air. Romlah yang tidak mau kalah dengan wajah serius mengatakan kalau ada ikan lele tak berkumis di kaki Lisgon. Reaksi pria itu ternyata tidak kalah seru, ia langsung melompat dan berlari menjauh sambil berteriak histeris.

"HWAAAAA!!!! MANA? MANA? MANA DIA? MANA LELE TAK BERKUMIS ITU? MANA? tapi, hei. mana ada ikan lele di air asin. Grrr. Kamu ngerjain aku ya?"
"Hahaha, satu sama. week" Jawab Romlah sambil mengejek Lisgon
"Awas kamu ya, rasakan ini.." ujar Lisgon sambil menyiram Romlah dengan air laut..

Romlah berhasil menghindar dan tidak terkena cipratan air laut yang disiramkan oleh Lisgon. Namun tak disangka air tersebut malah membasahi ustad Fery yang ternyata sejak tadi sudah ada di belakang Romlah mengawasi mereka berdua.

"Grr..AWAS KAMU YA LISGON!"

Ustad Fery Daulay kemudian berlari ke arah air dan balas menyiram Lisgon, ternyata Lisgon menikmati hal tersebut dan balas menyiram ustad Fery Daulay kembali. Ustad Fery  Daulay juga tak mau kalah dan menyerang Lisgon lagi. akhirnya mereka berdua saling siram-siraman satu sama lain. Tinggallah Romlah yang terduduk sendiri di pinggir pantai sembari menatap pria-pria tersebut bermain air..

"INI YANG PACARAN SIAPA SIH? NGAPA MEREKA YANG JADI SIRAM-SIRAMAN AIR COBA? LAH, TERUS GUNANYA AKU DI SINI APA? JADI WASIT? AAARRGGHH!!" Omel Ramlah..

Setelah puas bermain air, keduanya pun kembali ke penginapan untuk mengganti pakaian mereka yang basah dan beristirahat sejenak menunggu sore hari untuk melihat matahari terbenam. Sementara ustad Fery kembali menghilang tak tahu ke mana..

Sore itu, Bulqha, Jambang, Maknang, Romlah, dan Monik telah berkumpul kembali di tepi pantai sembari menunggu saat-saat di mana matahari terbenam. Lisgon tak ikut karena tadi ia kecapean bermain air bersama ustad Fery Daulay. Saat menunggu metahari tenggelam, Romlah dan Monik berinisiatif mencari Bulu Babi di sepanjang bibir pantai. Namun naas, Romlah tanpa sengaja menginjak duri Bulu Babi. Romlah kemudian mengalami kram pada kakinya dan mulai tenggelam. Kejadian itu nyaris saja lepas dari pengamatan semua orang kalau saja Monik tidak menyadari ada sesuatu yang salah..

"Romlah tadi mana yak? kok ga keliatan? atau jangan-jangan ia ketiduran di dalam air?" ucap Monik sembari mencari Romlah..

"Nah! benarkan. Romlah ketiduran. Romlah!! Oi Romlah!! Bangun! Malah tidur di situ. Pindah sana ke kamar, jangan di sini. Di sini banyak saudaranya squidward loh. Yok pindah yok ke penginapan" ujar Monik pada Romlah..

"Lah, kok bisa pulas amat yak tidurnya, bahaya nih. Bisa tenggelam nih si Romlah. Duh, gimana yak? Mau nolong takut baju basah. minta tolong aja ah. TOLONG!!.. TOLONG!!..TOLONG!! JAMBANG!! BULQHA!! MAKNANG!! ROMLAH KETIDURAN NIH DI DALAM AIR!! TOLONG!!" Teriak Monik dengan muka yang tidak ada panik-paniknya.

Mendengar nama Romlah, Lisgon langsung terbangun dari tidurnya. Ia pun berlari ke arah tempat asal suara, namun sayang, saat berusaha menyelamatkan sang kekasih, Lisgon teringat trauma masa lalu akan Bulu Babi sehingga tidak mampu bergerak dan menolong Romlah. Satu-satunya harapan adalah Maknang, yang langsung berenang secepat kilat dan menyelamatkan Bulu Babi yang terkumpul di ember yang Ramlah pegang. Kondisi Bulu Babi itu pun sudah kritis dan tak sadarkan diri karena terlihat tidak bergerak sama sekali.

"Loh, Kok Bulu Babinya yang diselamatin sih, Maknang? Noh, itu noh si Romlah yang seharusnya diselamatin, gimana sih? Bisa-bisa dia mati tenggelam loh" teriak Monik dengan muka yang masih sama, tidak ada panik-paniknya.
"Eh? Salah ya? Maaf deh, abis mereka mirip sih"

Maknangpun kembali berenang dan menyelamatkan Romlah. Melihat kejadian itu, Lisgon hanya bisa marah pada para Bulu Babi. 

"Memang dasar kau Bulu Babi, masih bulunya aja udah ngerepotin, apalagi Babinya. Grr..." Teriak Lisgon, kesal..

Lisgonpun tidak merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan Romlah. bahkan ia bersikap biasa-biasa aja..

#BLETAK!! Penulis kemudian menimpuk kepala Lisgon..
"Harusnya kamu di sini merasa bersalah, malah tenang-tenang aja. gimana sih?"
"Maaf pak. saya tadi gak baca script dan gak ikut briefing. maaf pak maaf" ujar Lisgon.

Speechless..


#Ngemeng-ngemeng. Maaf ya, penulis baru bisa hadir di bagian ini. Tadi penulis ngantar ustad Fery Daulay kembali ke rumahnya. Bahaya kalo dia kelamaan hadir di cerita ini, bisa berubah drastis nanti jalan ceritanya jadi mirip Ayat-Ayat Cinta. Meskipun penulis ngepens sama novel itu, tapi kan cerita ini kan genrenya berbeda. hehe..


Lisgonpun merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan Romlah. Setelah berhasil dibawa ke pinggir pantai oleh Maknang, Romlah yang tak sadarkan diri kemudian dibawa ke penginapan agar dapat diobati oleh seorang dokter setempat bernama dokter PACAI yang sebelumnya telah dihubungi oleh pemilik penginapan.

#Tidak ada adegan bantuan pernapasan dalam cerita ini, tak baik, buahaya. HARAM!!


Pada malam harinya, kondisi Romlah berangsur-angsur membaik dan pulih. Romlah kembali sadar dan juga mulai berusaha mengingat apa yang telah terjadi padanya. Namun dokter Pacai melarangnya dan memintanya untuk beristirahat terlebih dahulu. Setelah mendengar kabar telah siumannya Romlah dari pemilik penginapan, F4 pun beranjak dari kamar mereka masing-masing dan pergi menuju kamar Romlah dan Monik. Kemudian mereka masuk ke dalam kamar untuk melihat kondisi Romlah. namun tak lama kemudian dokter pacai meminta kepada semua orang untuk meninggalkan Romlah dan Monik berdua di kamarnya agar Romlah bisa beristirahat dan memulihkan tenaga. Lisgonpun bertanya pada dokter Pacai..

"Dokter, sebenarnya obat apa yang anda berikan pada pacar saya sehingga dia bisa sadar secepat ini, dok?" tanya Lisgon penasaran..

"Sederhana saja, saya hanya memasukkan beberapa helai tisu ke dalam mulutnya dan berusaha membuatnya menelan tisu-tisu tersebut agar air di dalam lambungnya dapat diserap oleh tisu dan cepat kering. Kemudian saya meminumkan obat cacing supaya cacing-cacing dalam perut Romlah juga bisa selamat. Dan yang terakhir, saya juga menyuntikkan obat anti tetanus, supaya ia tidak terkena penyakit tetanus. sebab ia tadi telah tertusuk bukan? saya tak mau pasien saya kenapa-kenapa. itu saja"

#Obat Cacing = Obat untuk mengobati Cacing. Penulis benar kan?

"WAH. DOKTER HEBAT!! HEBAT!! HEBAT!! MARVELOUS!!"

Seluruh anggota F4 kagum dan TERKUPAU (sangking terpukaunya) melihat langkah JENIUS yang diambil oleh sang dokter. Dengan kompak mereka kemudian memberikan Standing Applause kepada sang dewa penyelamat. Prok..Prok..prok..prok..prok..

"Ngomong-ngomong dulu dokter kuliah di mana dok? kok bisa hebat gini?" tanya Jambang penasaran..

"Saya dulu 7 tahun di Amsterdam, Belanda. Saya dulu kuliah di salah satu perguruan tinggi paling tidak terkenal di sana dan mengambil kedokteran" jawab dokter Pacai
"Spesialisasi kedokterannya apa dok?" lanjut Jambang
"KEDOKTERAN MESIN" jawab dokter Pacai lagi..
"WAH, HEBAT!! HEBAT!! HEBAT!!" F4 kembali bertepuuk tangan dan memuji dokter pacai..
"Wah..wah..Sudah-sudah, itu terlalu berlebihan. Saya bukan apa=apa kok tanpa kalian. KALIAN LUAR BIASA!!!"..


#Sayup-sayup terdengar lagu Separuh Akunya Noah..

Pada tengah malam, diam-diam Lisgon menyelinap ke kamar Romlah. Ternyata Romlah dan Monik sudah tidur, dan betapa beruntungnya Lisgon, ternyata Monik tidur di kolong tempat tidur sehingga ia tidak perlu kawatir akan membangunkan Monik dan membuatnya kaget. Lisgon kemudian mengalungkan gelang di pergelangan kaki Romlah. Namun tiba-tiba Romlah tersadar dan betapa terkejutnya ia melihat Lisgon sedang berada di dekatnya. Sebelum Romlah sempat berteriak, Lisgon menutup mulut Romlah dengan jempolnya. lebih tepatnya lagi dengan Jempol kakinya

(Karena saat itu kedua tangannya sedang digunakan untuk memasangkan kalung ke kaki Romlah)

"Ssssstttt...Jangan Berisik. Oya, aku sengaja memasangkan kalung ini ke kamu agar kamu terus ingat sama aku. Jangan sampai terlepas dan jangan sampai hilang ya. Awas aja kalo hilang, Aku minta ganti. Aku belinya mahal nih, Udah gak dapat lagi tiga ribu sekarang.di mall, tapi kalo nyarinya di pasar, mungkin masih dapatlah dengan harga segitu". Dengan nada mengancam Lisgon mengatakan hal tersebut pada Romlah Setelah memasangkan kalung pada kaki Romlah, Lisgonpun kembali ke kamarnya..

Pagi harinya, Romlah merasa sudah fit dan memberanikan diri untuk berjalan sendirian ke arah pantai, ternyata ia bertemu dengan Maknang yang sedang berburu ubur-ubur di sana. Mereka pun ngebrel-ngebrel sebentar. Tak lama setelah itu, Romlah memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk sarapan. Saat kembali Romlah berpapasan Lisgon. Lisgonpun melihat ke arah kaki Romlah dan menemukan bahwa gelang pemberiannya tak lagi ada di kaki Romlah. Dengan penuh perasaan bersalah, Romlah meminta maaf pada Lisgon. Ia tidak sadar kalau gelang kaki pemberian pria itu terlepas dari kakinya. Tak lama berselang, Maknang pun datang dengan memakai gelang pemberian Lisgon di lehernya. Melihat kalung kaki Romlah yang hilang berada di leher Maknang, Lisgonpun Emosi, namun ia berusaha menenangkan diri. Kemudian Maknang menyerahkan sendiri gelang tersebut pada Romlah dan mengatakan bahwa ia menemukan benda itu terjatuh di tempat ia dan Romlah tadi ngebrel-ngebrel. 

Lisgon terus menerus kepikiran akan kejadian tersebut dan merasa sangat cemburu bila ia kembali mengingatnya. Namun belakangan Lisgonpun mulai tenang setelah berfikir bahwa tidak mungkin Maknang berbohong padanya. Sebab Maknang adalah sahabatnya sejak kecil. Setelah makan siang, Lisgon mengajak Romlah terbang menaiki helikopter milik keluarganya yang barusan ia beli di toko bangunan terdekat. Saat sedang terbang di atas, ia menunjukkan kepada Romlah sebuah bidang tanah berbentuk hati. Lisgon mengatakan sebidang tanah tersebut, meskipun belum lunas, adalah milik keluarganya dan itu hanya ditunjukkan pada gadis yang ia cintai, Lisgon tidak sadar kalau wajah Romlah bukannya senang setelah diberitahu hal tersebut, malah terlihat semakin resah seperti sedang memikirkan sesuatu..

Dari Jambang dan Bulqha, akhirnya Romlah tahu mengapa sikap Maknang berubah drastis. Ternyata wanita yang dicintainya, yakni Hera Somplak, telah bertunangan dengan pria kaya-raya asal Suriname. Somplak tega mengacuhkan Maknang yang telah menunggu dirinya sekian lama, Romlah sangat terpukul mendengar apa yang dikatakan Jambang dan Bulqha. Romlah kemudian berlari ke arah pantai, tempat di mana Maknang yang sedang memberi makan sepupu-sepupunya tuan Krab berada. Dengan mata yang berkaca-kaca, Romlah berusaha menghibur Maknang yang wajahnya tetap tenang. Karena terbawa suasana, Maknangpun kemudian mencium sepupunya tuan Krab..

#MAKJEGER! tiba-tiba Sihir The Flying Dutchman mengingatkan penulis bahwa untuk kesekian kalinya cerita ini telah lari dari benang merahnya..

Karena terbawa suasana, Maknangpun kemudian mencium Romlah. Apes bagi mereka, Lisgon melihat semuanya. Dengan marah, Lisgonpun kemudian memukul salah satu dari sepupunya tuan Krab..

#Eh?

Dengan marah, Lisgonpun kemudian memukul Romlah..

#Bah, bisa-bisa penulis kena protes nih sama aktivis pemerhati perempuan..

okelah, kita ulangi lagi..

Dengan marah, Lisgonpun kemudian memukul wajah Maknang sehingga pipi Maknang terlihat bengkak. Sejak kejadian itu, Lisgon menjadi pemurung dan memutuskan untuk mempercepat dan mengakhiri liburan mereka kali ini dan kembali pulang ke Indonesia..

Setelah kembali dari liburan, Romlah kembali teringat akan sejumlah kejadian yang telah dilaluinya bersama Lisgon, dan ia hanya bisa meminta maaf dalam hati. Ketika bertemu dnngan Maknang pada keesokan harinya, Romlah juga meminta maaf pada pria tersebut atas semua yang telah terjadi. Begitu pula dengan Maknang, yang sadar kalau tindakannya telah menyakiti Romlah dan Lisgon..

Begitu jam makan siang dimulai, Lisgon mengumpulkan seluruh siswa sekolah dan menyampaikan pengumuman penting : Maknang dikeluarkan sebagai anggota F4 dan bersamaan dengan Romlah, Maknang juga akan dikeluarkan dari sekolah dalam kurun waktu seminggu. Maknang dan Romlah yang kaget mendengar pengumuman itu..

"Eh Ayam..ayam..ayam"

Berjanji akan menyelesaikan semua masalah yang ada di antara mereka dan menjelaskan semuanya pada Lisgon. Namun ketika akan pergi ke ruangan milik F4, Maknang berpapasan dengan Bulqha, yang kemudian menegurnya karena telah berusaha merebut Romlah dari Lisgon. jambang yang saat itu sedang berada di ruangan milik F4 bersama dengan Lisgon, juga berusaha menenangkan Lisgon agar ia memikirkan kembali keputusannya mengingat Maknang adalah salah satu sahabat mereka. Namun Jambang malah balik diancam akan mengalami nasib yang sama seperti Maknang jika ia berusaha menghalanginya....



Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar